Simpatisan Kaka Bas Nyalakan 1000 Lilin

Bagikan Bagikan
Ratusan masyarakat Mimika simpatisan mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu, Sabtu (27/1) malam melakukan aksi “Save Kaka Bas” menyalakan 1000 lilin di Jalan Ahmad Yani Timika.
SAPA (TIMIKA) -  Ratusan masyarakat Mimika simpatisan mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu, Sabtu (27/1) malam melakukan aksi “Save Kaka Bas” dengan menyalakan 1000 lilin di Jalan Ahmad Yani Timika.

Penangungjawab aksi solidaritas tersebut, Pendeta Septinus Ohe, mengatakan,  aksi ini dilakukan setelah Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI) melakukan penyelidikan dan adanya eksaminasi yang banyak menemukan kelemahan-kelemahan dalam Putusan Nomor 67/PId.Sus/TPK/2015/PN.JKT.PSt dan Putusan Pengadilan Tinggi No 01/Pid/TPK/2016/PT.DKI.

 “Aksi damai ini dilakukan sebagai bentuk penolakan atas putusan pengadilan yang dinilai melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap Kaka Bas yang dipidanakan sebagai tersangka korupsi,” ujarnya saat ditemui Salam Papua.

Dalam aksi tersebut para simpatisin menyampaikan dua tuntutan yaitu, meminta kepada Presiden Indonesia, Joko Widodo agar bisa membebaskan Eks Gubernur Papua apabila tidak ditemukan kesalahan dan meminta pihak pengadilan tinggi atau Mahkamah Agung agar mereview kembali kebenaran dakwaan yang ditujukan kepada Barnabas Suebu.

“Jika tidak didapati kesalahannya segera dibebaskan dan dipulangkan pada masyarakat,” ujar Ohee yang didampingi tokoh masyarakat Jayapura Dance Nere, tokoh perempuan Min Helyanan Ohe dan Teli Sokhoi.

Selain masyarakat Jayapura yang berdomisili di Timika, aksi tersebut juga diikuti oleh simpatisan dari berbagai suku dan organisasi yang ada di Timika, termasuk Anggota DPRD Mimika dari Partai Bulan Bintang (PBB) yakni Viktor Kabey dan Gerson Imbir.

Ohee mengatakan, jangan ada politisasi hukum di negeri ini lantaran hingga saat ini Eks Gubernur Papua itu sedang berusaha mengajukan grasi kepada Presiden RI dan proses peradilan sedang diajukan ke MA untuk dilakukan review ulang proses tersebut.

“Pihak terdakwa masih bertanya-tanya, ‘Salah saya apa?’.  Beliau belum tau apa sebabnya sampai beliau ditahan. Kami percaya bahwa Tuhan akan memberikan keadilan bagi Kaka Bas karena hingga saat ini penyelidikan yang dilakukan lembaga hukum perguruan tinggi negeri tidak menemukan bukti tuduhan padanya,” ujarnya.
 
Spanduk "Save Kaka Bas"
Ia mengatakan, banyaknya simpatisan yang mengikuti aksi itu adalah bukti banyaknya masyarakat yang mencintai Kaka Bas.

“Kaka Bas sangat terkenal dengan program PNPM Mandiri, Turdes (turun kampung) dan Sustainable Development (pembangunan berkelanjutan). Dibidang SDM, Kaka Bas memperjuangkan program 1000 dokter untuk Papua dan pemberian nutrisi bagi bayi sejak didalam kandungan. Selain itu di bidang fisik, iapun memperjuangkan banyak hal semisal mega proyek di Membramo. Bahkan konsep dan pencanangan Jalan Trans Papua, Wamena-Jayapura merupakan hasil pemikiran, ide dan konsep Kaka Bas,” katanya.

Berdasarkan data yang dikumpul Salam Papua, Minggu (28/1), kasus tersebut bermula saat Barnabas merencanakan pembangunan PLTA pada pertengahan 2007. Dalam pembuatan PLTA itu, Basarnas didakwa korupsi Rp 43,362 miliar mengarahkan PT Konsultansi Pembangunan Irian Jaya (KPIJ) yang merupakan perusahaan miliknya memenangi proyek tanpa melalui prosedur. Eks Gubernur Papua periode 2006-2011  itu harus mendekam di penjara selama 8 tahun.

Sementara itu, dimuat dari laman appthi.or.id,  APPTHI mendorong mantan gubernur Papua Barnabas Suebu mengajukan grasi (pengampunan) kepada Presiden Joko Widodo, terkait hasil putusan banding yang meningkatkan hukuman dari empat tahun enam bulan menjadi delapan tahun penjara. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment