Tiga Tahun Ke Depan Produksi PT Freeport Indonesia Menurun

Bagikan Bagikan
Tambang Terbuka Grasberg.(Foto-Dok)

Advertorial Harmoni Sinergi

BAHWA PT Freeport Indonesia (PT FI) akan mengalami penurunan produksi mulai tahun 2019 merupakan fakta yang tak terhindarkan. PT Indonesia Asahan Alumunium  (Inalum) yang mewakili Pemerintah Indonesia mengambilalih divestasi 51 persen saham dari PT FI menyatakan sudah siap untuk mengahadapi penurunan produksi yang signifikan  tersebut.

Direktur Utama Inalum, Budi Gunadi Sadikin  menjelaskan selama tiga tahun mendatang, paling tidak hingga 2021, produksi tambang Freeport di Grasberg akan turun.

"Tahun ini akan habis yang open pit-nya. Akan turun produksinya," ujar Budi di DPR, Senin (23/7/2018).

Budi mengatakan puncak produksi PTFI di tambang terbuka Grasberg (open pit) akan terjadi pada tahun 2018 ini.  Setelah itu, penambangan akan beralih ke tambang bawah tanah (underground)  yang saat ini masih dalam tahap pengembangan.

"Jadi 2018 peak production di opet pit-nya karena sudah sampai bawah. Di bawah itu banyak emasnya. Untungnya besar, tapi tahun ini habis," katanya.

Dia menjelaskan  underground memiliki cadangan dengan potensi 150 miliar dolar. Saat ini produksi tambang bawah tanah masih sangat kecil. Namun, akan terus meningkat setiap tahunnya.  Dia memperkirakan tingkat produksi tambang bawah tanah akan menyamai tingkat produksi Grasberg mulai 2022. Artinya, sepanjang 2019 hingga 2021 akan terjadi penurunan.

"EBITDA-nya masih tetap ada karena masih ada stok, tapi kecil. 2019 paling jatuh," ujarnya.

Secara keseluruhan, penurunan bisa dilihat dari produksi bijih harian sepanjang tahun lalu.
Sepanjang 2017, produksi bijih Freeport Indonesia hanya mencapai 140.400 ton per hari. Jumlah tersebut lebih rendah 15,27% dari realisasi tahun sebelumnya sebanyak 165.700 ton per hari.

CEO Freeport-McMoRan Richard C. Adkerson mengatakan tambang terbuka Grasberg, yang menghasilkan lebih dari 100.000 ton bijih per hari, telah memasuki fase yang paling akhir. Sebagai gantinya, tambang bawah tanah akan terus dikembangkan untuk ditingkatkan produksinya.

"Rencana kami adalah melakukan pengolahan dari tambang bawah tanah sekitar 240.000 ton bijih per hari untuk jangka panjang hingga 2041," katanya belum lama ini.

Sebelumnya seperti diberitakan media massa, Manajemen PT FI, melalui EVP Sustainable Development PT Freeport Indonesia (sekarang mantan-Red), Sony Prasetyo pada 16 April 2018 juga mengakui akan menutup operasional tambang emas terbuka di Grasberg pada akhir tahun 2018. Langkah ini akan membuat produksi perusahaan tambang asal Amerika itu berkurang drastis mulai tahun 2019.

Sony Prasetyo mengatakan, produksi Freeport pada 2019 akan berkurang sebanyak 80 ribu ton per hari dari yang sebelumnya bisa mencapai 200-an ribu ton per harinya.

Sementara itu, kata Sony, eksploitasi di bawah tanah belum siap sebab masih ada yang harus diselesaikan, di antaranya adalah perizinan pertambangannya. Jika pemerintah memberikan izin eksploitasi tambang bawah tanah, maka belum bisa maksimal sampai 2021 atau 2023. Semua ini membutuhkan waktu.

Dengan situasi tersebut, Sony mengakui akan berdampak pada beberapa hal terkait seperti pendapatan, termasuk dukungan dana kemitraan ke LPMAK.

"Untuk itu saya ingatkan LPMAK untuk bisa bersiap-siap mulai tahun 2019, mereka harus efisien gunakan dana yang ada. Program jangan muluk-muluk," ujarnya.

Selain itu, ketika ditanya terkait adanya kemungkinan efisiensi karyawan, kata Sony, hal tersebut tidak mudah. Dia mengakui belum melihat kemungkinan itu terjadi sebab karyawan bagi Freeport adalah aset yang berharga.

"Saya belum melihat itu. Bagi perusahaan ini, karyawan adalah aset yang berharga jadi tidak akan mudah," katanya.

Sonny berharap agar pemerintah dan tim perundingan PT Freeport tidak terlalu lama memutuskan sejumlah persoalan terkait, agar tidak sampai berdampak pada karyawan, keluarga dan masyarakat. (Yulius Lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment