Masyarakat Mimika Kecam Terorisme Dengan Aksi 1.000 Lilin

Bagikan Bagikan
Aksi 1.000 lilin di Tugu Perdamaian Timika Indah.
SAPA (TIMIKA) - Teror bom yang terjadi di Surabaya, Jawa Timur juga menjadi perhatian seluruh masyarakat yang ada di daerah-daerah di Indonesia. Di Kabupaten Mimika, Papua perhatian itu ditunjukkan melalui aksi seribu lilin yang digagas Komunitas Peduli Mimika dan diikuti ratusan masyarakat Mimika untuk mengecam aksi terorisme, Senin (14/5) malam, di bundaran Tugu Perdamaian, Timika Indah.

Aksi terorisme yang dilakukan kelompok radikalisme di Indonesia dianggap merupakan perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan. Apapun itu jika yang berkaitan dengan teror, aparat keamanan diharapkan tegas memberantas hingga ke akar-akarnya.

Aksi 1.000 lilin mengecam tindakan terorisme diawali pembacaan doa untuk keselamatan bangsa Indonesia, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta lagu-lagu perjuangan guna menumbuhkan rasa kebangsaan.

Aksi ini diiringi dengan pembacaan pernyataan sikap atas aksi-aksi terorisme yang terjadi di Indonesia oleh Ketua Komunitas Peduli Mimika, Carolina.

Antusias dari ratusan masyarakat Mimika dalam aksi ini mendapat pengawalan ketat dari pihak kepolisian resort Mimika, sehingga kegiatan ini berakhir dengan aman dan kondusif.

Berikut pernyataan sikap yang disampaikan dalam aksi 1.000 lilin mengecam tindakan terorisme di Indonesia:

1.Mengecam tindakan terorisme dan kekerasan atas nama apapun (Suku, agama, ras dan golongan) yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk memecah belah persatuan bangsa ataupun menggiring Negara ini menjadi sebuah Negara yang tidak lagi berdasarkan pada Pancasila.

2.Meminta kepada pemerintah dan aparat keamanan untuk segera mengusut tuntas peristiwa pengeboman terhadap beberapa gereja di Surabaya, bahkan menegakkan hukum yang tegas atas pelaku beserta jaringan-jaringannya. Disamping juga memberikan keterangan serta informasi yang jelas agar tidak terjadi kesimpangsiuran di masyarakat.

3.Meminta kepada politisi ataupun seluruh pemangku kebijakan tidak mengomentari peristiwa ini secara berlebihan dan menggoreng isu ini sebagai komoditas politik sesaat yang mengarah ke arah yang destruktif.

4.Tidak menggunakan media sosial untuk menyebarkan ujaran kebencian dan wacana-wacana yang bisa semakin memperkeruh suasana.

5.Mendesak kepada DPR RI dan Pemerintah segera mempercepat dan mengesahkan RUU Anti Terorisme sebagai payung hukum untuk mengatasi keberulangan peristiwa seperti ini di masa yang akan datang.

6.Mendesak kepada Negara (Pemerintah) untuk menjamin kebebasan serta keamanan beribadah bagi seluruh warganya.

Sebelumnya, aksi kerusuhan narapidana teroris terjadi di Rutan Mako Brimob yang berujung gugurnya lima anggota polisi disertai aksi penyederaan anggota polisi. Selanjutnya aksi penikaman seorang anggota polisi di area Mako Brimob, yang disusul teror bom pada sejumlah gereja di Surabaya. Sehari berselang, aksi bom bunuh diri kembali terjadi di Mapolrestabes Surabaya yang menewaskan pelaku dan sejumlah anggota polisi.

Bahkan di Mimika sendiri, pihak kepolisian sempat mengincar dua orang yang berdomisili di Kampung Limau Asri-SP 5, Distrik Iwaka. Kedua pelaku ini diduga kuat merupakan sel-sel jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) yang hendak melakukan aksi teror di Mimika. Beruntung rencana aksi teror mereka dapat digagalkan, keduanya berhasil ditangkap pada Sabtu 5 Mei 2018. Dari kedua pelaku, diamankan sejumlah barang bukti untuk merakit bom. Kemudian pada Senin 7 Mei 2018, kedua pelaku dikirim ke Jakarta untuk menjalani proses penyidikan lebih lanjut. (Sld)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment