Penamaan Lanud Yohanis Kapiyau Jadi Kebanggaan Keluarga

Bagikan Bagikan
 Lanud Timika menjadi Lanud  Yohanis Kapiyau (YKU) berdasarkan Keputusan Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, S.E, M.M Nomor Kep/660/VI/2018 tertanggal 21 Juni 2018 tentang Penggantian Nama Pangkalan TNI AU.

Oleh Muhsidin *)
SOROT mata Fransiskus Kapiyau, putra dari Yohanis Kapiyau (almarhum), tampak berlinang, terharu ketika Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Yuyu Sutisna memberikan surat keputusan tentang perubahan nama Pangkalan Udara Yohanis Kapiyau Timika.

Hal ini karena perubahan nama menjadi Pangkalan Udara Yohanis Kapiyau, Kamis (26/7) di Timika, Papua, menjadi kebanggaan bagi keluarga.

"Sebagai putra almarhum Yohanis Kapiyau, saya berterima kasih kepada pimpinan TNI Angkatan Udara karena sudah memberikan penamaan pangkalan udara Timika Yohanis Kapiyau. Ini sebuah sejarah baru bagi keluarga karena kami tidak menyangka pemerintah mengabadikan jasa almarhum," ujar Franciskus Kapiyau menjawab Antara.

Ia mengakui Yohanis Kapiyau yang dilahirkan 3 Juli 1932 di Kampung Kokonao Distrik Mikika, semasa hidupnya berprofesi sebagai guru.

Dalam perjalanan kariernya sejak 1954, Yohanis Kapiyau menjadi guru di sejumlah sekolah di Mimika, Fakfak, Sorong, dan di Papua Barat.

Sedangkan antara tahun 1963-1971, Yohanis Kapiyau menurut Franciskus, pernah menjadi anggota DPR-GR dari Provinsi Irian Barat yang kemudian menjadi Provinsi Papua dan terbagi lagi dengan terbentuknya Provinsi Papua Barat.

Sementara pada 1969, Yohanis Kapiyau menjadi salah satu tokoh yang terlibat langsung dalam Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) Irian Barat sebagai tonggak sejarah kembalinya Irian Barat ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada 1973 Yohanis Kapiyau diangkat sebagai kepala suku umum Mimika oleh Presiden Republik Indonesia ketika itu, Soeharto.

Atas jasa-jasa Yohanis Kapiyau, menurut Franciskus, ayahnya itu pada tahun 1976 oleh Presiden Soeharto diberikan Bintang kehormatan dan bintang penghargaan Pepera.

"Yohanis Kapiyau wafat 23 Desember 2011 di Timika. Karenanya penamaan Lanud Yohanis Kapiyau ini sangat megharukan kami, anggota keluarga," ungkap Fransiskus sembari mengenang perjuangan semasa hidup almarhum.

Ia berharap dengan adanya penetapan nama Lanud Yohanis Kapiyau, bisa memberikan teladan bagi putra putri Papua untuk terus mengabdi dan berkarya bagi masyarakat dan tanah Papua sesuai dengan talenta masing-masing.

Mewakili keluarga besar almarhum Yohanis Kapiyau, Fransiskus menyampaikan sangat berterima kasih kepada pemerintah Republik Indonesia melalui KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna atas kepedulian keluarga besar TNI Angkatan Udara yang sudah menetapkan nama Lanud Yohanis Kapiyau Timika.

"Kami keluarga sangat berharap penamaan Lanud Yohanis Kapiyau dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua," ujar Fransiskus berharap.

Insoirasi Keluarga
Sementara itu, Muhammad Jamaluddin, keluarga dari pahlawan Nasional Tuan Guru Haji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid yang namanya diabadikan pada Pangkalan Udara Lombok, Nusa Tenggara Barat, menyatakan penamaan Pangkalan Udara TGH Muhammad Abdul Madjid telah menjadi inspirasi bagi keluarga besar almarhum.

Jamaluddin menyebut dengan ditetapkannya nama orang tuanya sebagai nama Pangkalan Udara TGH Muhammad Zainddin Abdul Madjid Lombok merupakan sebuah kepedulian nyata yang dilakukan pemerintah melalui Mabes TNI Angkatan Udara.

"Sebagai perwakilan keluarga kami sangat senang dengan adanya penamaan Lanud TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Harapan kami dengan status Lanud berubah bisa membawa kebaikan dan kesejahteraan untuk semua masyarakat Indonesia," katanya saat menghadiri peresmian nama delapan Lanud berlatar belakang nama pahlawan nasional itu.

Ia mengakui untuk menghadiri acara peresmian nama Lanud TGH Muhammad Abdul Madjid secara khusus perwakilan keluarga telah diundang untuk datang ke Kabupaten Biak Numfor.

Tuan Guru Kyai Hajji Muhammad Zainuddin Abdul Madjid (lahir di Bermi, Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, 5 Agustus 1898.

TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid meninggal dunia di Pancor, Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, yang lahir pada 21 Oktober 1997 (umur 99 tahun) adalah seorang ulama karismatis dari Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat dan merupakan pendiri Nahdlatul Wathan, organisasi massa Islm terbesar di provinsi tersebut.

Di Pulau Lombok, Tuan Guru merupakan gelar bagi para pemimpin agama Islam yang bertugas untuk membina, membimbing dan mengayomi umat dalam hal-hal keagamaan dan sosial kemasyarakatan, yang di Pulau Jawa identik dengan kiai.

Karya perjuangan almarhum Al-Mukarram Maulana al-Syaikh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid selaku ulama pewaris para Nabi, di samping menyampaikan dakwah juga tergolong penulis dan pengarang yang produktif.

Bakat dan kemampuan Abdul Madjid sebagai pengarang, tumbuh dan berkembang sejak beliau masih belajar di Madrasah Shaulatiyah Mekkah.

Namun karena banyaknya dan padatnya kegiatan keagamaan serta kemasyarakatan yang harus diisi maka peluang dan kesempatan untuk memperbanyak tulisan tampaknya sangat terbatas.

Kendatipun demikian di tengah-tengah keterbatasan waktu itu, beliau masih sempat mengarang beberapa kitab, kumpulan doa, dan lagu-lagu perjuangan dalam Bahasa Arab, Indonesia dan Sasak.

Almarhum TGH Muhammad Zainuddin Abdul Madjid diangkat sebagai Pahlawan Nasional dalam bidang Pendidikan dan Gerakan Kepemudaan pada Kamis, 9 November 2017 bertempat di Istana Negara Jakarta.

Ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 115/TK/Tahun 2017 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional.

Empat tokoh yang dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo yakni almarhum Tuan Guru Kiai Haji (TKGH) Muhammad Zainuddin Abdul Madjid asal Lombok, Nusa Tenggara Barat, almarhumah Laksamana Malahayati asal Aceh, almarhum Sultan Mahmud Riayat Syah asal Kepulauan Riau, dan almarhum Prof. Drs. Lafran Pane asal Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kearifan lokal

KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengatakan penamahan Lanud dari nama pahlawan merupakan kearifan lokal sebagai bentuk penghormatan negara khususnya dari TNI Angkatan Udara.

"Untuk menghormati jasa para pejuang Pahlawan Nasional di berbagai daerah maka Markas Besar TNI Angkatan Udara telah melakukan perubahan nama Lanud berlatar belakang nama pahlawan untuk mengenang tugas pengabdian mereka dalam menjaga kedaulatan keutuhan NKRI," kata KSAU Marsekal Yuyu Sutisna menegaskan.

"Perubahan nama delapan Lanud di Indonesia ini diharapkan menjadi suri teladan bagi prajurit dalam mengenang dan menghormati semangat loyalitas pengabdian pahlawan kepada bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar KSAU.

Ia mengakui sebelum pemberian nama Lanud di Indonesia pihak Mabes TNI AU sudah meminta persetujuan dari keluarga pahlawan Nasional yang namanya diabadikan menjadi pangkalan udara.

Dari delapan keluarga pahlawan yang namanya ditetapkan menjadi nama pangkalan udara, menurut KSAU Marsekal Yuyu Sutisna, semua telah memberikan persetujuan sehingga pergantian sebutan nama Lanud menyesuaikan nama pahlawan nasional berasal dari daerah bersangkutan.

Ke-delapan pangkalan udara yang statusnya berganti nama, yakni Lanud Silas Papare Jayapura, Lanud Yohanis Kapiyau Timika, Lanud Merauke Johanes Abraham Dimara.

Kemudian Lanud Denpasar/Bali menjadi Lanud I Gusti Ngurah Rai, Lanud Tarakan menjadi Lanud Anang Busran, Lanud Surabaya menjadi Lanud Moeljono, Lanud Balikpapan menjadi Lanud Dhomber dan Lanud Lombok menjadi Lanud Tuan Guru Muhammad Zainuddin Abdul Madjid.

Pada peresmian pergantian delapan nama Lanud di Indonesia itu dipusatkan di hanggar base operasi STAB Lanud Manuhua Biak, Kamis (26/7) ditandai dengan penandatanganan prasasasti nama Lanud dan pemberian surat keputusan KSAU tahun 2018. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment