Mewaspada Hancurnya Pancasila Jelang Pilkada Mimika

Bagikan Bagikan
Ilustrasi, Iblis Pemecah Belah

PERSAINGAN politik berwujud perselisihan atau konflik horizontal yang begitu tajam kerap kali terjadi menjelang pesta demokrasi. Bahkan perselisihan itu bukan saja terjadi di kalangan elit politik sebagai yang berkepentingan dalam meraih kemenangan, tapi juga bisa sampai pada memecah belah hubungan keluarga seumur hidup karena berbeda pilihan. Padahal, sebut saja Pilkada,yang merupakan salah satu aplikasi demokrasi Indonesia yang seharusnya mengedepankan nilai-nilai Pancasila, namun karena persaingan politik yang salah kaprah tersebut, Pancasila akhirnya terancam hancur dan tak membekas di kehidupan masyarakat.

Meneropong konteks menjelang Pilkada di Kabupaten Mimika, nilai-nilai Pancasila yang saat ini bisa saja berpotensi pada kehancuran yakni identitas agama dan yang paling mendominasi adalah identitas suku. Ada kemungkinan besar terbaca, bahwa setiap Paslon sedang memetakan kekuatan politiknya berdasarkan agama dan suku yang menjadi identitas agama dan atau suku dari Paslon tersebut. Dan bahkan, setiap Paslon mungkin saling merebut simpati masyarakat Mimika dari Paslon lainnya yang terikat dengan identitas tersebut melalui cara yang tidak beradab, seperti halnya melalui money politic serta sumbangan sosial yang bertendensi “jahat”.

Dan juga mungkin dengan sengaja melanggar UU Pilkada No. 10 Tahun 2016 dan Peraturan KPU No. 4 Tahun 2017, di mana salah satunya melalui berkampanye terselubung atau memasang alat peraga kampanye di tempat ibadah, gedung atau fasilitas pemerintahan, di lembaga pendidikan, di jalan-jalan protokol, dan di tempat-tempat lainnya yang dilarang dalam UU Pilkada tersebut. Termasuk di dalamnya dilarang melakukan pawai di jalan raya.

Alhasil, jika tidak diwaspadai, mungkin para elit politik yakni Paslon dan tim suksesnya (timsesnya), sadar atau tidak, sedang menciptakan situasi dan kondisi di mana masyarakat Mimika saat ini akhirnya sedang dikotak-kotakan pada persinggungan identitas agama dan suku yang sangat tajam. Serta hal itu sedang menjadi seperti bom waktu yang tinggal menunggu saat dan pemicunya sehingga konflik horizontal yakni pertengkaran atau peperangan meledak di tengah-tengah masyarakat Mimika.

Jika sekiranya hal yang saya sampaikan di atas memang terjadi di Mimika saat ini, maka para Paslon dan timsesnya harus segera mengubah cara-cara tidak bijak seperti di atas demi mengantisipasi hancurnya Pancasila dan demi mengejawantah nilai-nilai Pancasila secara holistik (seutuhnya) yang sungguh-sungguh lahir di hati, sikap dan karakter dalam setiap pribadi yang mewujud nyata di dalam keluarga, di tempat kerja dan di masyarakat Mimika.

Apalagi, pada tanggal 1 Juni mendatang, Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila, yang mana sejak tahun 2017, hari tersebut sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional menurut Keppres Nomor 24 Tahun 2016. Untuk tahun 2018 ini, peringatan Hari Lahirnya Pancasila mengangkat tema secara nasional: “Kita Pancasila: Bersatu, Berbagi, Berprestasi”.

Sebagai benang merah dalam semangat peringatan Lahirnya Pancasila tersebut, maka setiap Paslon dan timsesnya pun harus memaknai hal tersebut dengan selalu menjadikan Pancasila sebagai barisan terdepan dalam upaya pemenangan Pilkada, yang pastinya melalui cara-cara dan atau kampanye yang bertujuan bagi pemenuhan nilai-nilai Pancasila secara utuh di masyarakat Mimika.

Jika para Paslon benar-benar mencintai masyarakat Mimika secara utuh dan niat pencalonannya untuk memimpin Kabupaten Mimika karena berorientasi pada kemajuan, pengembangan serta kesejahteraan masyarakat Mimika, maka para Paslon harus mengedukasi masyarakat tentang demokrasi yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila.

Dalam kerangka tema nasional peringatan lahirnya Pancasila di tahun 2018 ini, para Paslon dan timsesnya harus mampu menciptakan integrasi bangsa yang salah satunya melalui integrasi suku di masyarakat Mimika. Usulan caranya yakni dengan mengkampanyekan serta merealisasi semangat bersatu, berbagi dan berprestasi melalui berbagai kegiatan sosial di masyarakat. Yang mana di setiap kegiatan terjadi pembauran suku, yakni dihadiri dan atau dilaksanakan secara bersama-sama oleh semua elemen masyarakat yang berasal dari berbagai suku di Kabupaten Mimika.

Dan semestinya langkah ini dilakukan bukan saja menghiasi pertarungan politik menjelang Pilkada, tapi juga harus terus dilakukan dan dihidupkan setelah pelaksanaan Pilkada oleh semua Paslon dan timsesnya, baik yang menang maupun yang kalah.

Di samping itu, masyarakat Mimika juga harus selalu menjadikan Pancasila sebagai pedoman dan nilai-nilai hidup bersama di tengah-tengah masyarakat, walaupun di latarbelakangi oleh berbagai perbedaan identitas suku, agama, ras dan antargolongan (SARA) masing-masing. Kita jangan bersifat primordialisme, yang artinya jangan merasa identitas kita tersebut lebih kuat atau lebih unggul dari identitas orang lain di tanah Amungsa yang kita cintai ini. Karena kita Pancasila. Salam! (JIRU)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment