Tajuk: Menakar Calon Pendekar Pimpin Mimika

Bagikan Bagikan


Jackie Chan, aktor pemeran pendekar keadilan
SATU Minggu terakhir, warga masyarakat Timika ramai memperbincangkan calon pemimpin Mimika dari jalur independent atau perseorangan yang sudah menyerahkan dokumen dukungan ke KPUD Mimika. Tercatat sembilan pasangan dan KPUD Mimika setelah meneliti kelengkapan berkas administrasi dukungan yang memenuhi syarat sesuai amanat Undang-Undang Pilkada No. 10 Tahun 2016, dari sembilan pasangan itu yang lolos ketahap berikutnya enam pasangan.   

Keenam Paslon bupati-wakil bupati Mimika itu yakni Hans Magal-Abdul Muis, Wilhelmus Pigai-Athanasius Allo Rafra, Robertus Waropea-Albert Bolang, Philipus B Wakerwa-H Basri, Maria Florida Kotorok-Yustus Way dan Petrus Yanwarin-Alpius Edoway. Tentu saja, enam Paslon ini masih membutuhkan kerja keras untuk lolos dan harus mengisi formulir model B1 KWK I berupa  surat dukungan Paslon perseorangan untuk maju dalam pemilihan bupati-wakil bupati, formulir model B1 KWK kolektif.

Namum dinamika dan pesan itu mengisyaratkan, anggota komisioner KPUD Mimika dituntut menjadi alat penakar yang adil membidani calon pendekar yang mampu memimpin Mimika dari pasangan calon perseorangan. Dan menakar calon pendekar dari jalur partai yang sesuai amanat undang-undang Pilkada pula. Karena, warga Mimika sudah bosan dan berniat melahirkan calon pendekar yang bisa menyulap wajah kota Mimika yang terkesan amburadul, tidak bersahabat dan tidak mencerminkan sebuah kota tertib dan damai.

KPUD Mimika dituntut mampu melahirkan calon pendekar yang memimpin Mimika bisa mengubah ‘anekdot’ Timika (Tiap Minggu Kaco). Calon pendekar yang sudah teruji dan lolos dari semua ketentuan yang dipersyaratkan sebelum diayak, disaring dan dipilih sesuai hati nurani warga Kabupaten Mimika saat hari pemungutan suara pada Pilkada serentak bulan Juni  2018 mendatang.

Memang tugas warga Mimika, setelah komisioner KPUD Mimika melahirkan calon pendekar dari Paslon perseorangan dan jalur partai sudah final agak berat. Karena warga Mimika mesti benar-benar cerdas, jujur dan berintegritas memilih calon pendekar yang tepat memimpin Mimika. Warga memilih bukan calon pendekar yang miskin moral, hipokrit, bukan calon pemimpin penghamba citra, ketenaran, pujian tetapi calon pendekar yang rendah hati dan tidak mengharapkan pamrih.

Karena kita tidak membutuhkan calon pemimpin dari paslon perseorangan dan jalur partai yang lebih suka berbohong demi mendapatkan pengakuan dari warga Mimika. Sebaliknya, kita membutuhkan pendekar atau pemimpin yang bisa diteladani dan jauh dari sifat egoisme dan oportunisme. Kita membutuhkan calon pendekar yang mampu menjawab ketika warga gelisah siang dan malam memikirkan biaya anak-anak untuk sekolah, biaya dikala sakit dan tidak mendapat sesuap nasi tiap hari. 

Pendekar yang mampu membebaskan warga dibalik gunung dan pesisir dari buta aksara. Pendekar yang mampu membuka askses pelayanan kesehatan, pendidikan dan mampu menyediakan lapangan kerja bagi warga yang mendambakan lapangan kerja. Pendekar yang bisa menjadi standar bagaimana kita berprilaku.

Pendekar peradaban yang bisa tampil meredam dan mendamaikan warga yang masih setia merawat perang suku. Pendekar yang bisa menjelma sebagai sosok panglima perang yang bisa menghentikan kontak senjata sebagaimana terjadi di Banti dan Kimbeli, di Distrik Tembagapura akhir-akhir ini.

Pendekar yang bisa mendamaikan kelompok yang berhaluan lain bisa bersahabat dengan prajurit TNI dan Polri. Supaya, kita tidak mendapat sorotan dari dunia internasional sebagai negara yang suka berperang melawan saudara sebangsa dan setanah air. Bola Pilkada serentak 2018 untuk melahirkan calon pendekar yang mampu memimpin Timika sekarang berada ditangan komisioner KPUD Mimika dan warga Mimika.

Mari kita memberi dukungan dan suport kepada KPUD Mimika. Supaya mereka bisa bekerja sesuai hati nurani dan berdiri di atas amanat undang-undang Pilkada No. 10 Tahun 2016.  Mereka tidak terkena virus dan angin puting beliung menyodorkan calon pendekar mata satu kepada warga Mimika untuk memilih.

Warga mesti membangun sebuah spirit dan percaya bisa berubah dan memilih sesuai nurani melahirkan calon pendekar peradaban yang bisa memimpin Mimika. Supaya Kabupaten Mimika ke depan tidak dijuluki sebagai kabupaten yang selalu menyuguhkan informasi perang suku, Tiap Minggu Kaco (Timika), dan Kabupaten yang seringkali terjadi beradu senjata antara Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) dan gabungan TNI dan Polri. Semoga! (Fidelis S.J)    
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment