Presentasi Pajak dan Retribusi, 2018 Belum Tentu Defisit

Bagikan Bagikan
Rapat Evaluasi Data Potensi dan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Mimika.(Foto-Acik)

SAPA (TIMIKA) - Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika mempresentasikan pencapai pajak dan retribusi daerah dalam rapat Evaluasi Data Potensi dan Realisasi Pendapatan Daerah Kabupaten Mimika, Selasa (4/9), diruang pertemuan lantai III gedung A, Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Kabupaten Mimika.

Pada presentasi itu, pajak daerah dengan target perolehan sebesar Rp151.109.168.940, hingga tanggal 3 September 2018 telah tercapai sebesar Rp120.632.100.739 miliar dengan presentasi 79,83 persen atau dibulatkan 80 persen. Sedangkan untuk retribusi dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, mencapai Rp11.230. 926.270 atau 55,76 persen dari target sebesar Rp20.147.631.000.

Menurut Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kabupaten Mimika, Dwi Cholifa, pencapaian tersebut tidak bisa memastikan terjadinya defisit ataupun surplus anggaran pada keuangan daerah, sebab masih ada triwulan keempat.

“Sekarang ini masih tahun berjalan, jadi belum bisa kita vonis itu defisit atau surplus. Apalagi yang namanya dana perimbangan dari pusat, itu akan disalurkan pada triwulan terakhir. Seperti tahun lalu, dana perimbangan itu setelah adanya penetapan APBD-P. Itu berarti akhir bulan Desember nanti baru bisa mengetahui adanya defisit ataupun surplus,” kata Dwi usai rapat.

Dwi berharap, beberapa bulan kedepan menjelang akhir tahun anggaran 2018, dari target yang ada seluruhnya bisa mencapai 100 persen ataupun lebih. Mengingat banyak Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang meminta untuk dikurangi target pendapatannya, seperti Dinas Perhubungan dan beberapa dinas lainya.

Yang menjadi permasalahan, menurut Dwi, adalah persoalan dana perimbangan karena itu dari pusat. Berarti, jika keuangan negara sehat atau normal maka negara akan transfer ke daerah sesuai yang di alokasikan pada saat penyusunan APBD tahun 2018.

“Misalnya royalti sekian bisa tercapai. PPH 21, 25 dan 29 ditargetkan untuk Mimika sekian dan bisa tercapai. Yang jadi permasalahannya sekarang ialah kurang sehatnya keuangan Negara. Intinya masih terbayang-bayang seperti tahun lalu punya,” tuturnya.

Pada tahun lalu, dana bagi hasil (DBH) triwulan keempat dengan total Rp328 miliar tidak disalurkan. Itu diharapkan menjadi kurang bayar pada tahun ini. Itupun tidak terealisasi karena tidak dilaksanakannya APBN-P sehingga tidak ada penyesuaian pada belanja dan pendapatan, hanya mengandalkan APBD induk. Hal inilah yang juga menjadikan Pemkab Mimika kehilangan potensi dari royalti PTFI sebesar Rp328 miliar yang seharusnya masuk di tahun 2018.

Selain itu, ada juga tailing manajemen sistem (TMS) PTFI untuk anggaran tahun 2017 dan 2018 kurang lebih Rp80 miliar, dengan perhitungan Rp40 miliar per tahunnya. Berdasarkan MoU, PTFI bersedia membayar membayar TMS sebesar 3 juta US Dollar untuk satu tahun. Itu jika dikalikan dengan kurs rupiah saat ini bisa mencapai kurang lebih Rp40 milar. Dengan demikian, termasuk untuk tahun anggaran 2018 yang harus dibayar pada bulan November mendatang, maka, dana TMS dari PTFI sebesar Rp80 miliar.

“Jadi, DBH dan TMS itu berhasil maka akan mendongkrak pemasukan kita. Bahkan bisa lebih dari target atau surplus,” jelas Dwi.

Pantauan Salam Papua, dalam presentasi yang dipaparkan Bapenda menunjukan bahwa target pendapatan khusus dari pajak daerah sebesar Rp2.843.228.226.702 dan telah terealisasi sebesar Rp1.521.997.074.342 atau 53,53 persen. Sedangkan PAD dengan target Rp254.883.835.912, terealisasi sebesar Rp158.280.115.804 atau 62,10 persen. Hasil pajak daerah sebesar Rp151.109.168.940 dan yang terealisasi sebesar Rp120.632.100.739 atau 79.83 persen.

Berikut target dan realisasi:

Pajak hotel, target Rp21.607.454.000, terealisasi sebesar Rp14.226.714.718 atau 65,84 persen.

Pajak restoran, target Rp63.248.327.000, terealisasi sebesar Rp41.409.213.214 atau 65,47 persen.

Pajak hiburan, target Rp2.513.387.940, terealisasi sebesar Rp1.684.937.682 atau 67,04 persen.

Pajak reklame, target Rp1.420.000.000, terealisasi sebesar Rp1.277.628.817 atau 89,97 persen.

Pajak penerangan jalan, target Rp7.920.000.000, terealisasi sebesar Rp6.500.134.687 atau 82,07 persen.

Pajak parkir, target Rp700.000.000, terealisasi sebesar Rp379.162.1010 atau 54,17 persen.

Pajak air tanah, target Rp500.000.000, terealisasi sebesar Rp35.070.618 atau 7,01 persen.

Pajak mineral bukan logam dan batuan, target Rp5.000.000.000, terealisasi sebesar Rp2.315.683.910 atau 46,31 persen.

Pajak bumi dan bangunan pedesaan dan perkotaan, target Rp38.200.000.000, terealisasi sebesar Rp39.016.064.537 atau 102,14 persen.

Bea perolehan atas tanah dan bangunan, target Rp10.000.000.000, terealisasi sebesar Rp13.787.490.455 atau 137,87 persen.

Sedangkan untuk retribusi daerah dan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, ditargetkan hasil retribusi sebesar Rp20.147.631.000, terealisasi sebesar Rp11.230.926.270 atau 55,74 % persen.

Retribusi jasa umum, target Rp5.759.756.000, terealisasi sebesar Rp3.723.980.625 atau  64,66 % persen.

Retribusi jasa usaha, target Rp1.469.375.000, terealisasi sebesar Rp549.725.550 atau 37,41 persen.

Retribusi perijinan tertentu, target Rp12.918.500.000, terealisasi sebesar Rp6.957.220.095 atau 53,85 persen. 

Selanjutnya, hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, target 12.000.000.000, terealisasi sebesar Rp2.557.576.204 atau 21,31 persen. 

Bagian jasa atas penyertaan modal BUMD (Deviden Bank Papua), target 12.000.000.000, terealisasi sebesar Rp2.557.576.204 atau 21,31 persen.

“Khusus PAD ini, saya sangat optimis masih bisa tercapai 100 persen. Meski ada beberapa OPD yang menurun. Tetapi untuk bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB) kita, meningkat dari 10 miliar menjadi 13,7 miliar, atau 4 miliar. Kemudian dari penataan pajak bumi dan bangunan kategori pedesaan dan perkotaan (PBB- P2), dari 38 miliar menjadi 39 miliar. Ini berarti masih ada beberapa bulan lagi untuk mencapai yang lebih lagi, dan bisa menutupi kekurangan pada PAD retribusi,” tutur Dwi. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment