Disdik Minta Siswa Pakai Pakaian Adat Saat Mendengar Pengumuman Kelulusan

Bagikan Bagikan
Ilustrasi Euforia kelulusan SMA
SAPA (TIMIKA) – Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Mimika meminta semua siswa  di seluruh Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (SMA/SMK) yang hendak menerima kabar kelulusan wajib mengenakan pakaian adat. Hal ini dilakukan agar menghindari aksi coret pakaian seragam dan konvoi kendaraan roda dua.

“Kami sudah meminta semua kepala sekolah supaya siswanya mengenakan pakaian adat saat menerima kabar kelulusan. Para Kepsek juga setuju dengan permintaan kita. Mudah-mudahan besok (hari ini, red) anak-anak kita mau kenakan pakaian seragam. Pengumuman kelulusan akan dilakukan secara serentak di semua sekolah dan akan dilakukan pada pukul 15.00 WIT,” ungkap kepala seksi kurikulum Disdik Kabupaten Mimika, Drs. Manto Ginting saat ditemui Salam Papua di kantor pusat pemerintahan (Puspem) Mimika, Rabu (2/5).

Menurut dia, apresiasi kelulusan harus diarahkan ke hal-hal positif dengan menyumbangkan pakaian seragam kepada adik kelas ataupun yang membutuhkan. Sebab, coret pakaian seragam merupakan bagian dari pelecehan terhadap atribut pendidikan.

Ia juga mengatakan, hasil ujian nasional UNBK dan USBN secara lengkap dengan nilai raport telah diterima dari Provinsi dan juga telah diserahkan secara resmi kepada perwakilan ataupun Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA/SMK yang dilanjutkan ke dalam rapat dewan guru.

Selanjutnya ia menambahkan, penilaian kelulusan dinilai dari empat faktor. Satu, siswa telah mengikuti semua mata pelajaran dari kelas X hingga XII. Dalam artian, semua siswa harus memiliki nilai raport dari semester 1 hingga 5. Dua, setiap siswa harus berkelakuan baik yang dinilai langsung oleh masing-masing guru kelas. Tiga, wajib lulus ujian sekolah (US) dengan nilai minimal yang ditentukan oleh masing-masing satuan pendidikan. Dan ke Empat, harus mengikuti ujian nasional (UN).

Diakuinya, standart nilai dari empat mata pelajaran (Matpel) yang diujikan adalah 55. Empat Matpel tersebut adalah Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris serta program keahlian di masing-masing satuan pendidikan.

“Boleh dikatakan bahwa UN tidak menentukan batasan nilai, akan tetapi wajib mengikuti. Dalam hal ini, meski mendapatkan nilai nol, maka bukan menjadi suatu persoalan. Kalaupun ada yang mendapatkan nilai di bawah 55, tapi akan diberikan kesempatan UN perbaikan pada bulan Juli mendatang,” katanya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment