Imigrasi Mulai Menyidik Pekerja Asing Di Nabire

Bagikan Bagikan
Kepala Kantor Imigrasi Tembagapura Timika, Jesaja Samuel Enock. 

SAPA (TIMIKA) - Jajaran Kantor Imigrasi Kelas II Tembagapura, Kabupaten Mimika, Papua, mulai menyidik kasus 21 warga negara asing yang bekerja secara illegal di lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire.

Kepala Kantor Imigrasi Tembagapura Timika Jesaja Samuel Enock kepada Antara di Timika, Selasa (24/7), mengatakan pihaknya telah mengirimkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) perkara tenaga kerja asing itu ke Kejaksaan Negeri Nabire.

Berkas perkara puluhan pekerja asing asal Tiongkok, Jepang dan Korea Selatan itu pun akan segera dirampungkan untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Nabire.

"SPDP-nya sudah kami kirim ke Kejari Nabire. Pihak Kejari Nabire juga telah membuat P-16 atau penunjukan Jaksa Penuntut Umum untuk mengikuti perkembangan penyidikan perkara ini. Yang jelas, kami serius menangani kasus ini sampai tuntas," kata Samuel.

Ia mengatakan 21 warga negara asing itu disangkakan melakukan tindak pidana keimigrasian berupa kegiatan kunjungan yang tidak sesuai dengan izin tinggal yang diberikan sebagaimana diatur dalam Pasal 122 huruf a UU Nomor 6 Tahun 2011.

Atas perbuatan tersebut, puluhan warga negara asing tersebut terancam pidana penjara selama lima tahun ditambah denda Rp100 juta.

Hingga kini masih terdapat 16 warga negara asing lainnya berada di Nabire dan menunggu jadwal untuk segera dievakuasi ke Timika guna menjalani pemeriksaan.

Berdasarkan pengakuan para warga negara asing itu, mereka didatangkan ke sejumlah lokasi tambang emas rakyat di Kampung Bifasik, Kampung Lagari dan sepanjang aliran Sungai Musaigo, Distrik Makime oleh perusahaan bernama Pacific Maning Jaya yang berkedudukan di Nabire.

"Pemilik perusahaan Pacific Mining Jaya Nabire berinisial BE. Yang bersangkutan akan kita kenakan Pasal 122 huruf b UU Nomor 6 Tahun 2011,"jelas Samuel.

Ia menambahkan, penegakkan hukum terharap puluhan warga negara asing yang bekerja secara ilegal di lokasi tambang emas rakyat di Kabupaten Nabire sebagai efek jera agar ke depan kasus-kasus serupa tidak terulang kembali.

Saat diperiksa oleh penyidik Seksi Pengawasan Orang Asing (Wasdakin) Kantor Imigrasi Tembagapura, Timika, para pekerja asing illegal itu mengaku menerima gaji fantastis hingga mencapai Rp 40 juta per bulan.

"Mereka semua digaji rata-rata 7.000-8.000 Yuan (mata uang Tiongkok) atau sekitar Rp14 juta-Rp15 juta per bulan. Bahkan ada yang sampai Rp 40 juta. Itu keterangan mereka," kata Samuel.

Perusahaan yang mempekerjakan mereka yaitu PT Pacific Mining Jaya yang berkedudukan di Nabire tidak pernah melapor keberadaan puluhan pekerja asing tersebut ke pihak Imigrasi terdekat. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment