Saat Dua Pejuang Reformasi Bertemu

Bagikan Bagikan
Anwar Ibrahim ketika bertemu dengan Habibie

Oleh Azis Kurmala
Sejarah mencatat pada Kamis, 21 Mei 1998, menjadi akhir perjalanan panjang Soeharto yang resmi turun tahta, tepat 20 tahun silam.

Berakhirnya kekuasan pria yang dijuluki "The Smiling General" itu, menandai awal dari sebuah era baru dalam sejarah Indonesia.

Presiden yang berkuasa selama 32 tahun itu menyerahkan kekuasaan kepada BJ Habibie yang saat itu menjabat wakil presiden.

Bacharuddin Jusuf Habibie atau lebih dikenal dengan nama B.J. Habibie menjadi presiden pertama sejak lahirnya era reformasi.

Era ini dianggap sebagai awal periode demokrasi dengan perpolitikan yang terbuka dan liberal.

Habibie yang hanya menjabat Presiden Republik Indonesia selama satu tahun dan lima bulan mampu meletakkan fondasi baru di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya maupun pertahanan keamanan di tengah ancaman disintegrasi bangsa.

Sementara itu, di belahan dunia lainnya yaitu Malaysia, mantan wakil perdana menteri Anwar Ibrahim memulai gerakan reformasi.

Anwar membakar semangat pendukungnya pada 2 September 1998 untuk turun ke jalan melawan rezim penguasa Barisan Nasional.

Namun, pada 20 September 1998, Anwar berakhir di balik jeruji besi. Dari dalam tahanan, Anwar terus memimpin gerakan reformasi hingga terbentuk Partai Keadilan Nasional, yang menyatukan kekuatan dengan Partai Islam Se-Malaysia (PAS) dan Partai Aksi Demokratik (DAP) untuk mendirikan koalisi Barisan Alternatif dalam pemilu 1999.

Warga Malaysia mengingat 2 September jatuhnya koalisi penguasa Barisan Nasional, yang akhirnya berakhir dua dekade kemudian pada 9 Mei 2018.

Belum genap seminggu dibebaskan dari penjara Malaysia, mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia itu menemui BJ Habibie untuk menyambut ulang tahun ke-20 Reformasi Indonesia dan mengenang almarhumah Ibu Ainun Habibie di Jakarta, Minggu (20/5) siang.

Ketua Umum Partai Keadilan Rakyat Malaysia itu tiba di kediaman Habibie pada pukul 13.02 WIB menggunakan setelan jas hitam.

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia itu masuk ke kediaman Habibie seraya melambaikan kedua tangan kepada awak media.

Seusai melakukan pertemuan dengan Habibie, Anwar berbicara kepada awak media. Ia mengatakan reformasi di Indonesia memberikan pelajaran berharga bagi Malaysia.

Pada 1998, reformasi di Indonesia itu bergulir dan mengesankan bagi Anwar Ibrahim.

Anwar mengaku bahwa dia mengikuti reformasi di Indonesia dari dekat. Ia pun kenal baik dengan Presiden Soeharto dan pernah mengunjungi beliau pada saat itu.

Selepas itu, Anwar dicopot dari jabatan Wakil Perdana Menteri Malaysia dan kemudian berakhir dipenjara karena berselisih dengan Mahathir Mohammad.

"Selepas itu, saya dipecat dan slogan pertama saya adalah reformasi. Saya pilih reformasi karena inklusif. Mayoritas umat Islam, Melayu dan pribumi, China dan India, itu mendukung reformasi," kata dia.

Anwar mengaku belajar banyak dari Indonesia tentang reformasi.

Pengalaman Indonesia tentang peralihan dari sistem yang lama ke sistem yang baru menjadi pelajaran bagi Malaysia, ia mengungkapkaan.

Ia mengatakan Malaysia ingin belajar dari Indonesia yang berhasil melakukan reformasi pada 1998.

Anwar menegaskan pelaksanaan agenda reformasi sangat penting di Malaysia maupun di Indonesia.

Pengalaman Indonesia terkait transformasi dari sistem lama ke yang baru itu mampu mengajak semua masyarakat, ujar Anwar.

"Peralihan dari sistem yang lama kepada sistem yang lebih demokrasi itu benar dan berhasil," kata dia.

Selain itu, lanjutnya, pembentukan institusi-institusi pada awal reformasi di Indonesia menjadi pembelajaran yang baik bagi Malaysia, kata dia.

"Pembentukan institusi-institusi di awal reformasi harus kita pelajari.Namun, di Malaysia , institusi itu tidak separah seperti yang ada di orde baru maupun di orde lama," kata dia.

Karena itu, lanjut dia, harus ada tim yang mengkaji penggalaman Indonesia terkait reformasi mulai dari era BJ Habibie sampai dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo.

"Itu perlu kita teliti baik yang sukses maupun tidak baik agar kita tidak mengulangi kelemahan atau kegagalan. Misalnya permasalahan korupsi, kesenjangan, dan kemiskinan," kata dia.

Anwar mengatakan Malaysia dibawah kepemimpinan Mahathir ingin melakukan perubahan ke arah yang lebih baik di berbagai institusi.

"Lembaga pengadilan, penegak hukum, serta lainnya di Malaysia harus diperkuat untuk menghilangkan budaya korupsi maupun pejabat yang menyalahgunakan wewenangnya," kata dia.

Ia mengungkapkan Mahathir sudah melakukan pembaharuan di awal cukup besar.

"Selama seminggu ini, ia konsisten terhadap janjinya yang disampaikan pada masa kampanye. Saya rasa kita berada di landasan yang tepat," kata dia.

Ia menyarankan kepada Mahathir untuk memilih orang-orang yang berkompeten dalam mengisi jabatan menteri.

Terkait kedekatannya dengan Mahathir, ia mengaku memiliki kesamaan tujuan untuk melaksanakan dan menerjemahkan agenda secara spesifik.

"Yaitu badan kehakiman yang adil, media yang bebas, dan program ekonomi mengurangkan kesenjangan dan menghapuskan kemiskinan," ujar dia.

Anwar mengaku akan mengawasi dan melihat kesungguhan Perdana Menteri terpilih Mahathir Mohammad dalam menjalankan roda pemerintahan.

Sementara itu, mantan Presiden Republik Indonesia Bacharuddin Jusuf Habibie mengatakan bahwa Anwar Ibrahim mempunyai cita-cita yang sama yaitu memperjuangkan rakyat.

"Beliau dan saya tidak ada masalah sebagai manusia yang berbudaya, berpendidikan dan bergama. Cita-cita saya dan beliau itu sama, yaitu kita pro rakyat. Kita memikirkan bagaimana agar rakyat itu kualitas kehidupannya meningkat," kata dia.

20 Tahun Reformasi Habibie mengatakan bangsa Indonesia telah melalui banyak hal sejak berakhirnya rezim Orde Baru pada 1998 silam.

Ia mengatakan tiap bangsa dan masyarakat memiliki dasar untuk perjuangan. Itu yang dinamakan konstitusi, disesuaikan dengan budayanya dan keadaannya.

Dalam rezim Orde Lama dan Orde Baru, Indonesia tidak memiliki Mahkamah Konstitusi (MK), sehingga untuk menentukan sesuatu, mengikuti keputusan penguasa, yaitu presiden.

Habibie mengingatkan Pancasila bukan suatu teori yang dikembangkan oleh sekelompok ilmuwan dalam ilmu sosiologi. Namun, Pancasila adalah rumusan yang diakui oleh generasi Bung Karno (Soekarno) dan sang proklamator sendiri.

Pancasila digali dari tubuh bangsa Indonesia dan itu mencerminkan nilai-nilai utama dalam kehidupan bangsa ini.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, menegaskan, kendati saat itu 90 persen rakyat Indonesia membaca Al Qur'an, Tanah Air ini bukan negara Islam.

Ini negara dari satu masyarakat yang percaya ada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, jangan minta undang-undang yang kompatibel dengan pemikiran agama tertentu.

Karena itu yang diperjuangkan Indonesia adalah peradaban yang sesuai dengan Pancasila mulai dari sila pertama hingga kelima.

Perjuangan tersebut harus dilakukan dalam kondisi yang seimbang. Bangsa ini tidak hanya ingin memperjuangkan sila pertama, namun harus kelima sila.

Apabila ada orang yang ingin mengadu domba antargolongan di Indonesia, maka harus dilawan bersama.

Ia menekankan adu domba tidak boleh terjadi di Indonesia.

Selain itu, ia mengungkapkan perjuangan bangsa Indonesia masih panjang.

Indonesia membutuhkan manusia berkualitas. Manusia berkualitas adalah manusia yang memiliki perilaku yang menguntungkan masyarakat. Perilaku tersebut ditentukan oleh dua hal, yakni agama dan budaya.

Habibie meminta kepada mayoritas yang ada di Indonesia untuk memberi perhatian pada minoritas, seperti perasaan aman dan nyaman.

Hal itu dilakukan agar semua masyarakat di Indonesia dapat bersaudara satu sama lain.

Dua puluh tahun reformasi ternyata masih saja ada anak bangsa yang mementingkan golongan, kelompok dan individu sendiri daripada kepentingan umum.

Bahkan ada sebagian dari anak bangsa yang menjadi manusia-manusia yang individualis dan egois.

Karena itu, momentum 20 tahun reformasi harus menjadi titik awal untuk kembali kepada semangat nilai-nilai Pancasila. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment