Masyarakat 8 Kampung Ikut Pelatihan Pengolahan Makanan Berbahan Lokal

Bagikan Bagikan
Peserta dan panitia pelatihan olah makanan berbahan lokal.(Foto-Salma)
SAPA (TIMIKA) - Masyarakat Kamoro dari 8 kampung yakni Nayaro, Nawaripi, Koperapoka, Tipuka, Ayuka, Fanamo, Omawita dan Otakwa mengikuti pelatihan pengolahan makanan berbahan lokal Sagu dan Ikan. Pelatihan ini digelar oleh Koperasi Maria Bintang Laut (Milik Keuskupan Timika) bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mimika dan PT Freeport Indonesia (PTFI).

Kepala Koperasi Maria Bintang Laut, Benny Meo, mengatakan bahwa pelatihan ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga, khususnya masyarakat Kamoro. Di mana, saat ini banyak yang beralih dari sagu ke beras, sementara diketahui bahwa di Kabupaten Mimika tidak ada pertanian tersebut.

“Ini untuk mengantisipasi agar tidak kekurangan bahan pangan, mereka memproduksi sagu dan ikan. Masyarakat Kamoro belum mengoptimalkan hal itu, sehingga keuskupan membuat koperasi dan mengadakan program. Sagu dan ikan cukup melimpah disini. Jadi harus ada pengembangan lokal sehingga tidak ada ketergantungan bahan dari luar,” kata Benny saat ditemui di Kantor Koperasi Maria Bintang Laut, Jalan Cenderawasih, Rabu (5/9).

Ia menyebutkan, pelatihan ini dibagi dalam dua tahap, pada tahap pertama fokus pada lima kampung, Nayaro, Nawaripi, Koperapoka, Tipuka, Ayuka dan Fanamo yang dilaksanakan sejak Senin (3/9) hingga Jumat (7/9). Sementara tiga kampung lainnya akan dilaksanakan pada pekan depan.

“Pelaithan ini bekerja sama dengan ketahanan pangan. Kami minta mereka memberi pemahaman agar mama-mama menjaga stok pangan berbahan lokal. Yang dilatih ini adalah kader setiap kampungnya.  Koperasi Maria Bintang Laut Keuskupan fokus pada masyarakat pesisir. Banyak ikan hasil tangkapan hanya ditukar dengan sembako. Melalui pendampingan ini, nilai jual bahan makanan lokal pun akan lebih tinggi dibanding hanya ditukar saja dengan sembako,” ujarnya.

Selain itu, kata Benny, pendampingan terhadap warga pesisir juga dilakukan melalui program Koperasi Keuskupan itu sendiri, seperti tempat pendaratan ikan, pelatihan motor tempel dan pembuatan es.

“Banyak program yang sudah dirintis. Ini untuk pengembangan lokal sehingga memiliki nilai jual lebih tinggi. Hasil ikan tidak hanya diterima lalu dijual, tetapi diproduksi lalu dipasarkan, salah satunya di Pangan Sari Utama,” ujarnya. (Salma)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment