Masyarakat Mimika Diajak Tidak Permasalahkan Perbedaan

Bagikan Bagikan
Plt Bupati bersama Sekda Mimika memberikan santunan dalam kegaitan buka puasa bersama.

SAPA (TIMIKA) - Plt Bupati Kabupaten Mimika, Yohanis Bassang, mengajak semua lapisan masyarakat di Mimika untuk tidak mempermasalahkan adanya perbedaan. Sebab, menurut dia, perbedaan merupakan sesuatu yang indah. Sehingga, ia menuntut semua manusia termasuk masyarakat Mimika untuk memahami perbedaan tersebut.

“Kalau ada orang yang tidak bisa memahami perbedaan maka, banyak kekonyolan yang akan dia lakukan. Tapi kalau bisa memahami perbedaan itu maka, ia akan merasakan bahwa kehidupannya indah dan selalu bahagia dengan berkat Tuhan. Diharapkan dengan pelaksanaan buka puasa bersama, bisa menyatukan perbedaan dan menjadikan kita semua bersaudara,” kata Yohanis dalam sambutanya ketika menggelar kegiatan Buka Puasa Pemkab Mimika bersama Forkopimda dan Masyarakat Mimika, Rabu (30/5), di Rumah Jabatan Wakil Bupati, Jalan Poros SP3.

Sebagai manusia yang beriman tentunya saling menghargai, menghormati serta toleransi antara satu dengan yang lainnya. Sebab, jika dipikir, kehidupan semua manusia seperti sebuah bangunan yang indah, dalam hal ini keindahannya akan lebih nampak jika dibangun dari berbagai unsur material yang diperlukan, seperti atap seng, kayu, batu dan pasir serta unsur lainnya. Begitu juga sebaliknya, jika sebuah bangunan hanya dibangun dari satu unsur atau bahan material, maka, keindahan bangunan itu belum tentu nampak dan menarik simpatik.

Selain diibaratkan bangunan, menurut dia, kehidupan manusia juga seperti bunga. Jika dalam satu taman hanya ditumbuhi bunga dengan satu warna, belum tentu bagus untuk dipandang. Namun ketika dalam satu taman ditumbuhi bunga dengan berbagai warna maka, sudah tentu tampak indah dipandang mata.

“Itulah kehidupan kita manusia, kita tidak bisa hidup sendiri tanpa ada yang lainnya. Ketika kita saling memahami antara satu dengan yang lainnya, maka kita kaya akan pengalaman hidup. Coba saja kalau saya hanya bergaul bersama dengan masyarakat dari Toraja, maka saya tidak akan dapat apa-apa dalam hidup ini. Tapi karena saya bergaul dengan orang Jawa, Batak, Bali, Papua, Ambon dan suku yang lainnya, maka ilmu saya semakin bertambah,” terangnya.

Hidup di Negara Indonesia menurutnya sangat luar biasa, karena terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. Dengan demikian, ketika umat kristen, budha dan hindu merayakan hari kebesaranya, maka saudara yang beragama islam bisa diundang dan menikmati santapan bersama. Begitu pula sebaliknya, ketika umat islam merayakan puasa dan lebaran, saudara-saudara dari kristen, hindu dan budha pun diundang untuk ikut berbuka puasa bersama.

“Saat berpuasa begini banyak saudara-saudara saya yang muslim datang membawa makanan ke rumah, atau mengundang saya untuk makan bersama. Indah dan bahagia sekali rasanya. Begitu juga kalau natalan, saudara yang kristen saling berbagi masakan kepada yang muslim. Itu sangat indah,” tuturnya. 

Saat ini, Mimika sedang melaksanakan pesta demokrasi melalui pemilihan calon bupati dan calon wakil bupati periode 2018-2023. Berdasarkan kebiasaan, dalam pesta demokrasi terdapat kegembiraan didalamnya. Sehingga, semua masyarakat harus menciptakan situasi tetap aman dan damai, dalam hal ini tidak boleh berpikiran bahwa persoalan keamanan merupakan tanggungjawab aparat kepolisian dan TNI, akan tetapi merupakan tanggungjawab bersama.

“Karena kedamaian itu tercipta dari dalam diri individu dan keluarga masing-masing. Karena, bukan hanya polisi dan tentara yang susah keluar rumah kalau situasi kacau, kita semua juga akan merasakan kesusahan untuk bekerja kalau situasi sudah kacau balau. Pada dasarnya, kita semua bertanggungjawab atas kedamaian di Mimika,” katanya.

Kegiatan buka puasa bersama yang disertai dengan penyerahan santunan kepada panti asuhan se-Mimika, juga disertai dengan tausiyah yang disampaikan Ustadz H. Akhir Iribaram. Dalam tausiyahnya menyampaikan, setiap perbedaan suku, ras dan agama selalu mengajari untuk saling mengasihi. Dimana, Tartil Qur’an pada pembukaan buka puasa bersama memberikan sugesti oleh Allah SWT bahwa, jika kamu (kita) sudah menjadi orang yang beriman, baik muslim ataupun kristen dan agama lainnya, maka berpuasalah dan berbuat baik. Begitu pula dalam acara ini, Pemkab Mimika memberikan bingkisan kepada anak-anak panti asuhan. Pemberian santunan itu, berarti memberikan gambaran seperti yang diajarkan di dalam Al Qur’an bahwa, semua manusia harus saling berbagi diantara satu dengan yang lainnya.

Selain itu, ia pun setuju dengan apa yang disampaikan Plt Bupati dalam sambutan, dimana setiap agama ingin memperlihatkan kepada umatnya untuk saling mengasihani. Karena, tidak ada satu pun agama yang mengajarkan untuk membuat orang lain menjadi susah.

“Plt Bupati telah sampaikan bahwa ketika seseorang telah hidup beragama, maka tidak bisa saling menghakimi bahwa orang lain salah dan kita benar. Intinya tidak boleh saling menyalahkan satu dengan yang lainnya. Karena, kalau itu kita lakukan maka kita telah menyalahkan Tuhan. Dalam perbedaan itu mempunyai satu ajaran, yaitu kebenaran,” katanya.

Selanjutnya, ia mengungkapkan bahwa saat ini di Papua telah didiami oleh berbagai suku dan agama dengan warna kulit dan bentuk rambut yang berbeda. Namun, tanah Papua karena merupakan tanah yang telah ditunjuk sebagai seorang ‘Mama’ yang merupakan sumber kehidupan, maka, sangat banyak orang dari luar Papua yang datang untuk hidup dan mencari nafkah di tanah Papua.

“Dahulu, khusus kita yang di Papua, selalu berpikir bahwa kenapa yang memimpin ibadah di masjid selalu ustadz dari luar atau bukan Papua? Begitu juga dengan di gereja, dimana selalu dipimpin oleh pendeta atau pastor dari luar Papua. Tetapi seiring dengan perkembangan waktu maka, saat ini di gereja dan masjid sudah ada orang Papua yang memimpin ibadahnya. Itu semua nikmat Tuhan,” terangnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment