Warga SP 6 dan Iwaka Keluhkan Masalah Pendidikan dan Kesehatan

Bagikan Bagikan
Anggota DPRD Thadeus Kwalik melakukan kunjungan kerja masa reses I Daerah Pemilihan (Dapil) IV di kampung SP 6 dan Iwaka.
SAPA (TIMIKA) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari Partai Bulan Bintang (PBB)  Thadeus Kwalik melakukan kunjungan kerja masa reses I Daerah Pemilihan (Dapil) IV di kampung SP 6 dan Iwaka. Dalam reses ini, anggota DPRD menampung  aspirasi warga terkait pengadaan air bersih, pendidikan dan kesehatan.

Salah satu warga SP 6 yang juga guru SD, Yuuku menyampaikan, selama ini anak daerah tidak pernah dapat bea siswa. Walaupun ada dana Otonomi Khusus (Otsus), tapi dana tersebut tidak pernah dirasakan warga, terutama dalam bidang pendidikan. Selain itu juga Kartu Indonesia Pintar (KIP) yang ada tidak pernah di nikmati anak-anak sekolah. Kartunya ada tapi tidak bisa digunakan.

"Kartu Indonesia Pintar tidak bsa digunakan. Kami minta kepala dinas terkait untuk turun ke lapangan memperhatikan hal tersebut. Karena dana KIP berasal dari uang negara. Kami minta DPRD agar dapat mendorong dinas pendidikan memperhatikan mekanisme pembagian KIP di sekolah di SP 6," katanya.

Sementara  di Pustu Iwaka, seorang perawat,  Angela Nuriu menyampaikan, sejumlah peralatan perlengkapan pustu seperti  kursi, meja, alat-alat medis sangat kurang. Sedangkan untuk tenaga medis sudah cukup.

Sedangkan untuk bangunan pustu sendiri, diminta dibangun kembali di tengah perkampungan. Karena letak pustu saat ini dinilai cukup jauh dengan perumahan warga.

"Letak Pustu saat ini cukup jauh dari perumahan warga, sehingga di minta dapat dibangun kembali di pertengan perumahan warga," ujarnya.

Di kampung Iwaka, Thadeus Kwalik mengatakan, sangat prihatin dengan kondisi masyarakat. Kampung Iwaka merupakan salah kampung yang cukup lama. Tapi perhatian pemerintah di nilai sangat kurang, terutama bangunan sekolah.

Salah seorang warga Iwaka, Marianus Amawapea mempertanyakan, perhatian pemerintah terhadap kampung Iwaka. Sebagai salah satu kampung yang sudah lama, pemerintah membiarkan warga Iwaka terlantar. Rumah-rumah warga tidak layak huni. Kondisi warga Iwaka dinilai sangat memprihatinkan. Apalagi musim penghujan, kondisi kampung Iwaka terendam air.

"Apabila pemerintah tidak bisa memperhatikan, lebih baik kampung Iwaka  dikembalikan ke Kabupaten Fak-Fak," jelasnya.

Seoran guru di kampung Iwaka, Teddy Berkasa menyampaikan, kondisi sekolah sangat memprihatinkan tapi proses belajar masih terus berjalan. Selain itu, ia mempertanyakan apakah kampung Iwaka masih bagian dari Kabupaten Mimika. Apabila masih bagian dari Kabupaten Mimika kenapa tidak memperhatikan kampung Iwaka. Ia juga mempertanyakan dana Otsus yang selama ini sangat tidak berpihak kepada masyarakat Papua, terutama dalam bidang pendidikan.

"Dana insentif guru pun sampai saat ini belum pernah dibayarkan. Anak-anak sekolah perlu di berikan seragam sekolah dan sepatu, agar layak pergi ke sekolah," ujarnya.

Selain itu, Dinas Perhubungan di minta agar bis sekolah yang datang ke kampung Iwaka tepat waktu. Agar anak anak tidak terlantar  saat pergi  ke sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Dasar dan juga Kepala Dinas Kesehatan diminta agar datang mengunjungi kampung Iwaka untuk mencek bangunan sekolah dan Pustu yang ada di kampung Iwaka.

Sementara, Thadeus Kwalik mengatakan, apa yang disampaikan warga akan di tampung dan di dorong dalam pembahasan anggaran tahun depan. Usulan tersebut akan di sampaikan kepada Pemerintah Daerah.

"Untuk menyikapi semua aspirasi masyarakat, kita minta agar Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil yang terjadi. Tapi apa yang menjadi kewajiban dewan itu akan kami dorong pada APBD yang akan datang," katanya. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment