Ketua Komisi A Klaim Penembakan di Portsite Melanggar HAM

Bagikan Bagikan
Suami korban (saksi) saat menjelaskan peristiwa penembakan kepada Ketua Komisi A DPRD Mimika.

SAPA (TIMIKA) – Ketua Komisi A DPRD Mimika mengklaim bahwa peristiwa penembakan yang dilakukan oknum aparat keamanan dan merenggut nyawa seorang warga disekitaran area penyeberangan Portsite-Cargo Dock, Kampung Amamapare, Distrik Mimika Timur pada Sabtu (3/2), merupakan pelanggaran HAM. Kasus ini juga harus di usut hingga tuntas agar pelaku mendapat hukuman setimpal dengan perbuatannya.

"Ini tidak boleh di biarkan, karena sudah merupakan pelanggaran HAM,” kata Saleh Alhamid di Gedung DPRD Mimika, Minggu (4/2).

Saleh juga mengatakan akan mendampingi proses olah tempat kejadian perkara (TKP) bersama petugas kepolisian. Sebab, setelah mendengar keterangan dari saksi (Suami korban Imakulata Emakeparo), Titus Onamariyuta, ia menilai adanya ketidakwajaran atas peristiwa tersebut. Bahkan, Saleh menyimpulkan kalau korban di tembak dengan cara di bidik terlebih dahulu.

"Ini bukan tembakan salah sasaran, tapi ini terbidik," ujarnya.

Sebab, menurut Saleh, pada saat itu situasi sedang gelap, sedangkan korban berada diatas perahu sambil memegang senter yang sedang menyala. Sehingga, bisa saja oknum petugas yang melakukan penembakan sudah terlebih dahulu membidik ke arah cahaya senter yang di pegang korban.

"Aparat (oknum) yang menembak itu berfikir normal atau seperti apa? Kalau dia tahu pelaku (pencurian konsentrat) yang dia kejar tidak menggunakan senter, terus kenapa dia menembak orang lain yang jelas-jelas memegang senter?" tanya Saleh.

Sebelumnya, Sabtu (3/2), terjadi aksi pencurian konsentrat di area DWP Portsite yang dilakukan 3 orang warga Pulau Karaka. Saat pengejaran, petugas berhasil mengamankan seorang berinisial RN (18). Selanjutnya, RN hendak dibawa ke Polres Mimika untuk proses lebih lanjut dengan menumpangi speed boat, namun yang bersangkutan meloloskan diri dengan cara melompat dari atas speed boat.

Karena pelaku setelah melompat lalu meminta tolong kepada warga sekitaran, akhirnya disaat petugas hendak menolong pelaku dari perairan malah mendapat serangan dari warga berupa lemparan batu. Karena kalah jumlah, petugas sempat melepas tembakan peringatan kemudian meninggalkan lokasi itu.

Suami korban atau saksi juga sempat menuturkan bahwa saat terjadi keributan ia bersama korban sedang mengunakan perahu dayung berangkat dari Pulau Karaka hendak menuju Portsite mengambil air minum. Diperkirakan jarak 100 meter sebelum mencapai Portsite, korban mendengar ada suara teriakan meminta tolong. Saat itu korban meminta kepada saksi berhenti sejenak dan memastikan arah teriakan meminta tolong tersebut. Namun, seketika itu saksi mendengar 3 kali suara tembakan yang tidak diketahui dari mana arahnya. Di saat itu juga saksi melihat sudah telah tertembak.

“Tembakan pertama dan kedua, itu saya masih bingung. Tapi saat tembakan yang ketiga, itu saya langsung meminta istri saya untuk berikan senternya kepada saya, tapi istri saya tidak jawab, dia diam saja. Istri saya itu tewas dengan tembakan ketiga, karena saat pertama dan kedua itu dia masih respon saya. Begitu saya coba dekati, ternyata kepalanya sudah tembus dengan peluru," tutut saksi kepada Salam Papua di Gedung DPRD Mimika, Minggu (4/2). (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment