1000 Di Awal 1000 Di Akhir

Bagikan Bagikan
Pdt. Dr. Eben Nuban Timo

Pdt. Dr. Eben Nuban Timo *) 
ADA banyak hal dari Salomo yang patut dikenang, dikumpulkan dan disimpan dalam hati sebagai kekayaan iman. Salomo memulai kepemimpinannya sebagai raja Israel dengan berlutut. Dia seorang raja dengan kekuasaan yang luar biasa besarnya, seperti ditegaskan dalam ayat 2 Tawarik ayat 1. Tetapi Dia membuat dirinya kecil di hadapan Allah.

Bersama para pegawai, Salomo pergi ke Gibeon, tempat di mana Musa dahulu membuat kemah pertemuan (II Taw. 1:1-13). Di sana Salomo berdoa memohon hikmat dari Allah untuk melaksanakan kepemimpinan dalam takut akan Tuhan dan demi kebaikan orang-orang yang dipimpin. Sungguh sebuah teladan.

Berdoa di awal, bersyukur saat memulai sebuah karya atau penugasan. Bukankah itu hal yang patut diteladani? Yesus sendiri berkata: “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Mt. 6:33).

Salomo tidak memburu kekayaan, mengejar popularitas dan memuja-muja kekuasaan. Ia tidak menjadikan dirinya bos besar di hadapan umat dan di hadapan Allah. Dia tampil sebagai seorang pelayanan masyarakat dan abdi Tuhan.

Banyak pemimpin masyarakat, juga organisasi sosial masa kini memiliki komitmen kepemimpinan seperti Salomo. Waktu diberi kepercayaan untuk menduduki satu jabatan, mereka bikin syukuran, lalu memberi kesaksian di depan umum: jabatan ini pemberian Tuhan.

Salomo, raja Israel yang besar itu memulai karir sebagai pemimpin umat Tuhan dengan berdoa. Ia mempersembahkan 1000 kurban bakaran bagi kemuliaan Tuhan. Ini boleh kita sebut sebagai bekas-bekas kaki Salomo yang patut diambil, dikumpulkan, dibawa ke rumah, dibikin masuk museum.
Lalu bagaimanakah Salomo mengakhiri masa kepemimpinannya? Apakah ada bekas-bekas kaki cerita hidup Salomo di akhir karirnya sebagai pemimpin Israel yang dapat diambil, dikumpulkan, dibawa ke rumah, dibikin masuk museum?

Menurut I Raja-Raja 11:3 Salomo mempunyai 700 isteri dari kaum bangsawan dan 300 gundik;  1000 istri itu lebih menarik hatinya, dari pada TUHAN. 1000 istri ini membuat hatinya berpaling dari Tuhan. 1000 korban bakaran Salomo naikan kepada Tuhan sebagai wujud syukur di awal karir kepemimpinannya. Dan di akhir masa pemerintahannya, Salomo memiliki 1000 orang istri yang membelokkan hatinya dari Allah, sehingga ia melakukan berbagai-bagai kejahatan di mata TUHAN. Ini sungguh ironis dan kontradiktif.

Tidak ada kebaikan dan kebenaran dari tindakan Salomo di akhir masa kepemimpinannya yang dapat diambil, dikumpulkan, dibawa ke rumah, dibikin masuk museum. Ini sungguh menyedihkan.

Aib yang ditinggalkan Salomo sepertinya masih terus mewarnai kisah hidup para pemimpin masa kini. Banyak yang mulai dengan 1000 syukuran, sumpah setia dan natzar.Sayangnya syukuran, janji, sumpah dan natzar itu tidak lagi terdengar dan hilang begitu sang pemimpin memutar roda pemerintahan dan kekuasaan. Karena keenakan dengan fasilitas dan popularitas mereka lupa bersyukur. Kalau ada mutasi, mulai berdebar-debar. Tidak ada syukuran waktu dimutasi. Yang ke luar dari mulut hanyalah umpatan. Ini bukan sikap seorang pemimpin yang berkenan kepada Tuhan.

Orang bisa mengatakan: Pilkada itu beda dengan Pilkabe. Pilkada itu kalau jadi, lupa akan nilai-nilai, akan janji-janji. Mereka lupa rakyat dan juga lupa Tuhan. Mereka melakukan hal-hal yang jahat dan tidak berkenan. Mereka tidak lagi memiliki hati yang disalibkan sebagaimana dikatakan oleh pendeta Jepang: Kosuke Koyama. Hati yang disalibkan itu hanya jadi semboyan di awal masa kepemimpinan.

Kisah hidup Salomo menunjukan hal itu. Ia mulai dengan 1000 kurban bakaran dan mengakhirinya dengan 1000 orang istri. Ini memang bukti bahwa Salomo piawai dalam membangun negosiasi tetapi dia gagal menjaga kekudusan hidup.

Seorang pemimpin bisa saja berhasil membangun infrastruktur, ekonomi, pendidikan, hukum, politik dan lain-lain. Tetapi jika ia tidak menjadi teladan kekudusan, maka sukses yang ia capai mungkin akan tercatat dalam The Guiness Book of Records. Tetapi seorang pemimpin yang dalam seluruh aktivitasnya tetap mengingat Tuhan dan memanggil rakyatnya untuk terus berharap kepada Allah, namanya pasti tercatat juga dalam buku kehidupan di surga yang ada pada Allah.

Jejak kaki datangnya seorang pemimpin baru itu indah. Indah kedatangannya. Tetapi juga indah kepergiannya. Tidak hanya itu, bekas tapakan kaki yang ditinggalkan juga indah. Bahkan dia sudah matipun juga bekas tapakan kakinya tetap indah. Marilah kita belajar untuk menjadi pemimpin yang baik dari awal sampai akhir dengan bercontoh pada Yesus yang menganut prinsip kepemimpinan berikut: “Tetapi kamu tidaklah demikian, melainkan yang terbesar di antara kamu hendaklah menjadi sebagai yang paling muda dan pemimpin sebagai pelayan (Lukas 22:25).” Tuhan memberkati kita. Amin. *) Dosen UKSW Salatiga
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment