Fokus Pendidikan Plt Bupati Tantang Kadisdik Mimika

Bagikan Bagikan
Tantangan buat Kadisdik: Anak-anak asli Papua mempunyai keinginan besar terhadap pendidikan, dibutuhkan kasih sayang dan perhatian lebih untuk menggali potensi dalam diri mereka.   
Sudah Berhasilkah Pendidikan Orang Asli Papua di Mimika?
APRESIASI yang sangat tinggi perlu diberikan kepada  Plt Bupati Mimika, Yohanes Bassang, sambutannya pada upacara peringatan Hardiknas kemarin, Rabu (2/5). Paling tidak, ada 5 fokus pendidikan yang diungkap, yakni: pendidikan tidak mengenal usia, perihal analogi “berapa sisa guru yang hidup”, pendidikan dan budaya Papua, karakter dalam proses pendidikan, dan perhatian terhadap semua lembaga pendidikan di Mimika. Untuk itu, 5 fokus pendidikan tersebut menjadi tantangan bagi Disdik Mimika, khususnya Kadisdik, untuk semakin menumbuhkembangkan pendidikan di Mimika.

Memang perlu juga memberi apresiasi kepada Kadisdik Mimika, Jenni O. Usmany, beserta timnya di Disdik Mimika yang selama ini sudah berusaha keras dengan berbagai kebijakan dan program kerjanya untuk memajukan pendidikan di Kabupaten Mimika. Namun 5 fokus pendidikan yang telah diungkap Plt Bupati di atas, harus diakui, merupakan kebutuhan pendidikan di Mimika saat ini.

Oleh sebab itu, Kadisdik harus segera melaksanakannya dalam bentuk kebijakan dan program kerja. Mungkin ada di antara ke-5 faktor tersebut sudah atau sedang dikerjakan oleh Disdik Mimika. Namun ketika itu menjadi perhatian Plt Bupati, berarti hal itu belum maksimal pelaksanaannya. Dan jika ternyata diabaikan atau tidak dilaksanakan oleh Kadisdik, maka bisa memunculkan pandangan di masyarakat bahwa Kadisdik telah membangkang terhadap pimpinannya, atau bisa juga ada yang berpandangan bahwa Plt Bupati saat ini tidak memiliki cukup kekuatan dan kewenangan terhadap Kadisdik Mimika. Semoga hal ini tidak terjadi. Semoga!

Sedikit membahas 5 fokus pendidikan Plt Bupati tersebut…

Pertama, pendidikan tidak mengenal usia atau long life education. Saat ini pendidikan di Mimika sepertinya hanya fokus kepada anak-anak usia sekolah, tapi masih sangat kurang atau mungkin bahkan belum menyentuh orang-orang dewasa, khususnya orang asli Papua (OAP). Masih banyak OAP dewasa di Mimika ini yang belum bisa membaca, menulis atau menghitung (3M). dalam hubungnya dengan budaya literasi, budaya membaca masih menjadi masalah besar bagi masyarakat di Mimika saat ini. Salah satu buktinya, orang-orang di Mimika dalam membaca berita cenderung hanya membaca judul beritanya tapi tidak mau membaca isi beritanya.

Kedua, analogi “berapa sisa guru yang hidup”. Sepintas, analogi tersebut seakan menjadi kritik Plt Bupati bagi Kadisdik Mimika dalam hubungannya dengan polemik guru yang belum menemukan solusinya hingga saat ini. Tapi semoga saya salah! Lepas dari hal tersebut, sepertinya analogi itu mengandung pesan bahwa guru harus diperhatikan dan dimotivasi dalam memperjuangkan peningkatan pendidikan di Mimika, baik di dalam kota maupun di pedalaman. Guru jangan dipersulit dan ditekan sampai tidak memiliki hak hidup dalam melaksanakan tugasnya sebagai pahlawan bangsa. Semoga juga saya salah dengan pemaknaan ini!

Ketiga, pendidikan dan budaya Papua. Seperti yang kita ketahui, pemerintah pusat melalui Kemdikbud sedang menggalakkan hal ini dalam program pendidikan nasional saat ini. Namun jika diperhatikan di Mimika, pendidikan yang disandingkan dengan budaya Papua masih sangat minim terungkap dalam kurikulum pembelajaran di setiap sekolah di Mimika.

Keempat, karakter dalam proses pendidikan. Sejauh mata memandang, ada banyak siswa sekolah di Mimika yang sudah merokok, memakai seragam tidak sesuai aturan, bolos, jarang masuk sekolah, menggunakan Miras dan Narkoba atau Aibon dan lain sebagainya. Sepertinya, sekolah malah membiarkan hal tersebut, mungkin dengan alasan si siswa melakukannya di luar jam sekolah. Apalagi jika dihubungkan dengan OAP di Mimika, ada orang tua atau keluarga OAP yang belum mendukung pembentukan karakter anaknya, mungkin karena karakter dasarnya berkarakter keras. Seperti, kata makian mungkin sudah biasa di lingkungan keluarganya. Jika sekolah menghukum siswa OAP karena tidak disiplin, orang tuanya atau keluarganya bukan mendukung sekolah untuk membentuk karakter anak menjadi lebih baik, tapi malah sekolah khususnya guru akan menjadi sasaran intimidasi lewat kekerasan. Sehingga akhirnya pihak sekolah dan guru menjadi takut menindaklanjutinya serta cenderung membiarkan.

Kelima, perhatian terhadap semua lembaga pendidikan. Selama ini Disdik Mimika lebih perhatian kepada sekolah dasar sampai menengah, tapi belum terlihat perhatikan dan bantuan kepada 4 Perguruan Tinggi di Mimika yang diakui Kemenristekdikti. Padahal lembaga ini akan mencetak para sarjana yang bisa difungsikan di Kabupaten ini.

Akhirulkalam, saya sedikit mengerucut kepada beberapa permasalahan pendidikan OAP yang saya sempat bahas di beberapa faktor di atas. Jika orang Papua tidak mengubah budaya pendidikannya, kapan orang Papua bisa menjadi pemimpin bangsa ini dan menjadi tuan atas tanahnya sendiri, khususnya di tanah Amungsa yang kita cintai ini? Tapi jika mungkin saya salah menilai, maafkan saya. Tapi pertanyaannya, sudah berhasilkah pendidikan bagi OAP di Mimika? Hanya orang asli Papua yang bisa menjawabnya dengan kejujuran dan komitmen yang besar pada peningkatan kualitas orang Papua di bangsa ini. Salam! (Jimmy Rungkat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment