Pendidikan Membuka Jendela Dunia dan Tidak Kenal Usia

Bagikan Bagikan
Plt Bupati mimika, Yohanes Bassang

SAPA (TIMIKA) -  Plt Bupati mimika, Yohanes Bassang mengatakan pendidikan merupakan kunci yang mampu membuka jendela dunia dan  tidak mengenal usia.

Dalam sambutannya pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) ke- 110 di Kabupaten Mimika  yang dirangkaikan dengan upacara Hari  Tanah Papua bergabung ke dalam Negara Kesatuan Kepublik Indonesia (NKRI), Yohanis mengangkat kisah seorang ibu yang diundang dalam satu acara TV nasional swasta.

Dimana, dalam acara tersebut ada seorang Ibu yang memulai kuliah jenjang Strata Satu (S1) ketika berusia 65 tahun dan  menyelesaikan kuliah di usia 69 tahun. Namun, ibu tersebut tetap melanjutkan kuliah ke jenjang S2 dan menyelesaikannya di usia 73 tahun dan dilanjutkan dengan menempuh S3 dan mendapatkan ijazah S3 di usia 79 tahun.

Diakuinya, dalam kesehariannya, ibu tersebut selalu diantar dan dijemput oleh suaminya untuk berkuliah. Akan tetapi, ketika sang suami jatuh sakit, maka ibu  teresebut harus menumpang angkutan umum. Karena menggunakan angkutan umum, maka ketika hendak berangkat kuliah, suaminya yang sedang sakit mengingatkan agar harus membawa serta kartu pengenal sebagai mahasiswa, sehingga biaya transportasi akan dikurangi dari hitungan sebagai masyarakat umumnya.

Selanjutnya, ketika hendak turun dari angkutan umum yang ditumpangi tersebut, sebelum membayar, ibu tersebut hanya menunjukan kartu mahasiswa. Hal ini sangat membingungkan kondektur angkutan umum tersebut, karena merasa tidak percaya bahwa masih ada ibu dengan usia rentah masih tercatat sebagai mahasiswa.

Dengan demikian, sang kondektur mengucapkan ‘Terima kasih dan hati-hati yah  dek’. Mendengar ucapan tersebut, ibu tersebut  mengatakan, usianya tidak pantas dipanggil ‘dek’ karena cucu dan cecenya telah berusia sama dengan sang kondektur tersebut.

“Kisah ini menjelaskan kepada kita bahwa pendidikan tidak mengenal batas usia. Kita pasti bingung karena ibu tersebut memilih untuk kuliah di usia pensiun. Selain itu, ibu ini juga mambuka mata bagi generasi muda untuk mau bersekolah, karena tidak ada kata terlambat dalam menempuh pendidikan.
Dengan pendidikan juga kita mampu membuka jendela dunia melalui ilmu pengetahuan,” tutur Yohanes.

Selanjutnya ia menjelaskan bahwa  ketika kota Hirosima dan Nagasaki di tahun 1945 dibumi hanguskan serta masa peperangan usai, hal pertama yang dipertanyakan oleh pimpinan tertinggi Negara Jepang adalah berapa sisa guru yang hidup?

“Pertanyaan berapa sisa guru yang hidup’ menunjukkan betapa pentingnya pendidikan di seluruh dunia termasuk di Mimika,” jelasnya.

Selanjutnya ia mengharapkan agar pendidikan disandingkan dengan budaya, sehingga setinggi apapun title pendidikan yang diraih oleh seseorang, harus mampu diseimbangkan dengan etika budaya yang dianutnya.

Sebab, meski berpendidikan tinggi, tapi  jika tidak memiliki sopan santun yang baik, maka tidak memiliki arti apa-apa.

Selain itu, ia juga mengatakan agar semua lembaga pendidikan di Mimika harus diberikan bantuan agar bisa mendorong pendidikan yang maju demi menciptakan generasi yang cerdas, beretika dan menjunjung tinggi persoalan peradapan manusia.

“Kalaupun seseorang bergelar S1, S2 dan S3, tapi kalau tidak memiliki etika yang baik maka semuanya akan sia-sia. Pendidikan itu harus disandingkan dengan budaya,” katanya. (Acik) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment