Pesawat Canggih Yang Kurang Canggih

Bagikan Bagikan
Tajuk Salam Papua

DISKUSI seputar apa penyebab Pesawat Lion Air PK-LQP (JT 610) rute Jakarta-Pangkal Pinang yang hilang kontak lalu jatuh di perairan Kerawang, Senin (29/10) pukul 06.33 WIB seakan tidak habis. Sudah seminggu berlalu, sejumlah media televisi masih membahas topik tersebut dengan menghadirkan sejumlah pakar penerbangan DAN PILOT SENIOR. Jawaban akhir terkait pertanyaan ini masih sama yakni menunggu hasil rekaman kotak hitam.

Kecelakaan ini cukup mengejutkan karena pesawat terbang 737 MAX 8 merupakan salah satu keluaran terbaru Boeing dan tergolong canggih.  Boeing 737 MAX memiliki mesin CFM International LEAP-1B baru yang lebih baik dan dirancang lebih ringan sehingga efisien bahan bakar. Bahkan, pesawat Boeing ini diklaim lebih hemat 20 persen dibanding generasi 737 saat ini. Boeing 737 MAX 8 juga dapat terbang selama 7 jam 30 menit tanpa mengisi bahan bakar.

Kenyamanan mesin juga disebut-sebut sebagai keunggulan karena kemampuannya meredam suara mesin hingga 40 persen. Selain itu, penumpang pesawat dapat membawa bagasi lebih banyak. Model sayap pesawat ini juga berbeda, dibuat terbelah, berguna untuk memecah turbulensi udara yang terjadi di ujung sayap, terutama saat pesawat terbang dalam kecepatan tinggi.

Pertanyaan yang paling mengganjal adalah mengapa pesawat yang tergolong canggih ini bisa mengalami kerusakan dan jatuh, pada hal baru dioperasikan Lion Air sejak 15 Agustus 2018 atau sekitar tiga bulan lalu? Sejumlah ahli penerbangan menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan, “Sudah lama digunakan atau baru digunakan, yang namanya buatan manusia, pasti ada kekurangannya.”

Sejumlah fakta ikut ‘memanasi’ perbincangan seputar apa penyebab jatuhnya pesawat Lion tersebut. Salah satunya pengakuan pilot yang menerbangkan pesawat tersebut sehari sebelumnya dari Denpasar menuju Jakarta yang mencatat sejumlah gangguan yang dialami. Pengakuan pilot ini diperkuat sejumlah penumpang yang ikut dalam penerbangan tersebut.

Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait pun sudah mengklarifikasi pengakuan pilot dan penumpang ini dengan mengatakan sejumlah permasalahan tersebut sudah diperbaiki oleh teknisi dan pada Senin pagi yang naas itu, pesawat Lion Air JT 610 sudah laik terbang. Masyarakat pun bertanya, “Kalau sudah laik terbang, mengapa jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya?”

Mengikuti sejumlah diskusi panjang tentang apa penyebab jatuhnya pesawat ini dan jawaban-jawaban dari para ahli penerbangan, sebenarnya masih ada kekurangan atau kelemahan pada pesawat terbang yang disebut-sebut canggih tersebut. Baik ahli penerbangan atau pilot senior, umumnya mengakui perbaikian yang dilakukan teknisi terhadap pesawat yang sebelumnya mengalami gangguan atau kerusakan baru diketahui hasilnya saat pesawat tersebut sudah terbang.

Umumnya kalau kerusakan atau gangguan sudah diperbaiki teknisi maka pesawat tersebut dinilai sudah laik terbang. Pada hal hasil perbaikan teknisi tersebut belum diuji kelaikannya. Mungkin dalam banyak kasus, prosedur seperti ini sudah benar karena terbukti tidak ada kerusakan saat terbang. Tapi dalam kasus yang dialami pesawat Lion Air PK-LQP (JT 610), pesawat Adam Air dan pesawat-pesawat lain yang sebelumnya jatuh mungkin saja berbeda. Perbaikan terhadap kerusakan yang dialami dalam penerbangan sehari sebelumnya mungkin saja hasilnya tidak sempurna.

Mungkin saja hal itu yang menyebabkan pesawat tersebut jatuh pada pada Senin (29/10) di perairan Karawang. Ini masih sebatas kemungkinan. Jawaban pastinya kita menunggu hasil rekaman dari kotak hitam.

Terhadap fakta ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pada pesawat yang tergolong canggih sekalipun sebetulnya masih terdapat kekurangan, salah satunya belum bisa mendeteksi hasil perbaikan yang dilakukan teknisi terhadap gangguan atau kerusakan yang terjadi sebelumnya.

Sudah saatnya para ahli atau pabrikan pesawat menciptakan pesawat yang dilengkapi alat canggih yang bisa mendeteksi hasil perbaikan terhadap gangguan atau kerusakan itu, saat selesai diperbaiki di bengkel pesawat. Sehingga bila dikatakan ‘laik’ maka sudah teruji oleh alat tersebut. Dan tidak lagi dibiarkan terbang dulu baru ketahuan, karena bisa saja pesawat jatuh dan menewaskan seluruh penumpangnya. (Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment