Lima Jurus Risma Hadapi Teror Bom Surabaya

Bagikan Bagikan
Seminggu Pasca Bom, Walikota Risma Ajak Masyarakat Kunjungi Mal, Surabaya Sudah Kondusif, untuk menggairahkan kembali masyarakat Surabaya belanja di Mal. 
Oleh Abdul Hakim *)
TEROR bom bunuh diri di tiga gereja, Kota Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13-5-2018), kemudian di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/5), membuat trauma mendalam di kalangan warga Kota Pahlawan.

Tentunya hal ini menjadi tugas dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memberikan rasa aman dan nyaman kepada warganya setelah kejadian itu. Berbagai upaya dilakukan orang nomor satu di Surabaya ini.

Risma pun bergerak cepat menghadapi peristiwa teror bom di Kota Surabaya. Setidaknya, ada lima "jurus" atau langkah taktis yang dilakukan Risma dalam menghadapi teror bom dalam sepekan ini.

Adapun lima jurus tersebut, pertama aksi, Risma langsung turun ke lapangan meninjau tiga gereja dan Mapolrestabes Surabaya yang terkena teror. Bahkan, Risma terlihat ikut mendampingi kunjungan Presiden RI Joko Widodo dan Kapolri Jendral Pol. Tito Karnavian ke sejumlah lokasi pengeboman.

Selanjutnya, Risma mengumpulkan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. Dia pun memerintahi mereka untuk membantu kerja kepolisian.

Tidak hanya itu, Risma juga ikut turun mengikuti penggerebekan rumah terduga teroris yang dilakukan oleh Densus 88 di rumah milik keluarga pelaku bom bunuh diri di tiga gereja di Jalan Wonorejo Asri Blok K/22A, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut, Minggu (13/5) malam.

"Ini adalah cobaan. Kita tidak boleh menyerah. Kita tidak boleh kalah dengan hal-hal yang sifatnya menakut-nakuti warga Surabaya. Ingat kita punya Tuhan Yang Mahakuasa," kata Risma kepada warga Surabaya.

Jurus Simpati Jurus kedua simpati, Risma menunjukkan rasa simpatinya kepada para korban teror bom dengan menjenguk korban luka-luka yang dirawat di rumah sakit maupun mengunjungi keluarga dari korban meninggal dunia di rumahnya.

Bahkan, dia juga menyempatkan waktu untuk melayat ke rumah korban yang meninggal seraya menguatkan para keluarga yang ditinggalkannya. Risma bersama rombongan mendatangi rumah duka almarhum Aloysius Bayu Rendra Wardhana, Jalan Gubeng Kertajaya I Nomor 15A Surabaya.

Diketahui bahwa Bayu merupakan salah satu korban meninggal dunia dari ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya. Sosok Bayu menjadi perbincangan setelah dia disebut melakukan aksi heroik, menghadang motor pengebom di depan Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Nomor 1, Gubeng, Surabaya.

Atas tindakannya yang menghentikan sepeda motor yang dikendarai Yusuf Fadhil (18) yang membonceng adik kandungnya, Firman Hakim (16), sambil memangku bom rakitan, Bayu menjadi pahlawan karena mampu menyelamatkan sekitar 500 anggota jemaat Gereja SMTB yang sedang mengikuti akhir dari misa atau kebaktian rutin.

Bayu berhasil membuat laju motor Yusuf Fadhil terhenti dan langsung meledak di halaman gereja. Seketika itu pula, tubuh Bayu yang tinggi itu hancur bersama kedua pengendara dan pembonceng motor yang menabraknya.

Ketiga dialog, Risma tidak mau kejadian serupa terjadi lagi di Kota Surabaya sehingga dia langsung menggelar sejumlah dialog, di antaranya menggelar dialog dengan RT/RW.

Saat bertemu dengan RT/RW, dia mengimbau mereka untuk selalu deteksi dini dan menekankan agar tetap waspada terhadap orang-orang yang mencurigakan dan tidak mudah terprovokasi.

"Saya juga minta warga untuk ikut mem-'pressure' ruang gerak pelaku teror. Makanya, siskamling dan PAM swakarsa kalau bisa mohon untuk diaktifkan kembali," kata Risma kepada para RT/RW di Surabaya.

Ciri-Ciri Pelaku Wali kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu juga menjelaskan ciri-ciri para pelaku teror yang tinggal di tengah-tengah masyarakat. Biasanya, orang seperti itu justru lebih sopan dan ramah terhadap tetangga.

Namun, lanjut dia, untuk kehidupannya keseharian ataupun pekerjaannya, mereka akan lebih tertutup. Risma mengimbau jika ada warga yang dicurigai, jangan memaksa untuk mengatasinya.

Hal itu ditekankan Risma karena tidak mau terjadi apa-apa dengan warganya. Dia meminta warga memberikan informasi apa saja yang diterimanya dan biar aparat keamanan yang bergerak.

Selain itu, Risma juga berdialog dengan kepala sekolah se-Surabaya. Saat itu, dia meminta kepala sekolah untuk berkomunikasi dengan wali kelas agar mampu mendeteksi anak-anak yang mengalami perilaku aneh ketika berbicara.

Menurut dia, hal itu akan menjadi informasi awal untuk ditindaklanjuti. "Guru BK (bimbingan konseling) dan agama saya minta untuk aktif berinteraksi dengan anak-anak karena sangat berperan penting dalam mengembangkan perilaku dan pola pikir anak," kata dia.

Selanjutnya, Risma juga berdialog dengan Takmir Masjid se-Kota Surabaya. Saat itu, dia menjelaskan bahwa ajaran Islam tidak pernah mengajarkan untuk menyakiti orang lain.

Makanya, dia meminta seluruh takmir masjid untuk terus memegang teguh ajaran rasul. Dia juga menjelaskan bahwa Islam itu adalah agama rahmatan lil alamin, yaitu agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan dan jin, apalagi sesama manusia.

"Banyak sekali ayat-ayat di dalam Quran yang menerangkan bahwa Islam itu ajaran yang sangat mulia. Maka dari itu, mari kita bersatu dan saling bersilaturahmi dengan erat. Agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.

Berdialog dengan Guru Dialog berikutnya dengan guru agama se-Kota Surabaya. Pada saat itu, Wali Kota Risma menjelaskan bahwa manusia hidup itu tidak hanya mengurusi hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga harus memperhatikan hubungan antarsesama manusia.

Hal ini pula yang harus diperhatikan oleh anak-anak di sekolah. Dia menekankan agar para siswa-siswi di sekolah digenjot kembali pembelajaran toleransi. Ini perlu dilakukan agar anak-anak bisa lebih peduli kepada sesamanya.

Bahkan, dia juga meminta untuk mengajari anak-anak tentang sejarah yang telah dilalui Indonesia untuk memperoleh kemerdekaannya. Anak-anak perlu diingatkan bahwa Indonesia punya sejarah yang dibangun dengan berdarah-darah sehingga sangat tidak layak apabila melupakan sejarah.

"Saya mohon mengajarkan bahwa kita punya sejarah dan perjuangan yang sangat luar biasa. Kalau kita sekarang bisa menikmatinya, lalu melupakannya, berarti kita menjadi orang yang tidak tahu berterima kasih," ujarnya.

Selain itu, Risma juga berdialog dengan para psikolog dan psikiater. Saat dialog itu, dia meminta untuk bergandeng tangan menghilangkan rasa takut dan trauma anak-anak Surabaya.

Bahkan, dia juga sudah membuat tim yang terdiri atas para psikolog dan psikiater untuk bersama-sama menyembuhkan kondisi psikis dari anak-anak korban ledakan bom bunuh diri.

Keempat santunan, wali kota yang sarat dengan prestasi ini memberikan santunan kepada korban teror bom yang luka-luka maupun yang meninggal. Santunan itu berupa uang, perawatan sampai sembuh bagi korban yang luka-luka, bantuan pemakaman bagi korban yang meninggal, ganti rugi kerusakan bagi korban terdampak teror bom yang mengalami kerugian materiil, dan beasiswa bagi anak korban teros bom.

"Semua nanti pengobatan hingga pemakaman dan lain-lain, itu akan ditanggung oleh Pemerintah Kota Surabaya. Jadi, keluarga 'ndak' perlu khawatir, pemkot akan bantu selesaikan nanti," katanya.

Kelima penghargaan, untuk memberikan aspirasi kepada semua pihak yang telah membantu penanganan teror bom di Surabaya. Risma memberikan penghargaan yang diserahkan pada Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) Ke-110. Penghargaan itu diberikan kepada pihak rumah sakit, universitas, psikolog, dan kepolisian.

Pada kesempatan itu, Risma menegaskan bahwa teror bom di Surabaya tidak membuat penduduk Kota Pahlawan larut dalam duka dan amarah. Justru sebaliknya, peristiwa itu makin menguatkan rasa persatuan dan kesatuan antarumat beragama.

"Tidak boleh menyerah. Usaha dan niat baik yang sudah lama kita pupuk jangan sampai dirusak oleh orang-orang yang ingin memecah belah kerukunan sesama manusia. Kita harus bekerja sama dan berinteraksi," katanya.

Apresiasi Kalangan DPRD Kota Surabaya memuji upaya cepat yang dilakukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dalam mengatasi situasi dan kondisi pascateror bom yang terjadi dalam sepekan ini.

Wakil Ketua Fraksi PKS DPRD Kota Surabaya Reni Astuti menyampaikan dukacita mendalam kepada keluarga korban dan memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Surabaya atas penanganan keluarga korban.

"Kami mengapresiasi pemerintah kota yang telah memberikan santunan kepada keluarga korban dan memberikan beasiswa kepada anak-anak korban," katanya.

Hal sama juga dikatakan anggota Komisi C DPRD Surabaya Vinsensius Awey dari Partai NasDem. Ia mengapresiasi apa yang dilakukan oleh Risma dengan mengumpulkan seluruh perangkat aparatnya, pengurus RT/RW, hingga ormas yang ada di Kota Pahlawan guna menciptakan suasana yang kondusif.

"Kuncinya untuk menjaga keamanan memang bukan hanya pada kepolisian dan pemerintahan, melainkan juga masyarakat," ujarnya.

Menurut dia, masyarakat bisa mewujudkan lingkungan yang kondusif di sekitarnya dengan peduli dan mendeteksi terhadap kejadian yang berlangsung di wilayahnya.

"'Leading'-nya sektornya pengamanan memang ada pada aparat. Akan tetapi, masyarakat bisa ambil bagian dan bangkit," katanya.

Awey mengatakan bahwa gerakan moral untuk mengajak warga Surabaya segera bangkit telah disampaikan ke pemerintah kota. Gerakan ini penting agar aktivitas masyarakat normal kembali seperti sediakala. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment