Mengenal Potensi Anak Melalui Tes Sidik Jari

Bagikan Bagikan
Ilustrasi, tes sidik jari

SAPA  (TIMIKA) - Setiap manusia telah mendapatkan anugerah oleh Tuhan. Adapun dari sekian banyak anugerah tersebut, terdapat beberapa yang menonjol yang disebut potensi, mulai dari bakat seni, kemampuan berbahasa hingga intelektual. Hal tersebut dapat diketahui dengan melakukan tes sidik jari.

Tes sidik jari merupakan salah satu cara yang objektif dan praktis. Pasalnya, para orangtua lebih mudah melakukan pengamatan terhadap aktivitas anak dan dapat membantu orangtua untuk lebih mengasah dan mengarahkan potensi menonjol yang dimiliki si anak.

“Cara ini merupakan jembatan untuk mengetahui gambaran diri si anak. Kalau dia sudah tahu cara belajarnya dari mana, maka kedepannya dia bisa percaya diri,” ujar Konsultan Bagian Tes Kecerdasan, Judith Trianti Sahertian, S.Psi kepada Salam Papua, pada Sabtu (26/5).\

Ia menjelaskan, melalui tes jari tipe kecerdesan majemuk dapat diketahui, seperti kinestetis,  intrapersonal, logika matematika, bahasa, interpersonal, naturalis dan visual spasial. Selain itu, hal lain seperti gaya belajar dan gaya kerja juga dapat diketahui.

“Masing-masing ditentukan dari hasil tes nanti. Misal si anak kinestetiknya menonjol, orangtua bisa arahkan ke aktivitas yang sesuai dengan kecenderungan itu. Nanti setelah mengikuti tes, hasil laboratoriumnya akan kami jelaskan kepada orangtua. Kalau hasilnya sedang, bukan berarti anak tidak mampu. Tugas orangtua untuk menstimulasi anak agar timbul minat,” ujar wanita yang akrab disapa Yudith ini.

Tes sidik jari dapat dilakukan oleh segala umur, bayi hingga lanjut usia. Pasalnya, meski dilakukan tes berulang kali dengan selisih waktu yang cukup lama, tak akan pernah mengubah hasil.

“Ini sudah anugerah dari Tuhan. Setiap goresan jari sudah terbentuk oleh Tuhan yang tidak akan berubah kecuali kecelakaan dan sebagainya. Semua jari yang ada disebelah kiri mewakili semua potensi yang ada di otak kanan dan begitu juga sebaliknya,” ujarnya.

Lebih lanjut, tes sidik jari akan berbeda dengan tes psilokogi yang dipengaruhi pada saat tes.

“Banyak tes yang lebih mengarah pada tes kepribadian. Kelemahan tes psikologi adalah, kita harus benar mengetahui kondisi mood dan kesehatan orang itu prima. Tetapi kalau tes sidik jari ini, kalaupun orang itu sakit, tes akan tetap berlangsung dengan hasil yang sama jika orang itu sehat,” ujarnya.

Adapun kata Yudith, tes sidik jari untuk mengetahui banyak hal itu merupakan tes genetik (DNA) manusia.

Ada tiga bentuk sidik jari yang dikenal secara luas, yaitu busur (arch), sangkutan atau lengkungan (loop) dan lingkaran (whorl). Bentuk pokok tersebut terbagi lagi menjadi beberapa sub-kelompok, antara lain plain arch, tented arch, ulnar loop, radial loop, plain whorl, central pocket loop whorl, double loop whorl dan accidental whorl. Perbedaan utama dari ketiga bentuk pokok tersebut terletak pada keberadaan core dan delta pada lukisan sidik jarinya.

“Jari ini kan terdiri atas lima, yakni ibu jari merupakan jari apresiasi. Apabila bentuknya loop, artinya orang itu menggunakan perasaan. Ia akan memuji seseorang dengan hati-hati agar orang itu tidak merasa tersinggung. Tetapi kalau whorl, orangnya itu tidak perduli. Dia akan bilang sesuai dengan apa yang seharusnya dikatakan,” jelasnya.

Untuk jari telunjuk, merupakan jari perintah. Dimana bentuk loop menggambarkan orang itu akan memberikan perintah pada siapapun tanpa memperdulikan apapun. Sedangkan whorl, merupkan orang yang berhati-hati dalam melakukan perintah sehingga tujuannya dapat terwujud sesuai dengan keinginannya.

“Kalau loop itu pada saat ditengah jalan, baru dia sadar bahwa orang dia perintahkan itu ternyata tidak sesuai,” katanya.

Selanjutnya, jari tengah menggambarkan tindakan dan jari manis menggambarkan komunikasi.

“Loop itu orangnya moody-an. Kalau moodnya bagus, semua hal akan dilakukan dengan baik tapi tidak selincah whorl. Whorl adalah orang yang disipilin, semuanya akan ditata sedemikian mungkin. Untuk Komunikasi, jari berbentuk loop itu merupakan orang yang hubungan sosialnya sangat baik, sedangkan whorl tidak. Karena dia orangnya pilih-pilih teman,” terangnya.

Sedangkan jari kelingking mengarah pada trendsetter. “Loop kalau masalah gadget atau handphone, dia orangnya kuno, yang penting handphone yang dimiliki bisa digunakan seperti yang lain,” ujarnya.

Selain hal tersebut, melalui tes sidik jari, gaya belajar seorang dapat ditentukan yang terdiri atas tiga model gaya belajar. Pertama visual, lebih cenderung belajar dengan menggunakan indera penglihatan.

“Mereka lebih mudah menyerap informasi secara visual, baik data teks seperti tulisan dan huruf, maupun data gambar seperti foto atau diagram. Mereka pun lebih mudah mengingat dengan melihat. Singkatnya adalah lebih suka membaca, lebih mudah menangkap pelajaran lewat materi bergambar, memiliki kepekaan kuat terhadap warna, tertarik pada seni lukis, pahat dan gambar, daripada musik, serta mudah menghafal tempat dan lokasi,” katanya.

Kedua, auditory yang menggunakan indera pendengaran. Anak-anak lebih cepat menyerap data berupa bahasa atau nada. Ciri-cirinya adalah mudah ingat dari apa yang didengar atau dibicarakan dengan teman-teman atau lingkungannya, senang dibacakan atau mendengar cerita dibanding membaca cerita sendiri, suka menuliskan kembali sesuatu, senang membaca dengan suara keras, pandai bercerita, bisa mengulangi apa yang didengarnya baik nada atau irama, lebih suka humor lisan dibandingkan humor tulisan, senang diskusi, bicara, bertanya, atau menjelaskan sesuatu dengan panjang, serta mudah mempelajari bahasa asing,” katanya.

Ketiga, model belajar kinestetik. Mereka ini lebih cenderung belajar dengan gerakan dan sentuhan. Misalnya, gemar menyentuh segala sesuatu yang dijumpainya, suka mengerjakan sesuatu yang memungkinkan tangannya sangat aktif, suka menggunakan objek nyata sebagai alat bantu belajar, banyak melakukan gerakan fisik. Ketika membaca, menunjuk kata-kata dalam bacaan dengan jari tangannya serta lebih suka mendemonstrasikan sesuatu dengan peragaan atau gerakan daripada menjelaskan.

Untuk gaya kerjanya, Yudith menjelaskan, terdiri atas eksekutor, leader, pengelola dan pengamat. Dimana, cara kerja eksekutor yaitu mampu menyelesaikan seluruh tugasnya dengan baik dan disiplin. Kendati demikian, hubungan sosial untuk gaya kerja eksekutor harus lebih mendapat perhatian.

Kemudian, gaya kerja leader, merupakan anak yang penuh dengan inisiatif. Gaya kerja pengelola, itu sejak kecil sudah terlihat dari tingkah laku yang mampu menata sesuatu tanpa mendapat arahan. Sedangkan gaya kerja pengamat yaitu orangnya suka mengamati perkembangan yang ada.

“Bukan hanya menunjukkan anak ini bekerja apa, tapi juga solusi untuk mengatasi bagaimana kerjanya. Setelah mengetahui semua itu, maka, selanjutnya anak-anak akan masuk tahap penjurusan,” ujarnya.

Sekedar diketahui, untuk mengikuti tes sidik jari ini, memiliki tiga paket dengan harga yang berbeda, untuk reguler senilai Rp400 ribu, paket penjurusan Rp375 ribu dan paket lengkap Rp800 ribu. Informasi lengkapnya dapat menghubungi nomor telepon 085257447411 atau 082311609999, atau juga bisa datang pada alamat Jalan Busiri ujung, Lorong Gersen nomor 48. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment