Tajuk: Calon Perseorangan Ibarat Frans Kaisepo

Bagikan Bagikan
Gbr. Perangko pahlawan, Frans Kaisepo 

Frans Kaisepo adalah pahlawan nasional Indonesia yang berasal dari Papua. Dialah yang mengusulkan nama Irian bagi Papua yang berasal dari bahasa Biak yang berarti tempat yang panas. Tokoh ini pernah diremehkan dan dikecilkan bahkan pernah dilupakan karena berasal dari daerah paling timur Indonesia. Namun, perjuangannya akhirnya dihargai dan diingat orang. Selain namanya menjadi nama Bandara di Biak dan gambarnya pernah muncul di perangko tahun 1999, saat ini gambarnya pun muncul di pecahan uang Rp. 10.000.

Calon perseorangan atau independen pada Pilkada saat ini seakan dipandang sebelah mata karena sangat sedikit keberhasilannya pada setiap pertarungan politik di Pilkada Indonesia. Berdasarkan hasil survei lembaga Skala Survei Indonesia (SSI) pada Pilkada serentak 2015 lalu yang digelar di 264 wilayah seluruh Indonesia, sangat sedikit (sekitar 14,4 persen) calon perseorangan yang memenangkan Pilkada tersebut (Republika: 2016). Namun ingat, calon perseorangan ibarat pahlawan Frans Kaisepo, walaupun sebelumnya diremehkan namun suatu saat bisa menjadi kekuatan politik yang besar.

Walaupun sedikit, tetap ada calon perseorangan yang bisa memenangi kontestasi politik di Pilkada Indonesia. Berpijak pada sebuah studi atas kemenangan pasangan calon perseorangan di Pilkada Kabupaten Garut tahun 2009 yang lalu. Studi itu menyebutkan pasangan calon perseorangan Ceng Fikry-Dicky Chandra mampu memenangkan Pilkada Kabupaten Garut tahun 2009 tersebut karena memiliki modal sosial yang baik (Paturahman: 2011).

Modal sosial adalah bagian-bagian dari organisasi sosial seperti ketokohan (norma), kepercayaan, dan jaringan yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan yang terkoordinasi (Wikipedia). Dari definisi tersebut, berarti ada tiga kata kunci dari modal sosial yakni ketokohan (norma), kepercayaan dan jaringan.

Saya mencoba melakukan analisis sederhana atas modal sosial di Timika sebagai salah satu faktor dalam memenangkan percaturan politik di Pilkada Mimika 2018.

Masyarakat Mimika sangat kental dengan kesukuan. Di dalamnya terdapat dua suku besar Papua yakni Amungme dan Kamoro. Selain itu ada juga lima suku papua kekerabatan lainnya yakni suku Moni, Dani, Nduga, Damal dan Mee (Wikipedia). 

Karena kentalnya kesukuan tersebut, maka setiap pendatang yang masuk ke Mimika sering terhisap dengan realita tersebut. Artinya, membentuk berbagai perkumpulan suku pendatang. Namun sesungguhnya kekuatan kesukuan ini bukan malah menimbulkan konflik horizontal, tapi harus menjadi wadah pemersatu antara satu dengan yang lainnya.

Hal tersebut membuat kesukuan menjadi sebuah norma dalam mendikte sikap hidup setiap masyarakat di Mimika. Norma tersebut sekaligus membangun jaringan kebersamaan mengikat antara satu dengan lainnya yang sesama suku di Mimika. Jaringan sukuisme ini sekaligus menjaga setiap individu dari berbagai ancaman keamanan. Hal itu menuntut setiap orang yang setia dan jujur dalam sebuah kumpulan suku akan menjadi tokoh penting dalam masyarakat di Mimika. Sehingga, setiap orang yang mampu merangkul semua suku yang ada di Mimika secara persuasif sehingga tercipta kedamaian dan keharmonisan bersama serta selalu melahirkan kepercayaan publik atas kesesuaian ucapan dan tindakan akan berhasil menggapai simpati masyarakat Mimika.

Namun, ada satu kekuatan negatif politik yang menjadi sarana pemenangan Pilkada di Indonesia, yakni politik uang. Uang dijadikan satu-satunya alat untuk membeli suara atau membeli perhatian dan pengaruh sehingga rakyat terpaksa memilih sang pemberi uang (bullying politik). Apalagi dalam konteks Mimika yang saat ini sedang mengalami krisis ekonomi dampak permasalahan Freeport, sebuah pengamatan sesaat, tampaknya politik uang akan menjadi sarana subur dalam upaya memenangkan kontestasi politik Pilkada Mimika tahun 2018 nanti.

Namun jika hal ini yang terjadi, maka pasti akan semakin memperburuk situasi di Mimika. Akan menambah problematika di Mimika semakin runyam dan kompleks. Membentuk mentalitas bobrok, tak bermoral dan matrealistis dalam masyarakat di Mimika. Saya bisa pastikan, pembangunan di Mimika akan semakin hancur jika pemimpin daerah di Mimika yang terpilih nantinya berasal dari proses perjuangan pemenangan politik yang seperti itu.


Oleh sebab itu, rakyat Mimika harus lebih dewasa dan arif dalam memilih pemimpin daerahnya ke depan dengan cara-cara yang sehat dan bermartabat, termasuk dengan cara yang manusiawi. Memanusiakan manusia Mimika dengan hati nurani yang jujur dan luhur. Salam! (Jimmy Rungkat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment