Pasca Penemuan Jenazah di Kwamki, Warga Kampung Utikini Terlibat Pertikaian

Bagikan Bagikan
TNI-Polri melerai warga yang bertikai.

SAPA (TIMIKA) – Pasca penemuan jenazah di  jalan Freeport Lama kampung Olaroa, Kwamki Narama Senin (2/7) lalu, pertikaian terjadi antar suku blok 7 dan blok 8 melawan blok 6 di kampung Utikini Baru SP 12, Selasa (3/7). Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

Pengamanan dari TNI-Polri yang tiba di tempat kejadian langsung melerai warga yang bertikai.

Wakapolres Mimika, Kompol A. Korowa memberikan arahan kepada masyarakat. Dia minta kepada semua masyarakat yang ada agar bisa menahan diri untuk tidak berperang, karena akan merugikan kita sendiri.

Menurut dia, saat ini, Kabupaten Mimika masih dalam pelaksanaan Pilkada, sehingga harus  saling menjaga keamanan.

“Kami pihak keamanan akan melakukan penyidikan dan penyelidikan tentang kasus yang terjadi, sehingga kami minta diberikan waktu untuk mengungkap kasus tersebut,” ujar Wakapolres.

Karena peristiwa ini, Ketua Bamuskam SP 12, Esmi Murib meminta pihak keamanan untuk segera menangkap pelaku pembunuhan, agar perang tidak terjadi lagi.

Di samping itu, Danramil 1710-03 Kuala Kencana, Kapten Inf Hasim Hutabarat pun meminta kepada masyarakat untuk memberikan waktu kepada pihak keamanan untuk melakukan penangkapan terhadap pelaku pembunuhan.

Sementara, Kapolres Mimika AKBP Agung Marlianto S.Sik mengatakan, saat ini masih dalam kegiatan Pilkada, jangan sampai ada oknum-oknum yang memanfaatkan situasi.

“Saya minta kepada semua masyarakat untuk menyerahkan kejadian ini kepada kami pihak keamanan dan kejadian ini juga baru terjadi, oleh karena itu berikan waktu kepada kami untuk melakukan penyelidikan,” ujar Kapolres.

Lanjut Kapolres, pada tanggal 23 Mei 2018 sudah dilakukan perdamaian di Kwamki Narama, sehingga akan dilakukan penegakan hukum apabila terjadi pelanggaran atau tindakan kriminal.

Dia menerangkan, aksi penyerangan sempat terjadi antara blok 7 dan blok 8 melawan blok 6. Diduga oleh warga bahwa pelaku pembunuhan dicurigai berdomisili di blok 6. Ketika ditanya, Kapolres mengaku,  bukti tidak ada.

Warga mengklaim dan meminta ijin untuk dilakukan perang selama 10 hari, namun hal itu tidak diijinkan oleh pihak kepolisian, karena merupakan tindak kejahatan murni.

“Tidak ada yang bisa menjamin aksi pembalasan berhenti setelah perang terjadi. Dan ini harus dihentikan. Tidak akan ada proses pembiaran untuk perang kembali terjadi,” ungkap Kapolres. (Tomy)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment