Budaya Suku Amungme Kamoro Berbaur Dalam Ekaristi Inkulturasi Paroki ST Petrus

Bagikan Bagikan
Umat dari suku Amor ketika melakukan perarakan patung Bunda Maria sebelum perayaan misa inkulturasi dimulai.

SAPA (TIMIKA) – Budaya Suku Amungme dan Kamoro berbaur dalam perayaan ekaristi suci pelaksanaan misa Inkulturasi di Gereja Paroki Santo Petrus SP 3. Perbauran pelayanan misa Inkulturasi ini berkenaan dengan tahun budaya Katolik se Indonesia.

Pastr Paroki Santo Petrus SP3, Paulus Dodot, SCJ menjelaskan, konteks nasional misa Inkulturasi ini sebetulnya untuk menjawab berbagai isu negatif  yang marak di Indonesia, baik persoalan terkait dengan perpecahan NKRI, Bhineka Tunggal Ika dan isu lainnya.

Dengan demikian, misa ini meski hanya dalam wilayah Katolik, tetapi merupakan upaya untuk merajut pemersatu keberagaman suku, karena sesungguhnya  banyak hal yang baik dari latar belakang kebudayaan masing-masing suku yang bisa memberikan pendidikan khusus bagi umat dan seluruh pemuda gereja sebagai generasi penerus.

“Secara nasional Gereja Katolik menyebutkan tahun 2018 adalah tahun Budaya. Dalam hal ini, setiap perayaan ekaristi harus mengakomodir semua suku sehingga bisa mengangkat keaslian budaya, mulai dari perarakan sampai kepada pelayanan tata cara ibadah  selama misa berlangsung,” ungkap Pastor Paulus usai memimpin misa Inkulturasi khusus suku Amungme Kamoro di Gereja Santo Petrus SP 3, Minggu (12/8).

Ia menjelaskan, mengingat dengan tahun budaya, maka perayaan inkulturasi ini mengintegrasikan  semangat kebersamaan antar suku dan kekhasan suku-suku yang ada dalam Paroki Santo Petrus. Dimana, budaya merupakan sesuatu ikatan primodial, dalam artian setiap manusia pertama dilahirkan dalam suatu budaya masing-masing, sehingga secara nasional gereja mengangkat khusus perayaan ekaristi  dan menjadikan setiap suku ini diinisiasikan dalam sakramen baptis yang diterima.

ia juga mengatakan,  beberapa minggu sebelumnya juga telah dilaksanakan misa Inkulturasi yang mengakomodir beberapa suku lainnya di wilayah paroki Santo Petrus dengan melibatkan seluruh umat yang berasal dari berbagai suku se Indonesia yang tersebar di enam stasi.

 “Selama ini inkulturasi dari suku Jawa, Kalimantan, Toraja, Me, Migani, Timor dan yang lainnya sudah memberikan pelajaran kepada anak-anak mudah bahwa itulah aneka suku dan budaya. Anak-anak asli Amungme dan Kamoro jadi tahu kenapa rambut orang Jawa di kasih bulat-bulat dan ternyata itu dinamakan sanggul. Begitu juga sebaliknya. Intinya ini lebih kepada merajut keanekaragaman budaya kita di Indonesia, karena masyarakat di Mimika ini terdiri dari berbagai suku di Indonesia,” katanya.

Selain dalam tata cara pelaksanaan misa, umat dari Suku Amungme dan Kamoro juga menampilkan kebudayaan mereka kepada umat dari suku lain. Dalam hal ini untuk memperkenalkan bagaimana, orang Kamoro pangkur sagu. Demikian juga cara bakar bakar batu bagi suku Amungme.

Ketua Panitia Penyelenggara misa kulturasi suku Amungme Kamoro, Kanisius Weyau menjelaskan bahwa usai perayaan misa, umat dari suku Amungme Kamoro menggelar kegiatan  penggalangan dana untuk membangun gereja yang baru, karena bangunan yang lama tidak mampu lagi menampung umat dalam wilayah Paroki.

Ia mengaku, sebelumnya telah ada enam suku lainnya yang telah melaksanakan kegiatan yang sama, sehingga saat ini khusus untuk suku Amungme Kamoro. Dengan demikian, dua suku ini bergabung  mengambil bagian dan bertugas dalam pelaksnaan misa, perarakan patung Bunda Maria serta menggelar pengumpulan dana, baik melalui pelelangan makanan atau bazaar, pentas tarian adat serta beberapa kegiatan lainnya.

Ia menuturkan, setalah perayaan ekaristi, umat dari suku Kamoro menyajikan makanan khas dari bahan dasar sagu, baik sagu bakar, sagu kukur dan jenis makanan lain yang diolah dari bahan dasar tepung sagu. Selain itu, juga memamerkan hasil ukiran, anyaman, pahatan serta pementasan seni budaya dan tari-tarian.

Demikian juga dengan umat yang merupakan suku Amungme melaksanakan bakar batu, memamerkan noken dan juga tari-tarian.

“Perayaan ini dilaksanakan secara nasional untuk mengikat aneka budaya di Indonesia. Ini juga berkenaan dengan pengumpulan  dana supaya bisa membangun gedung baru gereja. Bangunan yang lama ini sudah tidak bisa lagi menampung seluruh umat yang tersebar di enam stasi. Kita sama-sama berharap agar kedepannya kulturasi ini akan terus berjalan dalam membangun Gereja. Ini juga sebagai momen untuk meningkatkan ketakwaan kita kepada ajaran gereja melalui kebersamaan,” ungkap Kanisius. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment