SMANSA Sabet Juara Pidato dan Moderen Dance Ombudsman RI

Bagikan Bagikan
Penyerahan piala kepada juara I lomba Pidato Igner I Lande, siswa SMA Negeri 1 Timika.(Foto-Acik)
SAPA (TIMIKA) -  Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri Satu (SMANSA) Timika menyabet juara pada lomba Pidato dan Moderen Dance  tingkat SMA se Kabupaten Mimika yang digelar oleh Ombudsman RI.

Juara 1 untuk lomba Pidato diraih oleh Igner I Lande dan juara 2 diraih oleh Mega Fransiska yang juga merupakan Siswi SMAN 1. Dua siswa ini juga memboyong piala, sertifikat dan uang pembinaan senilai Rp 1 juta  dan Rp 750 ribu.

Juara III diraih oleh Audrey Jefferin, siswa Shining Star dan juara favorit diraih Rina Kramandodo, siswa SMA Santa Maria. Kedua siswa ini juga membawa pulang piala, sertifikat dan uang pembinaan masing-masing Rp 500 ribu dan Rp 350 ribu.

Selain menjuarai lomba pidato, dalam pegelaran lomba yang diselenggarakan, Sabtu (3/11) di Graha Eme Neme Yauware ini, siswa SMAN 1 juga berhasil meraih juara  I dan II dance setelah beradu bersama  grup  dari SMAN 4 (SMANPAT) dan Shining Star.

Gerakan-gerakan grup dance SMANSA yang beranggotakan 6 orang ini berhasil memukau tim juri dan menciptakan suasana riuh ratusan siswa SMA yang hadir menyaksikan lomba. Dengan demikian mereka juga memboyon piala, sertifikat dan uang pembinaan Rp 2,5 juta dan Rp 1 juta.

Sedangkan SMAN IV berada di posisi III dan  juara favorit diraih SMA Shining Star. Grup dance dari dua sekolah inipun memperoleh piala sertifikat dan uang pembinaan masing Rp 500 ribu dan Rp 350 ribu.

Kordinator Bidang Pencegahan Ombudsman RI Provinsi Papua, Melania Pasifika Kirihio, SH kepada Salam Papua mengatakan, lomba pidato yang diikuti 15 peserta perwakilan sekolah berbeda ini dinilai dari  isi pidato terkait ‘Pelayanan publik’, susunan tata bahasa, salam pembuka dan menyapa audiens, intonasi dan kontak audiens.

Lomba ini dinilai oleh dua bagian penjurian, dalam artian juri dari Ombudsman akan menilai sisi pelayanan publik dan apa yang diketahui peserta terkait Ombudsman. Sedangkan, juri lain dari Dinas Pendidikan (Disdik) dan juga Guru Bahasa Indonesia menilai intonasi dan tata bahasa setiap peserta.

“Kami tidak tentukan judulnya, tapi yang jelas konteksnya tentang pelayanan publik. Setiap perserta bebas mau membahas persoalan pendidikan, kesehatan dan bidang lainnya. Dari hasil penilaian, kemudian menentukan juara I, II dan III dan diberikan piala penghargaan. Yang jelas kita bangga melihat antusias mereka semua dan semua peserta mempunyai keberanian dan pemahaman yang bagus. Tapi yang namanya lomba pasti ada yang juara, dan bukan berarti yang lainnya tidak bagus,”katanya. 
Para peserta lomba Pidato dan Modern Dance berpose bersama-sama.(Foto-Acik)
Menurut Melania, melalui pidato yang disampaikan, setiap peserta melihat dan menyampaikan pelayanan publik apa yang perlu dibenahi, baik kelistrikan, transportasi, fasilitas pendidikan dan kenyamanan lingkungan sekolah atau anak. Dengan demikian, juri ataupun lembaga sekolah ataupun pemerintah bisa mengetahui arah yang diingingkan setiap peserta.

Melania menjelaskan, keterilibatan siswa SMA dalam pengawalan pelayanan publik bisa dilakukan dengan cara membangun daya kritis dalam mengikuti program pendidikan di dalam sekolahnya, membantu sekolah untuk lebih berinovatif dan pendidikan juga bisa dimanfaatkan oleh teman-teman lainnya. Diharapkan  setiap peserta yang hadir dalam kegiatan ini bisa menjadi pionir bagi teman-teman lainnya sehingga tidak berpikir bahwa menjadi pelajar hanya fokus untuk meraih ijazah, tapi tidak memahami fungsi pendidikan itu apa.

“Kegiatan ini mendorong daya kritis bagi anak-anak sekolah di Mimika, bisa terlibat dalam mengawal pelayanan publik di Mimika. Tetapi dengan konteks pengawalan yang bebeda dengan masyarakat umum lainnya. Target kita untuk peserta pidato sebanyak 20 orang, tapi yang kembalikan formulir dan mengikuti teknikal meeting hanya 15 orang, sehingga 15 orang saja yang ikut lomba. Begitu juga untuk grup peserta lomba dance, yang hadir dan ikut hanya empat grup. Pelaksanaannya selang-seling antara lomba pidato dan dance,” jelasnya.

 Untuk lomba Moderen Dance, dia menjelaskan, setiap gerakan harus menceritakan atau menggambarkan pelayanan publik yang harus dibenahi. Sebagai contoh, persoalan pelayanan transportasi khusus pelajar, pelayanan rumah sakit dan pelayanan publik lainnya. Selain itu berdasarkan criteria lomba dance, setiap grup harus menyertai jingle Ombudsman.

Selanjutnya ia menjelaskan, Ombudsman RI merupakan lembaga negara yang lahir dengan penetapan MPR R,  diatur dalam UU nomor 37 tahun 2008 tentang Ombudsman RI dan UU 25 tahun 2009 tentang pelayanan publik.

Secara nasional Ombudsman bertugas untuk pengawasan penyelenggaraan pelayanan publik di Indonesia yang diselenggarakan oleh kementerian, Pemerintah pusat dan Daerah sebagai pengelola dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN) dan APBD. Pengawasan ini juga dilakukan terhadap  BUMN dan BUMD yang mengelola sebagian dana APBN dan APBD itu.

“Setelah tahun 2000 Ombudsman ada kantor Pusat di Jakarta, kemudian mengembangkan 34 Kantor Perwakilan termasuk di Provinsi Papua pada tahun 2012. Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Ombusdman selain menerima keluhan- keluhan dari masyarakat terkait pelayanan publik, juga melakukan pencegahan,” jelasnya. (Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment