Kemenag Mimika: Politik Tidak Dicampuradukkan di Bulan Puasa

Bagikan Bagikan
Kepala Kemenag Kab.Mimika, Utler Adrianus.

SAPA (TIMIKA) - Pesta demokrasi Pilkada Serentak 2018 yang kini sedang berlangsung, bertepatan dengan bulan suci ramadhan 1439 H. Oleh karena itu, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Mimika meminta agar pasangan calon (Paslon) bupati dan wakil bupati Mimika periode 2018-2023 untuk tidak menggabungkan politik pada saat kampanye selama bulan puasa.

“Semuanya harus memperhatikan hal itu, dimana politik tidak dicampuradukkan dalam bulan puasa. Jadi, semua paslon juga harus memperhatikan itu, jangan sampai mengarahkan para umat muslim yang berpuasa untuk melakukan hal-hal yang membatalkan puasanya, seperti misalnya saling mengadu domba,” kata Kepala Kantor Kemenag Mimika, Utler Adrianus, saat ditemui Salam Papua di SMK Yapis Mimika, Senin (7/5).

Ia mengatakan, sebagai calon pemimpin di Kabupaten Mimika, tentunya setiap paslon bisa memperhatikan ketentraman antar umat beragama agar keamanan dan kesejahteraan Kabupaten Mimika bisa tetap terjaga.

“Jangan sampai paslon mencederai bulan yang penuh kemuliaan ini. Kita berpuasa, dimana umat muslim bukan hanya menahan lapar dan haus dahaga, melainkan menjaga hawa nafsunya. Jadi, sebagai masyarakat yang notabene beragama, harus menjaga ketentraman dan kenyamanan saudara-saudara kita yang berpuasa,” ujarnya.

Lanjut Utler, memisahkan persoalan politik harus selaras dengan ajaran dalam beragama. Dimana, dalam berpolitik tidak perlu membawa-bawa agama, begitu juga sebaliknya dalam beragama juga tidak perlu berpolitik.

“Politik tidak boleh dicampuradukkan dengan agama. Sebab, jika politik dan agama digabungkan maka politik akan menjadi radikal. Ketika ada oposisi, maka oposisi akan disingkirkan atas nama kafir, murtad dan lain sebagainya,” terangnya.

Adapun masa kampanye yang tengah berlangsung, kata Utler, tidak boleh menganggu waktu berpuasa umat muslim. Pasalnya, selama berpuasa umat muslim tidak boleh tergoda dengan hal yang membatalkan puasanya itu.

“Agama itu sesuatu yang suci, sementara politik kotor. Biarkanlah saudara-saudara yang berpuasa bisa menuntaskan puasanya. Proses tahapan Pilkada tetap berlangsung dengan menyeleraskannya dengan kaidah yang ada. Jangan karena masalah politik yang membuat situasi panas juga membuat orang membatalkan puasanya. Paslon harus mengetahui, yang namanya demokrasi harus dari hati nurani dan bukan sesuatu yang dibuat-buat,” ujarnya. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment