Menghilangkan Trauma Korban Gempa Lombok

Bagikan Bagikan

Oleh Masnun Mas'ud *)
GEMPA bumi berkekuatan 6,4 skala richter (SR) yang melanda Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat, Minggu (29/7) pukul 06.47 Wita, tak hanya menghancurkan ribuan bangunan dan menelan belasan korban jiwa, tetapi juga menyisakan trauma yang mendalam.

Musibah yang terjadi di pagi buta itu telah merenggut 17 korban jiwa, 5.448 unit rumah rusak dan 47.361 jiwa terkena dampak. Tak hanya itu, 10.062 jiwa terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian, karena rumah mereka hancur rata degan tanah.

Mereka terpaksa tidur di tenda-tenda penampungan dalam cuaca yang sangat dingin yang mencapai 15 derajat celsius. Bahkan kini warga di sejumlah tenda pengungsian mulai ada yang mengeluh terserang penyakit.

Gempa bumi yang meluluhlantakkan permukiman warga di lereng Gunung Rinjani mengalami trauma yang mendalam.

Selain karena rumah mereka hancur rata dengan dan sebagian kehilangan anggota keluarga tersayang, sebagian warga juga dihinggapi rasa takut akibat terjadinya ratusan kali gempa susulan.

Kendati rumahnya masih bisa ditempati sebagian warga untuk sementara memilih tetap tinggal di tenda pengungsian, karena takut terjadi gempa susulan yang lebih besar.

Sejumlah korban gempa di Desa Obel-Obel, Kecamatan Sembelia, Kabupaten Lombok Timur mengaku masih trauma kembali ke rumah baok anak-anak maupun orang dewasa.

Inaq Dewi (43), salah seraong warga Dusun Mentareng, Desa Obel-Obel, Inak Dewi, mengaku bingung dan hanya bisa pasrah meratapi bangunan rumahnya yang sudah hancur rata dengan tanah setelah diguncang gempa.

Ia mengatakan semuanya sudah hancur. Sudah tidak ada yang bisa diselamatkan. Karena waktu gempa dia sama keluarga langsung lari ke luar rumah.

Dia mengaku tinggal berempat bersama suami dan dua orang anak sebelum gempa terjadi. Namun, karena rumah sudah rusak akibat gempa, saat ini dirinya beserta keluarga hanya tinggal di posko pengungsian bersama ratusan warga lainnya.

Desa Obel-Obel merupakan salah satu desa terparah terdampak gempa 6,4 SR yang mengguncang Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa pada Minggu (29/7) pagi. Jalan satu-satunya untuk menuju lokasi Dusun Mentareng, Desa Obel-Obel, Kecamatan Sembelia hanya bisa dijangkau melalui darat.

Dari Kota Selong Kabupaten Lombok Timur, desa ini berjarak 60 kilometer, sementara dari Kota Mataram ibu kota Provinsi NTB, Desa Obel-Obel, Kecamatan Sembelia berjarak 119 kilometer dan bisa memakan waktu hingga 4 jam menuju lokasi dari Kota Mataram.

Karena itu upaya menghilangkan trauma akibat musibah gempa itu perlu segera dilakukan agar para korban tak lagi dicekam rasa takut dan siap menjalani hidup normal dan melakukan kegiatan seperti biasa.

Ikhtiar untuk memulihkan warga, terutama anak-anak dari trauma yang mendalam akibat gempa tersebut mulai dilakukan agar warga tidak larut dalam kondisi trauma dan kesedihan yang berkepanjangan.

Upaya untuk menghilangkan trauma akibat gempa di Lombok, antara lain dilakukan Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram, dengan menurunkan tiga orang psikolog anak ke lokasi gempa bumi di Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Utara.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Kota Mataram Nyanyu Ernawati di Mataramn mengatakan, tiga orang psikolog anak ini akan melaksankaan kegiatan "trauma healing" kepada anak-anak korban gempa bumi.

Dengan cara iuni diharapkan anak-anak bisa segera pulih dari truma bencana gempa bumi yang mereka alami.

Tiga orang psikolog dari Rumah Pemulihan dan Perlindungan Anak (RPPA) akan didampingi oleh anak-anak dari Dewan Anak Mataram (DAM) dan LPA Mataram, yang sudah terlatih sehingga keberadaan mereka di lokasi bencana diperkirakan sekitar dua hingga tiga hari.

Menurut dia, bisa saja lebih untuk menghilangkan trauma, tergantung situasi dan kondisi di lokasi. Kalau ternyata anak-anak masih membutuhkan tim siap menambah waktu bersama mereka.

Untuk mendukung proses pemulihan trauma anak, tim LPA bersama DAM Kota Mataram yang saat ini menuju lokasi para korban membawa berbagai alat permainan serta alat menggambar sebab selama tim di lokasi akan mengajak anak-anak bermain dengan peralatan tersebut.

Kehadiran para psikolog, kata dia, di lokasi bencana untuk menghibur anak-anak, mengembalikan psikologi anak dan memulihkan mereka dari trauma.

Selain itu, LPA Mataram juga membawa berbagai jenis bantuan terutama untuk kebutuhan bayi, balita, anak-anak dan perempuan yang terkadang sering terlupakan.

Dia mengatakan kalau untuk kebutuhan orang dewasa dan sembako, Insya Allah sudah banyak yang membawa tapi kadang banyak yang lupa akan kebutuhan bayi dan perempuan.

Kebutuhan untuk bayi yang dimaksudkan antara lain, popok sekali pakai, susu dan biskuit, sedangkan untuk kebutuhan perempuan misalnya pembalut, dan pakaian dalam.

Erna mengatakan, sejak LPA membuka posko peduli bencana untuk korban gempa bumi Lombok Timur dan Lombok Utara, sampai saat ini telah terhimpun dana di rekening LPA Mataram sebesar Rp2,6 juta lebih.

Selain itu, katanya, ada juga yang datang langsung memberikan barang-barang kebutuhan bayi, perempuan serta makanan siap saji, air mineral dan pakaian layak pakai," sebutnya.

Kegiatan penggalangan dana ini akan terus dibuka, bahkan tim dari LPA siap menjemput bantuan yang akan disumbangkan oleh warga Kota Mataram.

Selain LPA Mataram, sejumlah aktivis LSM yang tergabung dalam wadah Dompet Dhuafa juga merasa terpanggil untuk mengatasi dan menghilangkan trauma mendalam yang dialami sebagian korban gempa di lereng Gunung Rinjani itu.

Memulihkan psikologi Dompet Dhuafa turut berupaya memulihkan psikologi anak-anak korban bencana gempa bumi di Lombok dengan melakukan pemulihan psikologis.

Pemulihan psikologis sebagai upaya untuk mengurangi tingkat trauma anak-anak yang ditimbulkan pascabencana di wilayah Sembalun tepatnya di Dusun Lebak Dayah, Lombok Timur.

Tim yang diterjunkan oleh Dompet Dhuafa adalah para relawan praktisi psikologi yang akan fokus memberikan pertolongan pertama psikologis dan beberapa pendekatan untuk stabilisasi psikis korban.

Psikolog yang menjadi Koordinator Psycological dari Dompet Dhuafa, Maya Sita Darlina melalui keterangan tertulis menyebutkan proses selanjutnya melibatkan warga lokal dengan pola kaderisasi.

Selanjutnya para psikolog mengedukasi warga lokal untuk bisa mendampingi pelaksanaan program pemulihan psikologi anak-anak.

Selain itu, Dompet Dhuafa mengirimkan tim psikologi yang akan menerapkan beberapa agenda kerja dengan melakukan "screening" para korban. Kemudian memisahkan antara korban dewasa dan anak-anak.

Program pemulihan psikologis dilakukan dengan cara berkemah, bernyanyi, bermain game, dongeng, bercerita dan membagikan makanan ringan kepada anak-anak. Sementara, "screening" bagi orang dewasa melalui berbagai metode seperti wawancara singkat dan observasi.

Bencana alam memang tak hanya menyebabkan masyarakat yang menjadi korban kesulitan mendapatkan pangan, melainkan juga akan menimbulkan efek traumatik bagi masyarakat yang terkena musibah tersebut.

Sejatinya suasana kehidupan yang serba darurat, terutama di tempat-tempat pengungsian membuat para korban tertekan dan mengalami kondisi depresi maupun faktor psikologis lainnya.

Dompet Dhuafa juga menerjunkan dapur keliling (Darling) yang langsung menuju lokasi bencana. Kehadiran Darling akan dapat membantu kesiapan dan mobilisasi logistik terutama pangan bagi para pengungsi yang tersebar di berbagai wilayah.

Dompet Dhuafa berencana akan merehabilitasi ribuan rumah dan fasilitas umum yang rusak berat akibat gempa.

Kendati dilanda musibah dan kini terpaksa tinggal di tenda pengungsian, sebagian anak mulai bangkit dan berharap bisa sekolah lagi.

Sejumlah anak korban gempa yang berada di lokasi pengungsian di Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, berharap bisa masuk sekolah lagi seperti biasanya.

Ditemui di lokasi pengungsian Desa Sajang, Kecamatan Sembalun Anton Wahyudi (12) siswa kelas VII di salah satu sekolah swasta MTs Nahdatul Wathan (NW) ini, mengaku ingin secepatnya bisa masuk sekolah.

Pemuda belia itu mengaku jenuhtanpa aktivitas belajar selama berada di lokasi pengungsian, pascagempa 6,4 Skala Richter yang melanda wilayah itu pada Minggu (29/7) pagi.

Bahkan, di lokasi tenda pengungsian pun belum ada sekolah darurat seperti di janjikan oleh pemerintah. Kalau di sekolah bisa belajar. Tidak seperti sekarang di posko pengungsian, hanya diam aja. Sejak gempa bumi terjadi praktis aktivitas sekolah diliburkan, karena karena di sejumlah ruang kelas di MTs NW tempatnya belajar sudah tidak bisa digunakan lagi karena di beberapa ruangan kelas sudah dalam kondisi rusak akibat guncangan gempa.

Anton Wahyudi mengakui, selama empat hari berada di pengungsian, ia bersama teman-temannya juga mengaku masih takut kembali ke rumah. Kalaupun ingin kembali ke rumah kondisinya pun sudah rusak parah.

Sementara itu, Hafizah siswi kelas 5 di SDN 3 Sajang juga mengaku, kangen ingin kembali belajar dan bermain di sekolah.

Walaupun ingin kembali ke sekolah, mereka menyatakan masih takut untuk keluar. Karena masih terasa guncangan gempa bumi. Bukan hanya itu, rumah sebagai tempat dirinya berteduh bersama keluarga sudah roboh akibat guncangan gempa.

Ia mengaku salau di posko pengungsian hanya bermain aja, tidak bisa belajar. Karena itu dia berharap bisa segera kembali sekolah, sehingga bisa belajar. Karena di lokasi pengungsian belum ada sekolah darurat.

Dusun Sajang, Desa Sajang, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur menjadi salah satu lokasi terparah gempa bumi 6,4 SR yang mengguncang NTB pada Minggu pagi. Akibat gempa tersebut, sejumlah sekolah mengalami rusak berat dan ringan.

Dari data yang diperoleh total 10 sekolah dasar dalam kondisi rusak, 66 ronbel rusak berat, 42 kelas rusak ringan dengan total siswa sebanyak 1.042 orang.

Sejatinya upaya memulihkan kembali kondisi psikis para korban bencana alam gempa bumi perlu dilakukan agar mereka tidak terjebak dalam kondisi trauma berkepanjangan dan mereka bisa kembali menjalani hidup dengan normal. *)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment