Mandiri Rohani

Bagikan Bagikan

Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu .., supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. (Yosua 1:7)

DALAM menjalankan usaha katering dan event perkawinan, Gibran Rakabuming, putra pertama presiden ke-7 RI, tidak memanfaatkan kedudukan ayahnya sebagai pejabat di negeri ini. Dengan rasa percaya diri dan keyakinan, inovasinya yang diikuti optimisme serta daya juang yang tinggi membuatnya berhasil.

Sekalipun awalnya usaha ini ditentang oleh orang tuanya, dan usaha pinjaman modalnya sempat ditolak oleh beberapa bank, Gibran tidak menyerah dan putus asa. Sehingga hasilnya sekarang, membuatnya dapat melayani pelanggan 8.000 paket katering dan tujuh event pernikahan sekaligus, dalam sehari.  Di usianya yang ke-27 tahun, Gibran muda terus berusaha mencapai sukses dalam kemandirian hidupnya.

Demikian seharusnya dengan kerohanian kita. Harus mampu “mandiri rohani”. Dalam nats kita hari ini, Tuhan berpesan melalui Musa kepada Yosua untuk memiliki  "optimisme iman", penuh semangat, bertindak hati-hati dan  selalu waspada dalam menjalankan hidup sesuai kehendak Tuhan. Ini adalah hal yang mutlak bagi Yosua dalam melanjutkan kepemimpinan bagi Bangsa Israel.

Bagaimana dengan keadaan rohani kita? Memang tidaklah mudah untuk hidup “mandiri rohani” di tengah keadaan sukar yang menghadang kemandirian rohani kita, karena keadaan manusia akhir zaman yang terus bertambah jahat. Mungkin saja tantangan itu datang dari tetangga kita, teman sekerja atau bahkan orang yang serumah dengan kita, yang gaya hidupnya mementingkan diri sendiri, menjadi hamba uang, suka membual, menyombongkan diri, memfitnah orang lain memberontak terhadap orang tua, tidak mau berdamai dan garang, berlagak tahu serta lebih menuruti hawa nafsu (2 Timotius 3:1-5). Realita ini mungkin bisa saja berpotensi membuat kita lemah.

Marilah, kita munculkan niat yang dilanjutkan dengan tindakan untuk  berusaha mandiri rohani. Mau tak mau, hidup mandiri rohani adalah syarat mutlak bagi kita agar dapat menjalani kehidupan ini dengan baik dan benar di hadapan Tuhan. Pasti berkat-Nya menjadi milik kita, sebab bila Tuhan berjanji, Ia pasti menepatinya dan membuat kita beruntung ke mana pun kita pergi. 

“Tuhan Yesus, mampukan aku  untuk menumbuhkan keinginan dan bertindak melakukan hal-hal yang membuatku mandiri rohani, untuk menjadi berkat bagi sesama. Amin.” (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment