Bea Cukai Jamin Awasi Pengapalan Konsentrat Freeport

Bagikan Bagikan
I Made Aryana-foto harpa.

SAPA (TIMIKA) - Jajaran Kantor Bea Cukai Amamapare, Timika, Papua, menjamin pengapalan konsentrat PT Freeport Indonesia (PTFI) untuk tujuan ekspor ke berbagai negara selama ini diawasi secara ketat oleh berbagai instansi terkait.

Kepala Kantor Bea Cukai Amamapare I Made Aryana di Timika, Senin (13/8), mengatakan pengawasan terhadap aktivitas pengapalan konsentrat PT Freeport tidak hanya melibatkan Bea Cukai tetapi juga instansi teknis lain seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan Mimika, Dinas Pertambangan, Sucofindo dan lainnya.

Demikian halnya dengan timbangan konsentrat Freeport, katanya, secara berkala selalu dilakukan tera ulang untuk memastikan validitas tonase yang dikapalkan atau yang diekspor.

"Berapapun yang diekspor, itu sudah melalui proses timbang yang benar dan dijamin validitasnya. Jadi, tidak ada barang yang ke luar tanpa melalui syarat-syarat yang sudah ditentukan," jelas Made.

Menurut dia, semua kegiatan eksportasi maupun importasi yang dilakukan oleh PT Freeport melalui Pelabuhan Amamapare mendapat pengawasan ketat dari aparat Bea Cukai setempat.

"Setiap ada pengapalan barang, kita akan buka segelnya untuk satu kali pengapalan," ujar Made.

Made menegaskan hal itu menyusul adanya rumor yang berkembang di kalangan DPRD Mimika bahwa selama ini pengapalan konsentrat Freeport terutama untuk tujuan ekspor tidak pernah diawasi secara ketat sehingga berpotensi mengurangi penerimaan (devisa) negara dan Pemkab Mimika.

Sesuai laporan yang diterima pihak Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) belum lama ini, total ekspor konsentrat Freeport sejak Februari hingga Juni 2018 sebesar 465.000 ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM Bambang Gatot mengatakan rata-rata produksi bijih mentah Freeport saat ini sekitar 175.000 -176.000 ton per hari.

Pemerintah telah menyepakati pemberian izin ekspor konsentrat kepada PT Freeport hingga Februari 2019.

Sementara itu Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM Bambang Susigit mengatakan mengatakan Freeport mendapatkan jatah ekspor konsentrat sebanyak 1,2 juta wet metric ton (WMT) hingga 2019.

Pemberian rekomendasi ekspor konsentrat ini, menurut Bambang, sudah melalui tahap evaluasi oleh pihak verifikator maupun Kementerian ESDM.

Meski mengantongi kuota ekspor konsentrat sebesar 1,2 juta WMT, Freeport tetap tak berhasil mencapai target kuota yang diajukannya sebesar 1,66 juta WMT.

PT Freeport telah mendapatkan enam rekomendasi ekspor konsentrat tembaga sejak 2014. Terakhir, rekomendasi diberikan untuk jangka waktu satu tahun, yakni 17 Februari 2017-16 Februari 2018 dengan kuota sebanyak 1,11 juta ton.

Hingga akhir 2017,  realisasi ekspor konsentrat tembaga Freeport Indonesia pada periode rekomendasi tersebut telah mencapai 921.137 ton atau 82,76 persen dari kuota. (Ant)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment