Tajuk: Hati-Hati Statusmu, Beritamu, Penjaramu

Bagikan Bagikan
Ilustrasi Hati-hati di medsos

MEDIA sosial (medsos) seperti facebook, twitter, istagram dan sejenisnya sesungguhnya merupakan media bersosialisasi, media berkomunikasi, media berteman, media melepas rindu kepada sahabat, teman, saudara, kekasih atau keluarga yang tinggal se kota atau berbeda kabupaten, provinsi bahkan di luar negeri. Media yang digunakan untuk berbagi berbagai informasi, suka, duka, terlebih aktivitas yang dilakukan seharian.

Intinya medsos ini memiliki tujuan yang mulia dan untuk kebaikan bersama. Namun pada kenyataannya, ada banyak pihak yang justru memanfaatkan medsos ini untuk tujuan yang negatif. Medsos justru dipergunakan untuk menyalurkan ketidaksenangan, ketidaksukaan, menyebarkan kebencian, kemarahan, caci maki, bahkan fitnah kepada pihak lain.  Akhir-akhir ini Medsos lebih banyak digunakan untuk menyebar berita bohong (hoax).

Akibatnya Medsos yang semestinya melahirkan kesenangan dan kepuasan bathin bagi seseorang, justru berdampak menggelindingan ‘perang’ antar dua orang, bahkan antar kampung. Medsos yang mestinya menyambungkan rindu dua orang atau lebih, justru memutuskan hubungan cinta dua insan, memecah hubungan kekeluargaan dan menjauhkan silahturahim. Bahkan bisa menghilangkan nyawa seseorang. Medsos yang mestinya menjadi pembawa terang, justru menjadi hantu pembawa kegelapan dan maut.

Untuk memastikan Medsos tidak disalahgunakan dan diselewengkan tujuan mulianya, Pemerintah Pusat menerbitkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE).  UU  ini mengatur tentang informasi serta transaksi elektronik, atau teknologi informasi secara umum. UU ini memiliki yurisdiksi yang berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum yang berada di wilayah hukum Indonesia. Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) sudah mengalami revisi menjadi UU Nomor 19 Tahun 2016. UU hasil revisi ini mulai nerlaku, Senin, 28 November 2016.

Satu hal yang pasti sejak UU ini diberlakukan, sudah banyak pengguna medsos yang diproses hukum. Pasal dan ayat yang paling banyak dilanggar adalah pemfitnahan, pencemaran nama baik, pembohongan, memutarbalikan fakta dan penyebarluasan kebencian, terlebih dalam hal suku, agama, ras dan golongan (SARA).

Terlebih menjelang dan memasuki masa kampanye menuju pelaksanaan Pilkada serentak pada 27 Juni 2018 mendatang, berita bohong yang bertujuan menjatuhkan calon pasangan lain ramai bertebaran di media sosial. Banyak akun di medsos yang tidak jelas siapa pemiliknya, baik itu perorangan atau grup. Akun ini memang sengaja dibuat untuk melakukan kampanye hitam melalui status atau berita-berita bohong untuk menjatuhkan calon pasangan bupati/wakil bupati atau calon gubernur/wakil gubernur tertentu.

Lebih parah lagi, banyak pengguna medsos yang tanpa pikir panjang langsung membagi (share) status atau berita bohong dari akun lain ke teman-temannya. Ini membuat status atau berita bohong tersebut cepat berkembang dan dalam waktu singkat bisa dibaca dan diketahui ribuan hingga jutaan orang. Uniknya, banyak pengguna medsos yang kemudian percaya begitu saja status atau berita bohong tersebut. Bahkan ikut-ikut membangun opini negatif terhadap paslon tertentu tanpa check dan recheck kebenaran dari status atau berita bohong tersebut.

Fakta sudah membuktikan status dan berita bohong yang sengaja dipublis akun medsos tertentu sangat membahayakan keamanan di suatu daerah, terlebih pada masa Pilkada. Karena itu sangatlah tepat, bila Polri, sampai ke tingkat Polres, termasuk Polres Mimika saat ini menyiapkan diri, untuk melakukan langkah-langkah antisipasi, agar medsos tidak dijadikan sebagai wadah kampanye hitam bagi paslon peserta Pilkada.

Bagi pengguna medsos di Timika, dalam proses menuju Pilkada serentak pada 27 Juni mendatang, setiap kita bebas membuat status atau berita apa saja  medsos kita, tapi pastikan itu tidak menghina, mencemarkan, menjatuhkan dan mempermalukan pasangan lain. Pilihan boleh saja berbeda. Tapi kelola perbedaan itu secara bijak dan cerdas. Kalau ada ketidaksukaan dan kebencian terhadap satu paslon, maka medsos bukanlah tempat untuk melampiaskan hal tersebut.

Ingatlah ‘Mulutmu harimaumu,’ maka dalam medsos, statusmu, beritamu bisa menjadi penjaramu, bila itu melanggar UU ITE. Jadi berhati-hatilah selalu. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment