Perjuangan Indonesia Wujudkan Bebas Campak Dan Rubella

Bagikan Bagikan

Oleh Yudi Abdullah *)
Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif yang dilakukan pemerintah untuk mencegah penularan penyakit tertentu di tengah-tengah masyarakat melalui pemberian kekebalan tubuh kepada anak-anak sejak dini.

Pemberian imunisasii harus dilaksanakan secara terus menerus, menyeluruh, sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularannya.

Upaya imunisasi diselenggarakan di Indonesia sejak tahun 1956. Upaya tersebut merupakan tahapan kesehatan masyarakat yang terbukti paling efektif dari sisi pengeluaran biaya.

Dengan upaya imunisasi terbukti bahwa penyakit cacar telah terbasmi dan Indonesia dinyatakan bebas dari penyakit cacar sejak tahun 1974.

Mulai tahun 1977, upaya imunisasi diperluas menjadi  Program  Pengembangan imunisasi dalam rangka pencegahan penularan terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) yakni tuberculosis, difteri, pertusis, campak, polio, tetanus serta hepatitis B.

Kemudian untuk melindungi masyarakat dari penularan penyakit campak dan rubella pada Agustus-September 2017, Kementerian Kesehatan melakukan program imunisasi massal vaksin campak dan rubella atau "Measles Rubella-MR".

Wakil Ketua Komite Daerah Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komda KIPI) Sumatera Selatan dr Lismarini dalam acara orientasi wartawan atau "media journalist engagement" dan kampanye imunisasi campak rubella yang digelar Forum Kajian Jurnalisme Sumsel bekerja sama dengan Unicef, di Palembang, Kamis (2/8) mengungkapkan pemberian vaksin MR dalam fase imunisasi massal pertama Agustus-September 2017 dilakukan di seluruh provinsi Pulau Jawa berjalan sesuai dengan target yang ditetapkan.

Kemudian pemberian imunisasi fase kedua pada Agustus-September 2018 ini dilakukan di seluruh provinsi di Pulau Sumatera, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.

Kegiatan imunisasi MR massal fase kedua dilakukan di 28 provinsi luar Pulau Jawa, dalam waktu yang relatif singkat dua bulan ke depan ditargetkan 31,8 juta anak diharapkan berlangsung sukses dengan cakupan minimal mencapai 95 persen dari target tersebut.

Khusus di Provinsi Suamtera Selatan sasaran imunisasi campak dan rubella mencapai 2,2 juta anak yang tersebar di 17 kabupaten dan kota.

Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Lesty Nuraini menjelaskan pemberian vaksin campak dan rubella tersebut terbanyak di Kota Palembang untuk 401.792 anak, kemudian Kabupaten Ogan Komering Ilir 223.000 anak dan Musi Banyuasin 180.713 anak.

Sedangkan pemberian vaksin MR yang terendah di Kota Pagaralam dengan sasaran sebanyak 35.156 anak.

Program imunisasi atau pemberian vaksin MR itu dijadwalkan pada Agustus ini di sekolah- sekolah dan September 2018 di semua fasilitas kesehatan termasuk tempat praktik dokter mandiri.

Kegiatan pemberian kekebalan tubuh anak dari serangan virus penyakit campak dan rubella dengan target yang cukup besar dalam waktu singkat hanya 60 hari, diharapkan tidak terjadi hambatan dalam pelaksanaannya di sekolah-sekolah dan fasilitas pelayanan kesehatan, kata Kadinkes.

Lebih lanjut dr Lismarini mengatakan beberapa hambatan dalam pelaksanaan pemberian imunisasi kepada anak-anak selama ini seperti ada orang tua meragukan kehalalan kandungan vaksin serta takut anaknya mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi seperti sakit bahkan hal terburuk meninggal dunia.

Untuk mencegah terjadinya kasus penolakan pemberian vaksin MR dalam program imunisasi massal tahun ini, pihaknya berupaya melakukan kampanye untuk meyakinkan masyarakat bahwa vaksin tersebut aman karena sudah mendapat rekomendasi dari lembaga kesehatan dunia atau "World Health Organization (WHO)".

Selain itu ada izin edar dari Badan Pengawasan Obat Makanan (BPOM), dan telah digunakan di lebih dari 141 negara di dunia termasuk sejumlah negara Islam.

Sementara untuk mencegah kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan terhadap anak-anak yang mengikuti program vaksin MR massal tahun ini, pihaknya akan melakukan pengawasan dan menerima pengaduan masyarakat yang mengalami kejadian ikutan pascaimunisasi yakni semua kejadian sakit dan kematian yang terjadi dalam masa satu bulan setelah imunisasi yang diduga ada hubungannya dengan pemberian imunisasi.

"Tugas kami melakukan pelacakan kasus kejadian ikutan pascaimunisasi sesuai dengan laporan berjenjang dari Puskesmas ke Dinas Kesehatan kabupaten/kota, laporan berjenjang tersebut selanjutnya dianalisis untuk kemudian direkomendasikan penanganan yang terbaik," kata Ketua Komda KIPI Sumsel.

Kampanye Bersama Untuk menyukseskan kegiatan pemberian vaksin MR di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera Selatan gencar dilakukan kampanye imunisasi campak rubella.

Kampanye imunisasi campak rubella tidak hanya dilakukan jajaran Dinas Kesehatan, tetapi juga dilakukan oleh para wartawan.

Untuk mendukung kegiatan kampanye melalui media massa cetak dan elektronik, para pemimpin redaksi, redaktur, dan wartawan diberikan pembekalan melalui kegiatan orientasi atau "Media Journalist Engagement".

Orientasi wartawan mengenai vaksin MR tersebut difasilitasi Forum Kajian Jurnalisme Sumatera Selatan bekerja sama dengan organisasi PBB yang memberikan bantuan kemanusiaan dan perkembangan kesejahteraan jangka panjang kepada anak-anak dan ibunya "United Nations Children's Fund (Unicef)".

Direktur Forum Kajian Jurnalisme Sumatera Selatan (FKJS) Firdaus Komar, pada acara Media Journalist Enggement (MJE) di Palembang, Kamis (2/8) mengatakan kegiatan orientasi itu untuk meningkatkan peran media massa dalam menyukseskan program kemanusiaan melindungi anak-anak Indonesia dari penyakit campak dan rubella.

Melalui kegiatan itu diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada para pemimpin media massa dan wartawan di provinsi yang memilik 17 kabupaten dan kota ini mengenai pentingnya imunisasi tersebut dan memberikan dukungan penuh melalui pemberitaan yang dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemberian vaksin massal MR, kata Firdaus.

Lebih lanjut Wakil Ketua Komite Daerah Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (Komda KIPI) dr Lismarini pada kesempatan itu menambahkan peran wartawan mengkampanyekan program imunisasi massal sangat besar.

Dengan dukungan media massa memberikan penjelasan kepada masyarakat mengenai penyakit campak dan rubela serta, mengenai cara penyebarannya, bahayanya wabah penyakit itu, serta upaya pencegahannya dapat meningkatkan partisipasi masyarakat menyukseskan program pemberian vaksin MR 2018 ini.

Dia menjelaskan, penyakit campak (measles) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus, dan ditularkan melalui batuk dan bersin.

Penyakit tersebut ditandai dengan gejala demam tinggi, bercak kemerahan pada kulit yang disertai dengan pilek, batuk, maupun konjungtivitis.

Penyakit campak menjadi sangat berbahaya saat disertai dengan komplikasi pneumonia (paru-paru basah), diare, meningitis, kerusakan pada otak, dan dapat menyebabkan kematian.

Sedangkan rubella merupakan penyakit akut dan ringan yang kerap menginfeksi anak dan dewasa muda yang rentan.

Penyakit tersebut kerap terjadi pada wanita, dan dapat menyebabkan ruam, demam ringan, serta radang sendi.

Jika wanita hamil terserang rubella, dia dapat mengalami keguguran, atau bayi lahir dengan kelainan sejak kandungan, dan dikenal dengan istilah medis Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Beberapa bentuk kelainan pada CRS adalah kelainan jantung, kelainan pada mata, kelainan pada pendengaran, kelainan pada sistem saraf pusat, dan lainnya.

Melihat dampak kedua penyakit tersebut, diharapkan program imunisasi massal vaksin MR untuk melindungi masyarakat Indonesia dari penularan penyakit tersebut berjalan sukses sesuai dengan target yang diharapkan.

Semoga target eliminasi penyakit campak dan mengendalikan penyakit rubella serta kecacatan bawaan akibat rubella atau "Congenital Rubella Syndrome (CRS)" di Indonesia pada 2020 bisa dicapai. *) Antara
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment