Pembangunan Sekolah, RS dan Rumah Masyarakat Banti Harus Bersamaan

Bagikan Bagikan
Kondisi gedung SD-SMP di Banti yang dibakar KKSB.

SUDAH cukup lama masyarakat Banti dan Kimbeli Distrik Tembagapura menanti Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika membangun kembali rumah mereka yang dibakar kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) pada  24 Maret 2018 lalu. Sudah empat bulan masyarakat menanti namun hingga kini belum jelas kapan penantian itu akan terwujud.

Apa yang terjadi pada warga Banti ini adalah masalah kemanusiaan. Karena itu semestinya Pemkab Mimika memberi perhatian khusus (special). Terkategori sebagai sebuah ‘musibah’ atau ‘bencana’ karena dibakar oleh KKSB, mestinya Pemkab Mimika langsung turun tangan mengatasi musibah ini sekaligus membantu warga yang sejak rumahnya dibakar hanya memiliki pakaian di badan.

Sangatlah tidak patut warga yang sudah tidak memiliki apa-apa ini ditelantarkan begitu saja. Pemkab Mimika tidak bisa bersikap seperti itu. Karena mereka adalah korban kebringasan dari KKSB. Apa lagi diantara seribu lebih warga korban KKSB tersebut terdapat ibu-ibu dan anak-anak. Bisa dibayangkan, bagaimana nasib mereka, hidup dan tinggal berkumpul bersama keluarga yang lain.

Sebenarnya sudah berulang kali sejumlah tokoh masyarakat Banti dan Kimbeli meminta Pemkab Mimika membangun kembali rumah warga dan juga rumah sakit serta gedung SD/SMP yang dibakar KKSB.

Saat menerima utusan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Tri Mulyono yang berkunjung ke Banti untuk mengecek sekaligus mengukur lokasi yang akan digunakan membangun kembali gedung SD Negeri dan SMP Negeri di Banti, pada Kamis, 5 Juli 2018, Kepala Kampung Waa-Banti Yohanes Jamang meminta pemerintah tidak hanya membangun gedung sekolah dan rumah sakit, tetapi juga rumah penduduk yang dibakar KKSB saat menduduki lokasi itu beberapa bulan lalu.

"Kami sudah sering menyampaikan, tolong segera dibangun kembali rumah-rumah masyarakat yang dibakar. Pembangunan gedung sekolah, rumah sakit dan rumah masyarakat harus dilakukan bersamaan," kata Yohanes.

Menurut dia, kesulitan yang dihadapi masyarakat Waa-Banti selama ini yaitu keterbatasan tempat tinggal (rumah) karena sebagian rumah penduduk telah habis dibakar oleh KKSB.

Pada saat yang sama, Tokoh masyarakat Banti lainnya, Hengki Magal meminta Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat membantu pembangunan kembali rumah-rumah warga yang dibakar oleh KKSB di Banti dan kampung-kampung sekitar itu.

"Kami minta pemerintah segera memanggil tokoh-tokoh masyarakat untuk duduk bersama membuat rencana program pembangunan rumah-rumah masyarakat," kata Hengki.

Menanggapi permintaan tersebut, Tri Mulyono menjanjikan akan menindaklanjuti hal itu ke jajaran kementerian terkait, dalam hal ini Kementerian PU-PR.

“Kemendikbud tidak ada kaitan langsung dengan pembangunan perumahan masyarakat, namun karena aspirasi ini sudah disampaikan maka akan ditindaklanjuti ke kementerian terkait. Kami mohon dukungan Pemerintah Distrik Tembagapura untuk membuat surat resmi,” ujarnya.

Saat Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol AM Kamal melakukan peninjauan langsung ke Kampung Opitawak, Banti dan Utikini Distrik Tembagapura Sabtu (14/7), Tokoh masyarakat Banti, Hengki Magal kembali menegaskan, masyarakat saat ini sangat membutuhkan rumah sebagai tempat tinggal. Bahkan Hengki meminta pembangunan rumah masyarakat harus diutamakan.

“Pembangunan rumah masyarakat yang paling utama, baru yang kedua sekolah dan rumah sakit. Ada 322 rumah warga mulai dari kampung Opitawak hingga Banti hancur total karena dibakar,” kata Hengki.

Menurutnya, bila rumah sudah dibangun, maka masyarakat  dapat kembali ke rumah masing-masing dan anak-anak bisa kembali bersekolah. Begitu juga rumah sakit dapat digunakan.

Seperti diberitakan sejumlah media massa, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) RI, Muhadjir Effendy berkunjung dan meninjau langsung kondisi masyarakat Banti pada Selasa 24 April 2018. Mendikbud berjanji akan segera membangun kembali gedung sekolah yang dibakar menggunakan dana dari Kemendikbud.

Selain Mendikbud, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Prof Dr Yohana Yembise juga sudah berkunjung ke Banti pada 21 Mei 2018. Menteri Yohana menemukan permukiman warga, permukiman guru, bangunan sekolah dan rumah sakit dalam kondisi hancur berantakan. (yulius lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment