Tajuk : Menepis Wajah Keriput dari Pemusnahan Kosmetik

Bagikan Bagikan
Gambar ilustrasi

TIGA hari terakhir media sosial dan salah satu media harian di Timika menjadi pembicaraan hangat ditengah masyarakat Timika ketika mengangkat berita soal pemusnahan alat kosmetik di Timika. Kekisruhan pemusnahan alat kosmetik itu bagai tamparan keras kalau tidak mau disebut kejadian itu membuat wajah para pejabat dan petugas yang berfungsi mengawasi obat dan makanan menjadi keriput.

Rupanya ketika menyentil soal kosmetik yang bisa mengubah wajah keriput menjadi seksi kembali agak sensitif. Bagaimana tidak kalau wajah keriput bisa seksi seketika hanya sehari dan hari berikutnya menjadi bopeng, memang mesti diawasi secara ketat. Supaya pelaku usaha tidak hanya mengejar keuntungan semata, tetapi pelaku usaha mesti mematuhi aturan dan prosedur hukum yang perlu dilalui.

Pelaku usaha mesti memiliki kewajiban moral mendistribusikan alat kosmetik yang tidak meresahkan para pengguna kosmetik. Walau secara alamiah, setiap manusia ketika begitu bangun pagi, mandi, beraktivitas hingga beristirahat malam selalu menggunakan kosmetik. Pelaku usaha jangan memanfaatkan sisi alamiah manusia meracuni penggunanya dengan menyediakan alat kosmetik yang mengandung zat berbahaya.

Wajar saja! Balai Besar POM Jayapura beraksi dan memusnahkan alat kosmetik yang mengandung zat berbahaya. Karena memang itu tugas, peran dan fungsi mereka. Walau mereka hingga wajah keriput dinilai arogan sudah melakukan penertiban, pengawasan dan memusnahkan alat kosmetik yang berbahaya sesuai prosedur menurut mereka.

Hanya sentilan kata arogan membuat wajah para pejabat dan petugas BPOM Jayapura dan Pusat takut bertambah keriput membaca komentar lewat media sosial dan media harian menyentil aksi pemusnahan alat kosmetik di Timika itu. Rupanya perlu diklarifikasi dan menghadirkan semua media cetak, TV dan media online untuk meluruskan keksiruhan itu dalam acara jumpa pers di Lantai II, Ruangan Cartenz Hotel Horison Ultima, Senin (4/12) siang.

Pertanyaan menariknya. Mengapa sentilan para pelaku usaha hanya dinilai arogan saja bisa membuang biaya begitu besar meluruskan aksi pemusnahan itu? Apakah ada prosedur yang terlewati dalam aksi pemusnahan itu? Atau ada sesuatu misteri yang sulit dipahami para pelaku usaha dibalik aksi pemusnahan? Entahlah. Misteri itu hanya bisa dijawab para pelaku usaha dan para petugas yang melakukan pemusnahan alat kosmetik di Timika.

Meski begitu, pelajaran berharga yang patut kita petik dan mencermati dari kasus pemusnahan alat kosmetik di Timika, supaya pelaku usaha wajahnya tidak keriput akibat bangkrut dari usaha kosmetik. Dan para petugas pula  tidak tertampar dan membuat wajah keriput akibat dinilai arogan oleh para pelaku usaha.

Kita mesti mengedepan dialog dan komunikasi yang terbuka serta transparan. Bila perlu, setiap petugas yang berwenang mengedepankan pendekatan personal dari pada memupuk atribut pendekatan kekuasaan dan jabatan. Supaya, warga masyarakat dan pelaku usaha kosmetik bisa malu sendiri ketika menjajakan  dan mendistribusikan alat kosmetik yang mengandung zat berbahaya. Atau yang bersangkutan merasakan bagaimana rasanya kalau sudah diadili massa dan jatuh tertimpa tangga lagi, kalau terlalu bandel.


Karena, warga kita ini masih jauh dari rasa malu dan tidak takut terhadap diri sendiri. Kalau wajahnya sudah keriput dan bopeng dulu diadili masa baru bertobat. Sebab karakter warga zaman teknologi saat ini sudah pada tidak takut lagi dengan Tuhan. Marilah kita mawas diri setiap saat. (Fidelis S.J)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment