Saat Tuhan Hanya Memperlihatkan

Bagikan Bagikan

Aku mengizinkan engkau melihatnya dengan matamu sendiri, tetapi engkau tidak akan menyeberang ke sana." Lalu matilah Musa, hamba TUHAN itu, di sana di tanah Moab, sesuai dengan firman TUHAN. (Ulangan 34:4b-5)

ORANG bilang, yang namanya cita-cita bisa lebih dari satu. Tapi soal tercapai atau tidaknya, itu lain cerita. Apalagi kalau cita-cita itu diangankan saat kanak-kanak. Bukankah banyak dari antara kita yang waktu kecil dulu bercita-cita menjadi dokter, kini malah punya pabrik besi? Atau, saat TK dulu bercita-cita jadi tentara, tapi sekarang justru sibuk berbisnis properti? Ya, cita-cita memang tak selalu kesampaian.

Tapi kisah cita-cita Musa yang sebagiannya menjadi nats bacaan kita hari ini sungguh tak biasa. Bayangkan, Musa mungkin tak pernah bercita-cita untuk menjadi pemimpin tertinggi setelah TUHAN, bagi sebuah bangsa besar seperti Israel. Musa juga mungkin sudah cukup puas dengan kehidupannya, sebelum ia menemukan semak berapi yang tak terbakar di suatu hari.

Namun kemudian, seiring dengan berjalannya waktu, Musa juga berangan-angan bahwa suatu hari nanti, ia akan masuk ke tanah yang dijanjikan TUHAN, bersama-sama dengan bangsa yang dipimpinnya.

Tapi Alkitab mencatat bahwa Musa tak pernah diizinkan TUHAN masuk ke tanah perjanjian. Dan hal yang paling menyedihkan adalah bahwa ia diizinkan untuk melihat keindahan negeri perjanjian itu dengan matanya sendiri, tetapi setelah itu Musa meninggal dunia. Ia hanya melihatnya, tapi keinginannya untuk sampai di sana tak pernah terwujud. Seperti itukah keadaan Anda sekarang ini?

Cita-cita Anda mungkin tinggal selangkah lagi untuk bisa digapai. Anda sudah digadang-gadang untuk menempati posisi yang Anda idam-idamkan selama ini. Tapi tiba-tiba saja cita-cita itu lenyap seperti tertiup angin. Sedihnya lagi, Anda sudah mengorbankan begitu banyak hal untuk itu, namun kenyataan berkata lain. Wajar bila Anda kecewa, frustasi dan sakit hati. Manusiawi sekali.

Tapi izinkan saya untuk berkata bahwa Anda tidak sendirian. Anda bukanlah satu-satunya orang yang pernah merasakan kepahitan. Jutaan jiwa mengalami hal yang sama dalam peristiwa yang berbeda.

Apa yang Musa alami dalam nats kita hari ini kiranya dapat sedikit melunakkan hati Anda. Bangkitlah dari kekecewaan, cobalah membuka pintu yang lain dan tetaplah berserah diri pada genggaman tangan TUHAN. Dia sanggup menolong kita. 
  
“Selalu ingatkanku, ya Tuhan, bahwa saat harapanku hilang lenyap, pengharapanku di dalam Engkau tak akan pernah diambil siapa pun. Biarkan aku hidup dalam pengharapan pada-Mu. Amin.” (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment