Tanggapan MUI Atas Pernyataan Bakesbangpol Soal Teroris di Mimika

Bagikan Bagikan
Ketua MUI Mimika, H. Muhammad Amin, Ar, S.Ag.
*Jangan Ciptakan Stigma yang Menyulut Perpecahan Dikalangan Anak Bangsa


SAPA (TIMIKA) - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Mimika menanggapi penyampaian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika dalam hal ini Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol). Dimana, Bakesbangpol menyampaikan bahwa ada ciri-ciri terduga teroris yang dapat diketahui karena cara berpakaiannya. Selain itu, Bakesbangpol juga menyebutkan beberapa lokasi di Mimika yang disinyalir terdapat (komunitas) terduga teroris didalamnya.

Menurut Ketua MUI Mimika, H. Muhammad Amin, Ar, S.Ag, apa yang disampaikan Kepala Bakesbangpol, Petrus L. Koten harusnya didukung dengan data yang akurat sehingga apa yang disampaikan jelas hingga ke publik. Tetapi jika apa yang disampaikan itu tidak jelas sehingga menjadi pertanyaan besar di masyarakat, dalam hal ini tidak memiliki data yang akurat, maka sebaiknya apa yang sudah disampaikan itu harus di klarifikasi. Itu agar tidak menimbulkan stigma buruk di masyarakat yang justru dapat menciptakan perpecahan, yakni dengan menyebutkan bahwa teroris dapat diketahui dengan cara melihat aktivitasnya serta ciri-cirinya berpakaian.

"Kalau misalkan iya (benar), harus didukung dengan data yang jelas. Kalau tidak benar berarti itu harus di klarifikasi. Jangan kita menstigma bahwa ada orang jenggot lebat, pakai songko kemudian celana jingkrak itu teroris, tidak semua," kata Muhammad Amin saat diwawancara usai menghadiri kegiatan komunikasi sosial (Komsos) di aula Koramil Kota, Jalan Yos Sudarso, Jumat (25/5) malam.

Dengan poin penyampaian bahwa ciri-ciri teroris dapat dilihat dari cara pakaian yang dikenakan, maka tidak menutup kemungkinan masyarakat yang mungkin saja kurang paham atau tidak mencerna dari sudut pandang positif soal cara berpakaian yang dimaksud, bisa saja menuding teroris bagi setiap orang yang mengenakan pakaian selayaknya kebanyakan dikenakan oleh umat muslim, seperti misalnya celana jingkrak, atau bagi wanita yang mengenakan cadar (Niqab) atau busana Syar’i.

“Karena ada kelompok komunitas umat Islam yang berpindah dari satu masjid ke masjid yang lain, itu namanya jamaah tabligh, itu jauh dari kepentingan. Pakaiannya kurang lebih sama dengan yang dipakai oleh teroris,” jelasnya.

Oleh karena itu, MUI menyarankan agar segala sesuatunya yang berkaitan dengan hal-hal yang sensitif, harus berhati-hati dan perlu dilihat secara jeli.

“Kita harus hati-hati melihat fenomena dan harus betul-betul jeli. Jangan kita sekedar menyampaikan tanpa didukung oleh bukti dan data yang akurat. Karena akan menyulut perpecahan di kalangan anak bangsa sendiri,” ujarnya.

Terkait keberadaan sel-sel jaringan teroris di Kabupaten Mimika pasca-penangkapan dua terduga teroris di Kampung Limau Asri-Sp 5 beberapa waktu lalu, MUI kembali mengaktifkan tim yang dahulu juga pernah mengindentifikasi keberadaan basis Gafatar di Mimika. Tim ini berjumlah sembilan orang yang sementara ini sedang bekerja mengidentifikasi kelompok-kelompok berpaham radikal. Tim ini akan bekerja dalam kurun waktu tiga bulan untuk memastikan keberadaan kelompok radikal atau teroris dan tentunya bekerjasama dengan aparat keamanan.

“Seperti timnya MUI pada penangkapan Gafatar waktu itu, 2014. Kembali saya aktifkan untuk mereka bekerja, dan bekerja selama tiga bulan,” kata Amin.

Selanjutnya, dalam menangkal paham radikalisme dan teroris di Mimika, di semua masjid yang ada telah disampaikan himbauan. Tidak hanya itu, pada yayasan-yayasan pendidikan islam juga disampaikan agar dapat memberikan pembelajaran bermuatan islam moderat.  

“Kita sudah sampaikan ke yayasan-yayasan pendidikan Islam yang jumlahnya 21 yayasan di Timika ini untuk memberikan pembelajaran tentang Islam moderat, Islam garis lurus, tidak ke kiri, tidak ke kanan. Islam yang seutuhnya,” ujarnya.

Sementara itu menyinggung terkait aksi terorisme khususnya di Indonesia yang kebanyakan menganggap bahwa aksi bom bunuh diri adalah bagian dari jalan untuk berjihad sesuai syariat islam, hal itu menurutnya salah besar. Sebab didalam ajaran islam tidak ada yang mengajarkan membunuh orang lain, apalagi saudara se-bangsa dan se-tahan air.

“Sudah jelas mereka (Teroris) salah paham. Dalam Al-Qur'an sudah jelas, siapa yang membunuh jiwa seseorang, atau merusak kehidupan umat manusia, sama dengan membunuh umat manusia secara keseluruhan. Itu jelas dalam Al Qur'an. Jadi siapa yang melanggar berarti badannya, jasadnya muslim tapi pahamnya bukan muslim,” terangnya.

Sebelumnya, Kamis (24/5), Kepala Bakesbangpol Mimika sempat mengeluarkan statement terkait data dan informasi lokasi-lokasi yang disinyalir adanya aktivitas terduga teroris. Selain itu, juga menyebutkan terduga teroris yang dimaksud dapat diketahui dengan ciri-ciri berpakaian mereka yang mengarah pada simbol-simbol radikalisme dan bertentangan dengan ajaran agama.

“Karena disitu ada berpakaian macam simbol-simbol yang sedikit berbeda dengan umat islam yang lain,” kata Petrus L. Koten saat diwawancara wartawan di Graha Eme Neme Yauware. (Sld)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment