Mimika Care to Asmat: Perasaan Haru Bercampur Miris

Bagikan Bagikan
Ilustrasi gambar sumbangan

Saya cukup terharu sembari mengapresiasi terkait berita Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika menyumbangkan dana Rp 140 juta kepada permasalahan kemanusiaan yang terjadi di Kabupaten Asmat, yakni secara khusus masalah campak dan gizi buruk. Namun perasaan terharu itu sontak berubah menjadi miris di hati ketika saya membandingkan dengan dana bantuan dari Pemkab Puncak Jaya sebesar Rp 1 Milliar untuk Asmat.

Mengapa saya terharu? Pada tajuk saya sebelumnya tertanggal 18 Januari 2018 di Salam Papua berjudul “Politik Papua Bergelora, Asmat Menangis…”, saya membahas tentang pentingnya menepikan sejenak konsentrasi pada proses Pilkada dan memperhatikan permasalahan sosial saudara kita di Asmat. Dan ternyata hal tersebut direalisasi oleh Pemkab Mimika saat ini. Walaupun Kabupaten ini sedang “disibukkan” dengan urusan politik menjelang Pilkada, tapi menyempatkan diri untuk menanggung beban sosial saudara-saudara di Asmat. Sebuah tindakan bela-rasa-suka-duka yang patut diapresiasi.

Namun mengapa saya miris? Karena jika melihat kekuatan ekonomi daerah, Pemkab Mimika merupakan daerah yang lebih kuat dibandingkan Pemkab Puncak Jaya. Faktanya, seperti halnya dukungan APBN pada tahun anggaran 2018, alokasi anggaran untuk Pemkab Mimika sebesar Rp. 2,08 Triliun sedangkan untuk Pemkab Puncak Jaya hanya Rp 1,21 Triliun (republika.co.id). Ada juga fakta yang mengungkapkan bahwa Kabupaten Mimika mendapatkan jatah dana bagi hasil paling tinggi dibanding daerah lainnya di Provinsi Papua lantaran di daerah ini berdiri pertambangan emas dan tembaga PTFI (dkp.papua.go.id). Belum lagi dengan fakta bahwa Kabupaten Mimika dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Rp 295juta per-kapitanya adalah daerah terkaya peringkat kedua se-Indonesia di bawah kota Bontang (Kalimantan Timur) dan di atas Jakarta Pusat (kuwaluhan.com).

Fakta-fakta itu seharusnya membuat Pemkab Mimika merasa malu dengan daerah lainnya di Provinsi Papua, salah satunya terhadap Pemkab Puncak Jaya. Karena bantuannya ke Asmat sangat kecil, padahal kondisi dan potensi ekonominya sangat besar. Jangan sampai lahir pendapat orang bahwa Kabupaten ini adalah Kabupaten yang pelit dan tidak terlalu care dengan permasalahan sosial terhadap sesama saudaranya di daerah lain di seputar Papua. Takutnya, daerah Mimika akan alami hukum natural tabur tuai. Bukan mendoakan, tapi permasalahan sosial manusia tidak menutup kemungkinan akan terjadi juga di Mimika, karena ini adalah sebuah siklus kehidupan. Takutnya, daerah lain di tanah Papua ini, atau mungkin secara Nasional, menjadi kurang begitu simpati dan empati dengan Mimika karena perbuatannya saat ini. Pasti daerah ini akan mengalami kesulitan yang cukup rumit nantinya.

Padahal, Kabupaten Asmat sesungguhnya adalah daerah yang sangat menguntungkan secara ekonomi bagi Kabupaten Mimika (simbiosis mutualisme). Contohnya, baru-baru ini (1 Januari 2018) Kadis Peternakan Mimika, Yosefina Sampelino menyatakan telah memasok sekitar 3,4 ton telur ayam dari Mimika ke dua kabupaten tetangga yang salah satunya adalah Asmat. Hal ini dilakukan untuk mencegah penumpukan telur ayam hasil para peternak di Mimika. Dan juga Mimika menjadi daerah transit transportasi dari Jakarta menuju ke Asmat, baik udara maupun laut. Pastinya melalui hal ini, Mimika akan mendapatkan keuntungan secara strategis dari sisi perekonomian. Dan masih banyak hal lainnya. Tentu kita sebagai warga Mimika akan ikut mengelus dada tanda miris jika membandingkan keuntungan yang diperoleh dengan bantuan yang diberikan Pemkab Mimika ke Asmat.

Akhirulkalam, Pemkab Mimika masih punya kesempatan untuk menambah bantuan dana yang masih sangat minim tersebut untuk 1 atau 2 hari ke depan sebelum disalurkan ke Asmat. Saya berharap hal itu bisa terwujud, supaya Kabupaten Mimika dapat menjadi salah satu goresan berharga bagi garis sejarah permasalahan kemanusiaan di Asmat. Dan, khususnya bagi pemimpin daerah di Kabupaten Mimika ini, perbuatan terpujinya itu pastinya akan menaruh simpati bagi masyarakat Mimika, di tanah Amungsa yang kita cintai ini. Namun perlu dicatat, perbuatan terpuji itu akan teruji ketulusannya ketika tidak diboncengi oleh tendensi politis yang kotor. Salam! (Jimmy Rungkat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment