Karena Dianggap Haram, Masih Ada Sekolah Tolak Imunisasi MR

Bagikan Bagikan
Kepala Seksi Imunisasi Dinkes Kabupaten Mimika, Usman La Alimuda.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika mengklaim adanya sekolah di Mimika yang menolak pelaksanaan imunisasi campak dan measles rubella (MR), dengan alasan takut karena vaksin yang mengandung enzim babi tersebut adalah haram.

Menurut Kepala Seksi Imunisasi pada Dinkes Kabupaten Mimika, Usman La Alimuda, ini merupakan kendala yang memperlambat cakupan 100 persen pelaksanaan imunisasi campak dan MR khususnya di wilayah kota Timika.

Sejak awal dijalankannya program nasional ini, diakui Usman, terdapat pada beberapa sekolah, mereka mengajukan keberatan. Namun, sekolah-sekolah tersebut kembali menerima pelaksanaan imunisasi campak dan MR setelah adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang menyatakan vaksin MR haram karena mengandung babi, namun, boleh digunakan dalam kondisi terpaksa.

Meski sekolah-sekolah yang dimaksud menyatakan menerima pelaksanaan imunisasi campak dan MR, ternyata belakangan masih juga merasa keberatan. Keberatan yang dimaksud adalah sekolah menyampaikan informasi melalui WhatsApp (WA) kepada orang tua murid agar ketika Dinkes melaksanakan imunisasi di sekolah, bagi orang tua murid yang keberatan imunisasi, diperbolehkan anaknya untuk tidak masuk sekolah agar tidak mengikuti pelaksanaan imunisasi.

“Kita ketahui itu melalui grup WA sekolah itu. Seharusnya tidak boleh seperti itu. Sekolah seharusnya memberikan edukasi yang baik kepada masyarakat, bukan dengan cara menawarkan mau dan tidak mau seperti itu,” ungkap Usman saat ditemui di Kantor Dinkes, Senin (3/9).

Meski demikian, Usman mengaku bersyukur, karena di Mimika hingga kini imunisasi campak dan MR telah mencapai 23 ribu sasaran, dan itu dianggap tidak mengalami kendala.

“Kita laksanakan selama ini berjalan baik tanpa kendala meski ada efek samping, tapi itu hal biasa, seperti panas dan nyeri. Memang ada viral informasi bahwa di Wamena ada korban imunisasi MR, tapi setelah di cek ternyata anak tersebut memiliki riwayat epilepsy. Sebetulnya kasus rubella ini sudah ada di Mimika tiga atau lima tahun lalu dan diketahui di RS Wajo, Makassar,” ungkapnya.

Dengan demikian, menurut Usman, Dinkes akan tetap berupaya untuk kembali mengunjungi sekolah-sekolah yang belum melaksanakan imunisasi untuk seluruh muridnya.

“Dalam wilayah kota sudah ada yang diberikan jadwal ulang dari Dinkes, tetapi belum ada surat balasan dari sekolah-sekolah itu. Tapi petugas Dinkes kembali dan memastikan agar bisa dilaksanakan dalam bulan berjalan,” tuturnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment