Allah Maha Mengetahui, Apa Yang Kita Kerjakan

Bagikan Bagikan
Tajuk Salam Papua

ALLAH Tabaraka wa Ta’ala berfirman,  “Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” [Quran An-Nisa: 1]. Dan firman-Nya, “Dan adalah Allah Maha Mengawasi segala sesuatu.” [Quran al-Ahzab: 52].

Dialah Allah Subhanahu wa Ta’ala Yang Maha Mengawasi dan mengetahui segala sesuatu yang ada di hati manusia. Dia memberi balasan dari setiap apa yang diusahakan manusia. Di Yang Maha Menjaga yang tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dia tahu semua keadaan makhluk-makhluk-Nya.
Melihat keadaan mereka dan menghitung amal perbuatan mereka.

Kalau makna ini benar-benar menancap di hati seseorang, kokoh pula keyakinan di hatinya akan dawamnya ilmu Allah terhadap dirinya. Bahwa Allah mengetahui keadaannya seacara zahir maupun batin. Kemudian melahirkan keyakinan yang mantap bahwa Allah itu Maha Mengawasi. Melihat keadaannya. Mendengar ucapannya.mengawasi setiap gerak-geriknya setiap waktu dan setiap saat.
Bahkan setiap kedipan matanya.

Muroqobah, sifat merasa diawasi Allah yang ada pada seseorang merupakan bentuk ibadah kepada Allah. Karena hal itu beramal sesuai dengan konsekuensi nama dan sifat Allah ar-Raqib (Maha Mengawasi), al-Hafizh (Maha Menjaga), al-Alim (Maha Mengetahui), al-Muhith (ilmu-Nya meliputi segala sesuatu), al-Khobir (Maha Mengabarkan perbuatan hamba), dan al-Lathif (Maha Lembut mengetahui sedetil-detilnya).

Dialah Allah yang menyaksikan segala sesuatu. Mendengar segala suara. Baik yang lirih ataupun yang lantang. Melihat segala apa yang ada. Baik secara detil maupun global. Yang besar maupun yang kecil. Dialah Yang Maha Dekat kepada setiap orang dengan ilmu-Nya. Siapa saja yang merenungkan nama-nama Allah yang Maha Indah ini. Kemudian beramal dengan konsekuensinya. Ia akan benar-benar merasa diawasi yang membuat dirinya dan hatinya senantiasa terjaga dalam kebenaran dan jauh dari hal-hal yang membahayakan.

Wajib bagi seorang hamba dalam kehidupan dunia ini menata hatinya agar senantiasa merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla. Jangan berpaling kepada selain Allah. Jangan merasa takut kecuali hanya pada-Nya. Senantiasa jagalah perintah Allah Jalla wa ‘Ala dan jauhilah larangan-Nya. Ketika seseorang merasa diawasi dan dilihat Allah, pasti ia akan malu kepada penciptan-Nya, mengagungkan-Nya, takut, cinta, tunduk, dan merendahkan diri kepada-Nya.

Kebaikan di dunia dan di akhirat tidak akan digapai kecuali dengan perasaan merasa diawasi Allah ini. Menjaga ibadah di atas sunnah Nabi-Nya. Disertai dengan mengikhlaskan ibadah tersebut hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

 “Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” [Quran Ali Imran: 5]. Dan firman-Nya,  “Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya.” [Quran Al-Baqarah: 235].

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang telah ia perbuat untuk kehidupan akhiratnya. Apakah yang ia perbuat itu adalah amal shaleh yang menyelematkannya. Atau amal keburukan yang membinasakan dan mencelakakannya.” Kemudian beliau juga mengatakan, “Perbaikan hati itu terwujud dengan memuhasabah diri. Dan rusaknya hati adalah dengan meremehkan dan menyia-nyiakannya.”

 Seorang mukmin wajib senantiasa merasa diawasi Allah. Saat ia beribadah, ia lakukan dengan penuh ketaatan pada-Nya, ikhlas, dan sempurna dalam pelaksanaannya serta berharap pahala darinya. Demikian juga dalam menyikapi larangannya, harus tunduk dan merasa takut padanya.
Merasa diawasi Allah Jalla wa ‘Ala membantu seseorang dalam menjauhi perbuatan dosa dan hal-hal yang diharamkan. Membersihkan hati dari semua hal yang merusaknya. Dengan individu-individu yang baik ini terbentuklah masyarakat yang baik.

Merasa diawasi oleh Allah Jalla wa ‘Ala akan menumbuhkan masyarakat yang bersih dari hal-hal yang rendah, bersih dari kriminalitas, generasi mudanya berhias dengan akhlak mulia, mereka hidup dengan kehidupan yang damai, saling tolong menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, mereka berpegang teguh dengan tali Allah, bersatu di atas kalimat Allah, jauh dari berkelompok-kelompok, jauh dari pemahaman yang ekstrim. Mereka hidup dengan cahaya petunjuk agama mereka. Yang membawa mereka pada masyarakat yang adil dan toleran. Masyarakat yang moderat. Lemah lembut dan penuh kecintaan. (*/Red)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment