Teroris di Mimika? Rakyat Jangan Takut, Tetap Waspada!

Bagikan Bagikan
Ilustrasi, Radikalisme Melenggang/kartunis-matanew.com

Aksi terorisme kembali terjadi dalam satu minggu terakhir ini di Indonesia. Rangkaian peristiwa terorisme itu sesungguhnya bermula dari Timika, namun tidak terekspos di media nasional. Beruntung pihak kepolisian di Timika dan Papua secara cepat dan tepat mampu menghentikan niat aksi tersebut.

Sebagian besar masyarakat Mimika pun bertanya-tanya, apa tujuan dan di mana sasaran para teroris tersebut dalam merencanakan aksinya di Mimika? Masih adakah oknum teroris lainnya yang menapakkan kakinya dengan begitu bebas di tanah Amungsa ini yang belum teridentifikasi dan atau sedang dalam investigasi pihak kepolisian?

Dua orang terduga teroris di Timika berhasil ditangkap pihak kepolisian, Sabtu (5/5) lalu, yang diduga kuat sedang mempersiapkan aksi terornya di Mimika karena ditemukan ada bahan-bahan yang dipersiapkan untuk merakit bom. Berselang tiga hari kemudian, yakni pada Selasa (8/5) malam, teror terjadi di Mako Brimob Jakarta dengan aksi penyanderaan oleh 155 napi teroris (Napiter).

Kemarin, Minggu (13/5), teror pun kembali terjadi dengan adanya ledakan bom bunuh diri oleh satu keluarga di 3 gereja di Surabaya ketika umat Kristiani dan umat Katolik sedang beribadah, yang menewaskan 11 orang dan 41 orang luka-luka (info terakhir dari detic.com ketika tulisan ini dibuat). Bukan hanya itu, sekitar tiga jam di hari yang sama sebelum peristiwa bom di Surabaya tersebut, Densus 88 anti teror juga menembak mati 4 terduga teroris di Cianjur.

Berbagai ungkapan belasungkawa pun berkumandang di Indonesia terhadap korban aksi terorisme di Surabaya, dibarengi dengan kecaman dan bahkan kutukan dari sejumlah pihak atas aksi teror itu sendiri. Indonesia berduka, Indonesia berwaspada...

Ironis, aksi teror tersebut saat ini ditarik-tarik oleh sebagian orang di Indonesia ini kepada  isu sentimen agama dan isu muatan politik menjelang Pilkada 2018 serta Pilpres 2019. Menurut saya, penarikan kesimpulan di waktu-waktu baru terjadinya peristiwa tanpa melalui kajian penyelidikan yang mendalam, merupakan langkah spekulatif dan sangat berbahaya bagi masyarakat. Karena kesimpulan yang tidak mendasar seperti itu bisa memprovokasi masyarakat ke arah yang negatif dan bahkan bisa menguntungkan pihak teroris yang sedang melancarkan serangannya saat ini untuk mencapai tujuan mereka.

Memang secara kebetulan pelaku teror atau teroris dalam aksi terorismenya adalah oknum-oknum yang beragama Islam. Namun perlu diketahui bahwa tokoh-tokoh Islam dan umat Islam pada umumnya menolak, jika terorisme dihubung-hubungkan dengan agama Islam itu sendiri. Sebab menurut mereka, Islam adalah agama yang cinta damai dan membenci kekerasan. Menurut mereka, para teroris itu terjebak dengan paham radikalisme agama yang salah kaprah. Kenapa salah kaprah? Karena sebenarnya kata radikalisme itu sendiri berasal dari kata “radix” yang berarti “akar”, sehingga radikalisme agama sesungguhnya berarti akar dari agama itu sendiri, yakni cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama manusia.

Untuk itu, masyarakat jangan mau terprovokasi dengan isu bahwa aksi terorisme itu adalah aksi serangan umat Islam terhadap kekristenan. Sebab perlu juga diketahui, bahwa pada kesempatan lain, para teroris pun sering menyerang rumah ibadah dan umat Islam itu sendiri.

Di samping itu, terlalu dini jika menganggap aksi terorisme seminggu ini sebagai rekayasa peristiwa yang bermuara pada maksud politik untuk Pilkada 2018 atau Pilpres 2019. Sebab belum ada yang bisa menunjuk secara terang benderang siapa aktor politik di balik aksi teror tersebut.

Untuk itu, alangkah baiknya jika seluruh elemen masyarakat memandang bahwa aksi teror yang terjadi dalam seminggu ini di Indonesia adalah murni upaya para teroris yang sengaja menyebar rasa takut kepada masyarakat dan pemerintah dengan membuat kekacauan baik melalui kekerasan, serangan bom dan sebagainya untuk mengambil alih kekuasaan penuh terhadap negara saat ini berdasarkan ideologi para teroris (Hoffman, 2009). Karena berdasarkan asal usul kata, terorisme berasal dari kata terrere yang berarti menakut-nakuti.

Oleh sebab itu, seluruh elemen masyarakat harus bekerjasama dengan aparat keamanan, baik TNI maupun Polri, dalam mengantisipasi dan menghadang berbagai bentuk terorisme di Republik ini, dengan cara selalu intens memberi informasi kepada pihak keamanan jika ada gerak-gerik yang mencurigakan di masyarakat. Termasuk jika ada oknum tertentu yang membeli bahan-bahan yang terindikasi membuat bom. Dan juga, secara selektif dan selalu memantau gerakan “orang baru” yang masuk di dalam suatu lingkungan di masyarakat.

Khusus untuk di Mimika, rakyat tidak boleh takut dengan berbagai ancaman terorisme yang sudah terjadi dan selalu waspada dengan melakukan hal-hal seperti di atas. Sebab, ketakutan masyarakat hanya akan menguntungkan pihak teroris. Namun, rakyat jangan main hakim sendiri jika terindikasi ada teroris ditemukan di tengah-tengah masyarakat. Serahkan ke pihak yang berwenang.

Kita juga harus mengakui bahwa tidak ada satu pun yang tahu bahwa seseorang langsung terindikasi sebagai teroris. Kita baru tahu jika seseorang menampilkan ciri-ciri sebagai teroris seperti yang sudah saya ungkapkan di atas. Yang paling diutamakan di sini adalah kerjasama antara masyarakat dan pihak keamanan, serta tidak perlu saling menyalahkan.

Kita harus meninggalkan kebiasaan buruk selama ini, di mana ketika sudah terjadi, baru semua sibuk dengan upaya antisipasi dan upaya penanggulangan. Salam! (Jimmy Rungkat)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment