Menjadikan Keluarga Sebagai Rumah Pembentuk Generasi Genius

Bagikan Bagikan

Oleh Karel A Polakitan
LEBIH dari 400 anak menyemarakkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) Sulawesi Utara yang dipusatkan di Graha Gubernuran pada 17 Juli lalu.

Momentum itu dimanfaatkan oleh Gubernur Olly Dondokambey untuk menggaungkan nilai penting tema HAN tahun ini yakni Anak Indonesia, Anak "GENIUS" (Gesit, Empati, beraNI, Unggul, dan Sehat).

Peringatan ini mempunyai tujuan untuk memastikan semua anak Indonesia gesit dan berempati merespon perubahan-perubahan yang sangat cepat di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan dan kesenian.

"Paling penting, hak-hak anak tetap terpelihara, terjaga dan melaksanakan kewajiban anak mewujudkan cita-cita Indonesia yang bersatu, bahagia dan abadi," kata Gubernur Olly.

HAN tahun ini, lanjut dia, merupakan waktu yang tepat untuk menggugah dan meningkatkan kepedulian setiap individu, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media serta pemerintah tentang pentingnya peran, tugas, dan kewajiban memenuhi hak dan perlindungan anak.
"Dapat dikatakan HAN merupakan harinya anak Indonesia, anak yang memiliki kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan yang positif," katanya.

Menurut Gubernur Olly, mengembangkan dan mengekspresikan semua potensi yang dimiliki anak Indonesia harus dimulai dari keluarga.

Keluarga merupakan wahana utama bagi pewarisan peradaban dan budaya bangsa, karena di dalam keluargalah dibentuk dan dipraktikkan nilai-nilai dasar hubungan antarmanusia.

Bahkan, begitu pentingnya peran penting keluarga, Gubernur menyebut hanya keluarga yang dapat menghalangi demoralisasi yang berbaur dengan pola hidup globalisasi saat ini.

"Hanya eksistensi keluargalah satu-satunya yang dapat menghalangi dan memberi solusi hal ini secara efektif dan tepat sasaran," ujar politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu.
Keluarga, di dalamnya orang tua, lanjut Gubernur, dituntut mampu membina moral sekaligus iman dan taqwa generasi muda agar memiliki "self awareness" yang kuat, sehingga dapat menghindarkan diri dari berbagai hal negatif perkembangan zaman.

Anak bisa mengembangkan potensi diri, mempunyai moral bagus, patuh kepada Tuhan, taat orang tua dan mencintai sesama, semuanya hanya bisa dibentuk ketika keluarga berjalan harmonis.

Keluarga, harus jauh dari berbagai tindak kekerasan dalam rumah tangga, setiap individu saling menghargai, produktif, sehat dan ceria dan menjadi pelopor kerukunan.
"Keluarga harus menjadi rumah yang nyaman, rumah yang ramah bagi anak untuk mengembangkan semua kemampuan yang dimiliki termasuk karakter-karakter yang baik," imbuhnya.

Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) juga menyentil delapan fungsi keluarga agar anak dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.
Fungsi-fungsi keluarga di antaranya fungsi agama seperti membimbing dan mengajarkan kepada anggota keluarga kehidupan beragama, fungsi sosial budaya dengan menanamkan nilai-nilai yang baik dalam diri anak, menanamkan nilai dan norma sesuai dengan tingkah laku dan usia, dan mewariskan nilai-nilai budaya keluarga.
Fungsi lainnya, cinta dan kasih sayang (memberikan rasa cinta dan kasih sayang, rasa aman, serta memberikan perhatian di antara anggota keluarga), fungsi perlindungan (melindungi anggota keluarga dari tindakan-tindakan yang tidak baik, memunculkan suasana aman, nyaman, adil, dan terlindungi).

 Fungsi lainnya, sosialisasi dan pendidikan yang mengajarkan anggota keluarga berpribadi baik sejak kecil hingga mereka terjun ke dalam kehidupan masyarakat yang sebenarnya.

Ke delapan fungsi keluarga ini juga pernah ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia (Menko PMK) Puan Maharani saat puncak acara "Hari Keluarga Nasional" ke-25 di Manado, awal Juli 2018 lalu.

Menurut dia, keluarga perlu meneguhkan fungsi-fungsinya mulai dari fungsi agama, kasih sayang, perlindungan, ekonomi, sosial pendidikan, kesehatan reproduksi, sosial budaya, hingga kelestarian lingkungan.

Seperti Kertas Putih
Kepala Dinas Pendidikan Nasional Sulawesi Utara dr Grace Punuh mengatakan, anak ketika dilahirkan seperti "kertas putih".

"Coretan-coretan atau tulisan-tulisan yang didapatkan melalui panca indera itu nantinya yang akan membentuk karakter anak," kata dia.

Apabila di usia emas anak (tiga tahun setelah kelahiran) diisi dengan hal-hal yang baik, ia optimistis perilaku anak yang ditampilkan dalam interaksi lingkungan keluarga dan masyarakat positif dan tidak merugikan orang lain.

Pendidikan formal, menurut Grace, penting, tapi tidak kalah pentingnya adalah peran keluarga. Alasannya, pendidikan formal (sekolah) hanya memanfaatkan kira-kira seperempat dari waktu anak setiap hari.

Sisanya, akan dihabiskan bersama dengan orang tua, kakak atau adik, atau orang dewasa yang berada di rumah.

Anak bisa saja menampilkan perilaku yang tidak baik, mencuri, melawan orang tua, menghina teman sebaya, ringan tangan atau melakukan sikap-sikap tidak normal yang berlaku di masyarakat.

"Pengalaman-pengalaman yang ditampilkan melalui perilaku itu bisa saja didapatkan di dalam lingkungan keluarga," ujarnya.

Karena itu, ketika anak-anak berada di rumah menjadi waktu yang tepat untuk menularkan apa artinya kasih sayang dan menghormati, saling menolong dan peduli dengan orang lain.

"Saya optimistis ketika anak dibelajarkan moral dan etika yang baik, ketika di sekolah mereka tidak akan menghina teman sebaya. Sikap moral yang dibelajarkan orang tua atau orang dewasa akan menjadi benteng kuat ketika berada di luar rumah," ujarnya.

Junike Agustin, ibu rumah tangga, mengandaikan orang tua atau orang dewasa sebagai cermin yang setiap hari membentuk pengalaman-pengalaman anak.
Sikap dan perilaku yang ditampilkan anak dicontoh dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan oleh orang-orang yang berada di dalam rumah.

Ibu dua anak itu mencontohkan, anak berperilaku keras bisa saja didapat dari pendidikan keras orang tua, sebaliknya perangai baik, santun dan lemah lembut karena ditempa didikan bagaimana menghargai orang lain.

Hal lainnya, ketika anak diajarkan berdoa sebelum makan, maka dia tidak segan-segan menegur orang tua yang tidak berdoa ketika berada di meja makan.

"Keluarga adalah rumah yang tepat untuk memberi pelajaran moralitas. Anak akan mengerti bagaimana berperilaku baik kepada orang lain itu karena dia banyak belajar dari perilaku orang tua dalam keluarga," ungkapnya. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment