PARIWARA: Pelayanan Kesehatan Terhenti Dua Pengungsi Meninggal Dunia

Bagikan Bagikan

Petugas medis periksa kesehatan salah satu pengungsi di Posko pengobatan di Eme Neme Yauware
SAMPAI berapa lamakah pelayanan kesehatan dari Pemkab Mimika melalui Dinas Kesehatan terhadap warga Banti dan Kimbeli yang sejak 20 November 2017 lalu mengungsi dan tinggal bersama dengan keluarganya di Kwamki Lama harus diberikan? Apakah hanya dua minggu, tiga minggu atau satu bulan saja? Apakah waktu tidak sampai sebulan sudah bisa dikatakan cukup?

Lalu setelah itu manjadi tanggung jawab siapa? Apakah tanggung jawab saudara tempat mereka tinggal? Atau tanggung jawab masing masing pribadi? Lalu kalau sampai ada pengungsi yang jatuh sakit, tidak mendapat perawatan dan obat lalu meninggal dunia, ini menjadi tanggung jawab siapa? Apakah Pemkab Mimika dalam hal ini Dinas Kesehatan? Apakah tanggung jawab saudaranya? Atau tanggung jawab keluarganya? Apakah hal ini layak dianggap sebagai kesalahan sendiri?

Kepala Suku Kimbeli, Kamaniel Waker ketika diwawancara, Rabu (14/2) menyoroti kurangnya  pelayanan kesehatan terhadap warga pengungsi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika.

“Pelayanan kesehatan sudah terhenti. Sebelumnya tiap hari datang, lalu setelah itu datang kontrol seminggu satu kali, ada kasih obat gratis. Tapi kemudian tidak ada pelayanan lagi sampai sekarang ini. Sampai ada dua warga pengungsi, salah satunya bernama Jualumala Lawia yang meninggal dunia pada akhir Desember 2017 karena sakit malaria. Ini terjadi karena tidak ada petugas kesehatan yang merawatnya. Sempat dilarikan ke RSMM tapi sampai di RSMM sudah meninggal dunia,” kata Kamaniel.
Terhentinya pelayanan kesehatan dari Dinas Kesehatan ini, membuat warga pengungsi memilih tidak berobat bila sakit. Memang ada obat bantuan yang tersimpan tapi warga takut salah minum obat dan bisa berbahaya bagi kesehatannya. Mau ke Puskesmas terdekat, warga sungkan karena tidak terdaftar sebagai warga Kwamki Lama. Kalau masih ada pelayanan dari petugas kesehatan, tentu warga bisa dibantu minum obat dari obat bantuan yang ada.

Secara umum, pelayanan kesehatan di lokasi pengungsian semestinya dilakukan dalam beberapa bentuk, seperti pelayanan kesehatan dasar yang meliputi: (1). Pelayanan pengobatan. Bila pola pengungsian terkonsentrasi di barak-barak atau tempat-tempat umum, pelayanan pengobatan dilakukan di lokasi pengungsian dengan membuat pos pengobatan.

(2). Pelayanan imunisasi. Bagi pengungsi khususnya anak-anak, dilakukan vaksinasi campak tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Adapun kegiatan vaksinasi lainnya tetap dilakukan sesuai program untuk melindungi kelompok kelompok rentan dalam pengungsian. (3). Pelayanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan yang harus dilaksanakan adalah: Kesehatan Ibu dan Anak (pelayanan kehamilan, persalinan, nifas dan pasca-keguguran), keluarga berencana (KB), deteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDS, dan Kesehatan reproduksi remaja.

(4) Pelayanan gizi. Tujuannya meningkatkan status gizi bagi ibu hamil (bumil) dan balita melalui pemberian makanan optimal. (5). Pemberantasan penyakit menular dan Pengendalian vector. Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian dan memerlukan tindakan pencegahan karena berpotensi menjadi KLB antara lain: campak, diare, cacar, malaria, varicella, ISPA, tetanus.

(6). Pelayanan promosi kesehatan. Kegiatan promosi kesehatan bagi para pengungsi diarahkan untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan ini mencakup:  Kebersihan diri, Pengolahan makanan, Pengolahan air minum bersih dan aman dan Perawatan kesehatan ibu hamil (pemeriksaan rutin, imunisasi). (7). Pelayanan kesehatan masyarakat, berfungsi untuk mencegah pertambahan (menurunkan) tingkat kematian dan jatuhnya korban akibat penyakit.

Sebagian dari pelayanan-pelayanan kesehatan seperti disebutkan di atas sudah dilakukan Dinas Kesehatan Mimika kepada para pengungsi asal Banti dan Kimbeli ini. Tapi ada yang belum dilakukan dan seharusnya itu dilakukan sebelum terjadi masalah. Alasan bahwa para pengungsi sudah tinggal terpencar sehingga tidak bisa lagi dilakukan pelayanan kesehatan, tidak bisa dibenarkan. Karena mayoritas pengungsi hingga saat ini terkonsentrasi di Kwamki Lama. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment