Inilah Harapan Para Pendulang

Bagikan Bagikan

INFORMASI akan ada penutupan terhadap tambang terbuka (open pit) Grasberg pada akhir tahun 2018 ini dan memasuki awal tahun 2019, PT Freeport Indonesia akan mengoperasikan tambang bawah tanah (underground) sudah didengar ribuan pendulang yang saat ini mengais pendapatan dari tailings di sepanjang Kali Aijkwa atau Kali Kabur.

Melalui kepala lokasinya, ribuan pendulang tersebut sangat mengharapkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika memperhatikan nasib mereka. Bagi mereka bila tailings yang selama ini menjadi ‘dapur’ hidup keluarga sudah tidak bisa diandalkan, maka kehidupan  mereka akan sangat sulit. Mau mendapat uang dari mana untuk membiayai kehidupan keluarga setiap hari, membiayai pendidikan anak-anak, berobat dan lain-lain.

Berikut ini harapan para pendulang melalui kepala lokasi yang disampaikan kepada Salam Papua, Rabu (25/7) lalu.

Viktor Leisubun – Kepala Lokasi Pendulang Mile Post 29-31
 
Viktor Leisubun.
Kami sangat mengharapkan pemerintah daerah memperhatikan nasib kami. Kalau bukan pemerintah siapa lagi. Perhatian dari pemerintah daerah apa pun bentuknya, baik itu membuka lapangan kerja baru atau memberikan pelatihan ketrampilan, kami siap menerimanya dan kami sangat berterima kasih.

Kami juga mengharapkan Forum Pendulang Timika menjembatani warga pendulang dengan pemerintah, agar tercipta suatu kerjasama yang positif untuk pendulang.

“Kami tidak ingin menjadi penganggur di daerah ini. Kami juga tidak ingin menjadi beban dan biang permasalahan di daerah ini. Kami hanya ingin bisa tetap bekerja dan membiayai hidup keluarga sehari-hari,” kata Viktor yang memiliki anggota pendulang 200-an orang. 

Florentinus Leisubun –Kepala Lokasi Pendulang Mile Post 32-33
Di Timika ini mencari lapangan pekerjaan sangat susah. Karena itu kami terpaksa memilih pekerjaan sebagai pendulang untuk menghidupi keluarga. Karena itu kami berharap pemerintah daerah bisa membantu memberi solusi kepada kami bila kami sudah tidak bisa hidup dari mendulang lagi.

“Saya secara pribadi siap untuk bekerja apa saja untuk bisa menghidupi keluarga saya. Saya selama ini tidak suka terlibat konflik apa pun di Timika atas nama suku. Saya datang ke Timika untuk bekerja, bukan untuk membuat masalah dengan siapa pun. Kalau ada pelatihan yang dilakukan pemerintah saya siap ikut. Saya juga siap melakukan pekerjaan lain,” kata bapak dari enam orang anak ini.

Menurut Oles, nama panggilan dari Florentinus, pendidikan anak-anaknya merupakan hal yang utama. Karena itu dirinya siap melakukan pekerjaan apa pun, demi bisa menyekolahkan anak-anaknya. “Minimal anak-anak saya harus tamat SMA. Saya juga selalu memberi motivasi kepada anggota pendulang saya, baik warga asli Papua atau pendatang agar mengutamakan pendidikan anak-anak. Dengan pendidikan yang tinggi mereka bisa melakukan pekerjaan yang lain, tidak mendulang seperti kami-kami ini,” kata Oles yang juga memiliki anggota 200-an pendulang.

Artoman Longgar – Kepala Lokasi Pendulang Mile Post 38
 
Artoman Longgar.
Sama dengan teman-teman yang lain, kami memilih bekerja sebagai pendulang karena masalah pendidikan dan tidak memiliki keterampilan kerja apa pun. Karena itu kalau ada pelatihan yang dibuat pemerintah daerah, kami siap ikut.  Kami bisa memilih ikut pelatihan untuk jadi tukang bangunan atau kerja di bengkel motor. 

“Kami orang asli Papua dari pegunungan banyak yang tidak sekolah. Akibatnya susah mendapatkan pekerjaan. Akhirnya memilih bekerja sebagai pendulang. Karena itu, kami berharap pemerintah perhatikan nasib kami, kalau tidak bisa dapat uang lagi dari mendulang. Kami perlu pekerjaan, kami harus mencari uang untuk biaya hidup keluarga dan kasih sekolah anak-anak. Saya tidak mau anak saya kelak juga jadi pendulang seperti saya. Karena itu pemerintah harus perhatikan nasib kami orang asli Papua yang bekerja sebagai pendulang,” kata Longgar yang mengaku memiliki anggota lebih dari 100 pendulang. 

Marsel – Pendulang di Mile Post 40
 
Marsel.
Hasil mendulang saat ini sudah sangat jauh berkurang dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sekarang ini kalau beruntung, dalam satu hari kami bisa mendapat 3 sampai 5 kaca. Sebelumnya bisa belasan hingga dua puluhan kaca. Kami juga sudah dengar di tahun 2019 nanti akan lebih berkurang lagi kandungan emas di tailing. Bisa saja kami tidak mendapat apa-apa dan kemudian berhenti mendulang.

Marsel datang dari Manggarai NTT ke Timika tahun 2004 dan sudah sempat menekuni sejumlah pekerjaan seperti buruh bangunan, tukang becak dan tukang ojek, sebelum akhirnya memilih bekerja sebagai pendulang karena pendapatannya lebih baik.

“Susah untuk mendapat pekerjaan di Timika yang penghasilannya bagus, kecuali mendulang. Karena itu bila berhenti mendulang, tentu kami susah membiayai hidup keluarga. Karena itu kami sangat berharap ada pelatihan yang memungkin kami membuka usaha sendiri akan ikut bekerja dengan orang lain,” kata Marsel.

Minus – Kepala Lokasi Pendulang Mile Post 40
 
Minus.
Saya siap mengikuti pelatihan atau apa pun yang dilakukan pemerintah. Saya tidak sekolah, tapi saya bisa belajar, saya mau dilatih apa pun untuk bisa bekerja.

“Kalau ada pelatihan, saya mau belajar jadi tukang bangunan. Saya juga mau belajar jadi tukang tambal ban. Apa saja  saya mau belajar yang penting itu bisa membuat saya bisa bekerja,” kata Minus yang mengaku memiliki anggota 100-an pendulang.

Menurut Minus, pemerintah mestinya memperhatikan warga asli Papua agar tidak hidup susah di atas tanahnya sendiri. “Pendatang juga perlu diperhatikan, tapi jangan lupa kami orang asli, biar bisa sama-sama menikmati hidup yang baik di daerah ini,” kata Minus yang mengaku berasal dari Ilaga. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment