Renungan Jum'at: Nikmat Terbesar Itu Adalah Iman

Bagikan Bagikan
Al Qu'an

BERTAKWALAH kepada Allah. Takwa dalam arti taat kepada Allah sesuai dengan petunjuk dari Allah disertai rasa harap pahala dari-Nya. Dan meninggalkan maksiat yang dijelaskan oleh Allah disertai rasa takut akan adzab-Nya.

Sesungguhnya kenikmatan terbesar dan anugerah ilahi yang paling utama adalah keimanan. Allah berfirman, “Tetapi Allah menjadikan kamu “cinta” kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” [Quran Al-Hujurat: 7-8].

Dan firman-Nya,  “Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka.” Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar”.” [Quran Al-Hujurat: 17].

Keimanan itu agung dan mulia. Ia adalah tujuan tertinggi dan puncak cita-cita. Keimanan merupakan tujuan Allah menciptakan hamba-hamba-Nya. Mengadakan mereka setelah sebelumnya tidak ada. Tujuannya adalah merealisasikan keimanan. Dengan keimanan terwujudlah kebahagiaan seseorang di dunia dan akhirat. Dengan keimanan, seseorang menjadi tentang, kokoh jiwanya, dan tentram hatinya. Allah berfirman, (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” [Quran Ar-Ra’du: 28].

Dan firman-Nya: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [Quran An-Nahl: 97].

Dengan keimanan, seseorang akan berhasil mendapatkan ridha dan cinta Allah. Dengan iman pula seseorang berhasil selamat dari murka Allah Yang Maha Perkasa, yaitu selamat dari neraka. Dengan keimanan seorang mukmin akan memetik hasil yang besar di hari kiamat kelak. Ia akan mendapatkan anugerah dan pemberian terbesar di akhirat yaitu berjumpa dengan Allah. Menatap wajah Rab yang mulia Jalla fi Ula. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang-orang yang beriman:  “Sungguh kalian akan melihat Rabb kalian -pada hari kiamat-. Sebagaimana kalian melihat Bulan Purnama. Kalian tidak berdesak-desakkan ketika melihatnya.” (HR. al-Bukhari).

Dan Allah berfirman, Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.” [Quran Al-Qiyamah: 22-23].
  
Kita berdoa sebagaimana dengan doa yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:  “Ya Allah, Aku mohon kepada-Mu kenikmatan memandang wajah-Mu (di Surga), rindu bertemu dengan-Mu tanpa penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. (HR. Nasai 1305 dan dishahihkan al-Albani).

Nabi juga mengajarkan doa: “Ya Allah, hiasilah kami dengan perhiasan berupa keimanan. Jadikan kami orang yang mendapatkan petunjuk dan memberi petunjuk kepada orang lain.”

Keimanan adalah pohon yang penuh berkah. Ia memiliki akar yang kokoh. Dan cabang yang kuat. Serta buah yang banyak. Allah berfirman,  “Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” [Quran Ibrahim: 24-25].

Akar pohon keimanan terdiri dari enam hal yang telah dijelaskan dalam Alquran dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak akan tegak pohon keimanan kecuali dengan enam hal tersebut.

Keenam hal itu adalah yang kita kenal dengan rukun iman. Iman kepada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, dan kepada takdir yang baik dan yang buruk. Allah berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi.” [Quran Al-Baqarah: 177]. (Red) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment