IPM Mimika Urutan Dua di Papua

Bagikan Bagikan
Yunus Wakum Kepala Badan Statistik Mimika

SAPA (TIMIKA) - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mimika Yunus Wakum,SE mengatakan, BPS Mimika belum pernah mengeluarkan data secara resmi ke publik tentang  Mimika sebagai daerah termiskin karena harus melalui survei.

Dilihat dari indikator lain, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Mimika justru berada di posisi kedua dengan nilai 71 setelah Kota Jayapurah dengan nilai 78 dan Biak nilai 70. Dimana IPM diukur dari tingkat pendidikan, kesehatan dan ekonomi.

Suatu daerah dikatakan miskin apabila kebutuhan sehari-hari terutama makanan dari 52 komoditi yang dihitung berada dibawa 2100 kilo kalori sehari. Tetapi jika berada di 2100 kilo kalori sehari maka berada pada level standar.

"BPS belum pernah merilis data kemiskinan secara resmi. Karena kategori kemiskinan kita lihat dari garis kemiskinan apabila kita berada dibawa garis kemiskinan maka kita bisa dikatakan miskin. Kategori miskin misalnya sehari kebutuhan makan seseorang capai 2100 kilokalori. Jika  berada di 2100  kilokalori maka berada distandar yang baik atau standar minimal dari 52 komoditi yang dikonsumsi," ujar Yunus kepada Salam Papua di Hotel Horison Ultima Timika, Kamis (7/12).

Yunus mengatakan, indikator yang lain seperti pendidikan dan kesehatan juga dapat mempengaruhi kemiskinan, tetapi yang paling dominan adalah kebutuhan sehari-hari seperti makanan dan non makanan. Salah satu indikator sosial juga bisa memberikan gambaran dan dampak bagi suatu daerah untuk bagaimana pemerintah mengambil langkah sebab kebutuhan dasar manusia adalah makanan, kesehatan dan pendidikan.

Untuk menggambarkan suatu daerah miskin atau tidak maka perlu ada data survei kemiskinan secara makro maupun mikro melalui Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas).  Yang kemudian muncul dalam presentase serta menggambarkan secara umum, mengenai kondisi suatu daerah untuk dibandingkan dengan daerah lain.

"Sebab daerah lain juga menggunakan metode dan cara yang sama untuk dibandingkan setelah itu kita buat klasifikasi kategori miskin," katanya.

Sementara itu untuk mendapatkan data secara mikro maka disasar rumah tanggah untuk mengetahui berapa orang yang dianggap miskin lalu didata mengenai tingkat, pendidikan, kemudian kebutuham sehari-hari serta kesehatan. (Albin)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment