Kadistrik Miktim Jangan Hanya Sibuk Tutup Rumah Bernyanyi

Bagikan Bagikan
Marianus Maknaipeku.(Foto-Dok)
SAPA (TIMIKA) – Tokoh masyarakat Suku Kamoro, Marianus Maknaipeku meminta Kepala Distrik Mimika Timur (Kadistrik Miktim) Marike H Warinussy untuk tidak hanya sibuk menutup café dan rumah bernyanyi di Pomako, karena ada banyak masalah besar di distrik tersebut yang lebih menyusahkan masyarakat yang sama sekali tidak diurus.

“Kami dari masyarakat adat pertanyakan apa alasan mendasar yang membuat Kadistrik Miktim begitu serius berupaya menutup café atau rumah bernyanyi tersebut? Apakah ada praktek prostitusi yang sudah bisa dibuktikan? Apakah ada warga Miktim yang ke luar dari café atau rumah bernyanyi tersebut dalam keadaan mabuk lalu meninggal dunia? Apakah café dan rumah bernyanyi tidak diijinkan pemerintah untuk dibuka di Mimika? Atau wilayah Miktim aturannya beda dengan distrik lain di Mimika? Kami bisa mendukung penutupan itu asal dasarnya masuk akal dan sesuai aturan,” kata Marianus kepada Salam Papua, Jumat (31/8).

Menurut Marianus, mestinya yang serius diurus oleh Kadistrik Miktim adalah masalah-masalah yang terkait langsung dengan kondisi kehidupan masyarakat, terlebih yang membuat masyarakat Miktim hidup miskin, susah dan hanya menjadi penonton di atas tanahnya sendiri.

“Mestinya yang serius dan mati-matian diurus oleh Kadistrik Miktim adalah masalah pencurian ikan yang dilakukan oleh nelayan pendatang di wilayah tangkapan ikan masyarakat Kamoro. Ini kan masalah sudah lama dan berulangkali masyarakat Kamoro melakukan demo palang jalan. Masalah ini sampai sekarang masih berlangsung. Coba tunjukkan apa yang sudah dilakukan Kadistrik untuk mengatasi masalah ini? Tiap hari ikan tangkapan nelayan luar dikirim ke luar Mimika melalui PPI Pomako, mestinya ini yang harus ditutup oleh Kadistrik, karena ini jelas-jelas dan nyata merugikan masyarakat Kamoro, bukan sibuk urus café atau rumah bernyanyi saja,” tegas Marianus.

Menurut Marianus, Kadistrik Miktim sebenarnya sudah tahu betapa susahnya masyarakat Kamoro saat ini karena hasil tangkapan ikan mereka sudah sangat menurun akibat dari adanya nelayan pendatang yang menangkap ikan di wilayah tangkapan masyarakat Kamoro.

“Hasil yang didapat nelayan Kamoro sudah sangat sedikit, sudah begitu jualnya juga susah, susahnya juga dapat uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara nelayan pendatang, mendapatkan hasil ikan yang banyak dan dengan mudah dipasarkan ke luar. Masyarakat Kamoro sudah miskin, lalu menjadi penonton di atas tanahnya sendiri. Masalah yang langsung merugikan masyarakat Kamoro seperti inilah yang mesti serius diurus oleh Kadistrik Miktim,” kata Marianus.

Marianus menegaskan, masyarakat Mimika Timur umumnya sangat sakit hati dengan tidak adanya keberpihakan pembangunan terhadap masyarakat setempat, khususnya dalam pengelolaan hasil tangkapan ikan.

“Ada pembiaran terhadap pencurian ikan di laut, yang mana membuat orang Kamoro sulit mendapatkan ikan, dengan sendirinya sulit memiliki uang untuk membiayai kehidupan sehari-hari. Mestinya ibu Kadistrik memikirkan bagaimana caranya agar membongkar dan mengatasi kasus pencurian ikan di laut in agar warga Kamoro bisa memperoleh ikan dan pendapatan,” ujar Marianus.

Marianus menambahkan, banyak hasil ikan dari perairan Mimika yang diberikan kepada paguyuban pendatang tertentu di Timika untuk kepentingan pengawasan dan sebagainya, pada hal itukan hasil ikan dari masyarakat Kamoro, tapi dinikmati warga lainnya, ini bagaimana? Ini yang mesti ibu Kadistrik urus?

“Saran saya, ibu Kadistrik perlu membentuk Tim Khusus untuk menertibkan nelayan-nelayan non loal yang mencuri ikan di perairan tempat masyarakat asli Kamoro menangkap ikan sehari-hari.  Ini yang harus dilakukan kalau Kadistrik Miktim punya hati dan kepedulian untuk membantu masyarakat Miktim bisa menikmati hidup yang layak,” kata Marianus.

Masalah besar lain yang perlu serius diurus Kadistrik Miktim adalah minuman keras lokal, baik yang didatangkan dari luar, maupun yang diproduksi masyarakat lokal.

“Banyak warga Miktim yang masih ditemukan mabuk karena minuman lokal masih banyak beredar. Kami minta Kadistrik Miktim serius urus ini. Harus tutup semua pintu masuknya melalui pelabuhan Pomako. Karena kalau hanya sibuk urus café dan rumah bernyanyi, sementara minuman lokal dibiarkan membunuh masyarakat, itu namanya sibuk yang sia-sia,” kata Marianus. (Red) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment