Air Dwi Koala Tercemar Tidak Layak Konsumsi

Bagikan Bagikan
Air mineral Dwi Koala yang berlumut

SAPA (TIMIKA) -  Air  mineral Dwi Koala kemasan  gelas plastik yang sejak lama dikonsumsi masyarakat  dan tergolong laris di pasaran Mimika ini secara tiba-tiba diperintahkan untuk berhenti dijual karena tercemar dan tidak layak konsumsi.

Sebagian besar pemilik kios di sepanjang deretan Base camp, Jaluar Caritas, SP 2 mengakui, sejak tanggal  12 Februari lalu, telah menerima surat perintah pemberhentian dari  Tim Pengawas dan Pendataan Barang Kadaluwarsa,  Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika.

 Salah seorang pedagang yang tidak ingin namanya dipublikasi, kepada Salam Papua mengakui, dalam surat  perintah pemberhentian tersebut mencantumkan bahwa, akan menarik produk yang bermasalah termasuk air kemasan Dwi Koala  sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999. Selain itu, juga akan memberikan sanksi sesuai dengan Undang-undang yang berlaku.

“Mereka datang dengan cara penyampaian yang bikin kami kaget. Karena tiba-tiba mengangkat semua dos air Dwi Koala dan dikumpulkan. Mereka bilang tidak diperbolehkan untuk dijual ke masyarakat karena Air Dwi Koala tidak layak lagi dikonsumsi. Mereka juga mengakui berdasarkan uji laboratorium, dalam air itu ada lumut dan berbau lumpur,” jelasnya, Selasa (21/2).

Air mineral Dwi Koala
Namun Pedagang ini mengatakan heran bahwa, sejak adanya surat perintah tersebut hingga saat ini (kemarin-Red) petugas dari Disperindag ataupun dari perusahaan air Dwi Koala belum melakukan penarikkan puluhan dos Dwi Koala yang telah dilarang dijual tersebut.

Pengakuan larangan menjual air kemasan Dwi Koala ini juga diakui oleh sekitar belasan pedagang lain di wilayah tersebut. Selain pemilik kios, distributor besar seperti beberapa toko deretan ruko depan Pasar SP2 juga mengakui, telah menerima peringatan dari Disperindag dan memutuskan untuk tidak menjual air kemasan terebut hingga menumpuk sia-sia dalam gudang ataupun sekedar dipajang.

Dari sekian pedagang kios dan distributor besar  mengakui,  para petugas Disperindag yang memberikan surat perintah mengatakan semua pemilik kios berhak berhubungan langsung dengan perusahaan air Dwi Koala untuk mempersoalkan masalah ganti rugi.

Para penjual mengatakan akan menuntut perusahaan Dwi Koala jika ketika penarikkan tidak disertai dengan pengembalian ganti rugi atas uang yang telah dikeluarkan . Sebab, mereka mengaku telah membeli prodak air minum tersebut dengan jumlah yang sangat banyak mulai dari belasan hingga puluhan dos dengan  harga Rp 26.000 per dos.

“Kita sangat rugi  karena  kalau  satu dos saja harganya 26 ribu, terus kalau dikalikan 18 hingga 50 dos? Siapa yang mau rugi? Kita ini berdagang dengan mengambil keuntungan seribu rupiah saja. Dari situ kita makan, minum, bayar kios, listrik dan yang lainnya,”  kata salah satu pedagang.

Seorang staf Awalin Mart mengatakan, telah menerima perintah dan semua persediaan air Dwi Koala dalam kemasan gelas  dan galon telah ditarik dan diangkut ke Kantor Disperindag Mimika di SP5.

“Kita juga ada bukti kalau air Dwi Koala dalam kemasan gelas plastik itu berlumut. Saya sempat rekam vidio di dalam gelas itu ada semacam lumut, “ ungkap seorang staf Awalin Mart sembari menunjukkan rekaman vidionya.

Pengakuan yang sama disampaikan sebagian besar pedagang atau pemilik kios di sepanjang Jalan C.Heatubun, Kelurahan Kwamki baru.

“Siapa yang mau konsumsi lagi air Dwi Koala kalau sudah ketahuan tercemar? Kami juga akan tuntut ganti rugi kalau ada penarikkan dari perusahaan Dwi Koala, karena kami sudah mengeluarkan uang. Kami tidak izinkan kalau misalnya hanya ditarik atau dibasmi tanpa mengganti uang yang sudah kami berikan ke perusahaan Dwi Koala,”ungkap seorang pedagang.  (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment