Jalan Perbaikan Diri

Bagikan Bagikan

Manusia ditakdirkan sebagai ciptaan terbaik. Ia memiliki kecenderungan-kecenderungan pribadi atau nafsu yang tidak dimiliki malaikat. Manusia juga mempunyai akal sehat yang tidak dimiliki hewan. Dengan kedua karunia itulah manusia hidup di dunia ini beraktivitas sedemikian rupa: bekerja, bergaul, belajar, makan, minum, bepergian, bersantai, dan lain sebagainya.

Namun, seberapa besar apa yang kita lakukan itu tidak mendatangkan mudarat? Mudarat berarti merugikan. Mudarat ada dua, yakni mudarat bagi diri sendiri dan mudarat bagi orang lain. Banyak perbuatan yang tak mudarat bagi diri sendiri tapi mudarat bagi orang lain. Contohnya, berbisnis dengan cara merugikan orang lain. Sebaliknya, banyak pula yang tampak tak mudarat bagi orang lain namun merugikan diri sendiri. Misalnya, mengonsumsi obat-obatan terlarang, meninggalkan ibadah, dan lain-lain.

Kalau pun tidak menimbulkan mudarat, sudahkah aktivitas yang kita jalani bukan sesuatu yang mubadzir alias sia-sia? Sikap malas kita, bersenang-senang secara berlebihan, berbelanja di luar kebutuhan, membual ke sana kemari, bermain media sosial secara berlebihan, mungkin secara kasat mata tak merugikan orang lain maupun diri sendiri tapi sukar menghindari dari kemubadziran. Padahal,  sesungguhnya orang-orang berbuat boros/mubadzir adalah kawan-kawan setan.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sesungguhnya adalah bagian dari cara manusia mengintrospeksi diri atau muhâsabah. Muhasabah penting dilakukan untuk mencermati diri sendiri bukan semata kelebihan-kelebihan yang membuat kita percaya diri, melainkan juga kekurangan-kekurangan yang membuat kita memperbaiki diri. Muhasabah merupakan usaha untuk mengoreksi kemampuan kita dalam mengelola karunia akal dan nafsu: apakah sudah berjalan secara baik atau tidak.

Sayyidina Umar bin Khattab pernah bertutur:“ Introspeksi kalian sebelum kalian dihisab, dan berhias dirilah kalian untuk menghadapi penyingkapan yang besar (hisab). Sesungguhnya hisab pada hari kiamat akan menjadi ringan hanya bagi orang yang selalu menghisab dirinya saat hidup di dunia.”

Sayyidina Umar menganggap, bahwa evaluasi diri lebih dini akan menguntungkan kita pada kehidupan kelak. Mengapa? Karena dengan mengevaluasi diri sendiri, manusia akan mengenali kekurangan-kekurangannya yang diharapkan dapat diperbaiki sesegera mungkin. Kondisi ini akan meminimalkan kesalahan sehinga tanggung jawab dalam kehidupan di akhirat nanti menjadi sangat ringan.

Dalam hadits Rasulullah bersabda:Dari Syadad bin Aus ra, dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda, ‘Orang yang cerdas (sukses) adalah orang yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan sesudah kematiannya. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah SWT.' (HR Tirmidzi. Ia berkata, “Ini hadits hasan”).

Hadits ini secara tersirat mengungkapkan bahwa akallah yang seharusnya menundukkan nafsu bukan sebaliknya. Nafsu merupakan sebuah potensi yang sejatinya hanya untuk memenuhi kebutuhan wajar dan alamiah manusia, semisal makan, minum, kawin, tidur, atau sejenisnya. Tatkala nafsu menunggangi akal sehat, maka yang terjadi adalah tamak dan kesewenang-wenangan. Saat itulah muhasabah dibutuhkan untuk memperbaiki diri.

Dari penjelasan ini, setidaknya ada dua manfaat penting yang bisa dicatat dari introspeksi diri. Pertama, semangat membenahi diri. Introspeksi membuka mata kita tentang kelemahan-kelemahan, kekurangan-kekurangan, untuk di kemudian diperbaiki. Introspeksi juga mengandaikan adanya perencanaan sebelum melakukan sesuatu agar kesalahan yang serupa tidak terulang.

Sebagai hamba, manusia diwajibkan untuk memposisikan kehidupan di akhirat lebih utama daripada alam duniawi ini. Dengan introspeksi diri mereka sesungguhnya sedang mengejawantahkan ajaran bahwa kelak semua yang diperbuat anggota badan manusia akan dipertanggungjawabkan di kehidupan kelak.

Yang kedua, introspeksi diri menghindarkan kita dari sifat bangga diri atau sombong. Muhasabah fokus pikiran tertuju pada kekurangan diri sendiri. Hal ini akan banyak mengurangi perilaku manusia yang cenderung gemar menilai atau mengoreksi diri sendiri. Orang akan disibukkan dengan mencermati kesalahan diri sendiri ketimbang memvonis salah orang lain; mencari kesesatan pikiran dan perilaku diri sendiri ketimbang menghakimi sesat orang lain.

Sifat ini sebenarnya selaras dengan pesan Al-Qur’an yang mendorong setiap manusia agar tidak sok suci. Allah berfirman,“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS An-Najm: 32)

Semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang senantiasa mengevaluasi diri demi perbaikan kepada yang lebih baik.(Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment