Evaluasi Otsus Lebih Penting Dari 1 Desember

Bagikan Bagikan
Tajuk
TANGGAL 1 Desember yang sebelumnya lebih dikenal sebagai tanggal yang ‘menakutkan’ di Papua, kini mulai berangsur berkurang. Puncaknya sebenarnya terjadi pada 1 Desember 2000, dimana saat itu ada rencana besar-besaran untuk mendeklerasikan Papua merdeka. Rencana ini membuat banyak warga pendatang, dua bulan menjelang 1 Desember 2000,  menjual semua harta kekayaan dengan harga murah lalu mulai pulang kampung meninggalkan Papua.

Namun berkat kesigapan aparat TNI dan Polri, tanggal 1 Desember 2000 berlalu biasa-biasa saja. Pada tanggal tersebut semua kota dan kampung di Papua ibarat kota mati, karena mayoritas warga memilih tidak beraktivitas dan berdiam diri di rumah. Namun menjelang sore, aktivitas warga mulai kembali bergeliat karena rencana memerdekakan Papua bisa dikata gagal total.

Walau demikian, aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM) masih menunjukkan eksestensinya tahun 2001 ke atas. Di Kabupaten Mimika sendiri, tercatat ada beberapa kali menjelang atau pada 1 Desember atau beberapa hari sesudahnya, ditemukan ada pengibaran bendera bintang kejora di sejumlah titik, salah satunya di Jalan Baru atau Jalan Heatubun.

Hal yang sama juga terjadi di Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura dan sejumlah kabupaten lain di Papua. Namun secara perlahan, aktivitas para pentolan OPM dan kejadian pengibaran bendera bintang kejora mulai berkurang. Dan tidak sepanas tahun-tahun sebelumnya. Terlebih di Mimika, dalam beberapa tahun terakhir sama sekali tidak terdengar adanya pengibaran bintang kejora.

Mungkin saja kondisi ini terjadi karena generasi sekarang sudah sadar bahwa lebih baik mendukung NKRI dan terlibat secara nyata melaksanakan pembangunan untuk memperbaiki kondisi hidup ketimbang mendukung gerakan separatis, yang bisa saja merugikan diri sendiri dan keluarga.

Mungkin saja juga, kondisi ini terjadi karena adanya otonomi khusus (Otsus) yang diberikan kepada Papua sejak tahun 2001 lalu. Walau hasil dari Otsus ini sendiri bisa dikata masih jauh dari harapan dan tujuan awalnya. Karena hingga saat ini sudah puluhan triliun dana Otsus dikucurkan Pemerintah Pusat ke Papua dan juga Papua Barat, tapi dua provinsi di Indonesia timur ini masih tercatat sebagai ‘juara’ satu dan dua provinsi termiskin di Indonesia. Lalu dana Otsus selama ini digunakan untuk apa saja?

Terhadap fakta ini, Tokoh adat Sentani Yanto Khomlay Eluay, anak dari almarhum pejuang kemerdekaan Papua Theys Hiyo Eluay berpendapat, lebih penting rakyat Papua mendorong evaluasi implementasi Otsus daripada menghabiskan energi memperingati 1 Desember sebagai HUT Organisasi Papua Merdeka.

"Saat ini lebih penting mengevaluasi Otsus Papua yang sudah 17 tahun berjalan, namun masih jauh dari keberhasilan. Otsus ini adalah hasil perjuangan tokoh Papua termasuk almarhum orang tua saya, tujuannya untuk kesejahteraan rakyat Papua, utamanya pendidikan. Namun sampai hari ini, saudara kita di pedalaman masih jauh tertinggal, padahal semua pemimpin adalah sesama Papua,"  katanya di Jayapura, Papua, Jumat (30/11).

Yanto menegaskan perayaan 1 Desember sebagai Hari Papua Merdeka tidak perlu dilakukan.  Ia mengaku tidak sependapat dengan kelompok-kelompok yang terus memanfaatkan isu Papua Merdeka, seperti Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan United Liberal Movement for West Papua (ULWMP) yang bersuara untuk mencari keuntungan di atas penderitaan rakyat di Bumi Cenderawasih itu.

Yanto mengajak agar rakyat Papua tidak gampang termakan hasutan yang menyesatkan hanya terbawa dalam opini orang lain, yang tidak ingin Papua maju seperti daerah lainnya di Indonesia. Apalagi  saat ini pemerintah pusat sedang gencar-gencarnya membangun Papua dalam segala bidang, sehingga momentum ini sebaiknya segera disikapi dengan memberikan dukungan yang positif.

"Jangan cepat terprovokasi, mari kita berikan bentuk dukungan seperti dorong Otsus untuk dievaluasi atau diaudit, sejauh mana implementasinya. Kita juga harus tanya kepada wakil rakyat di lembaga legeslatif, sejauh mana pengawasan mereka dalam pembangunan pada masa Otsus ini, apa yang sudah dibangun. Sekolah bagaimana, apakah yang di pedalaman sudah sejajar, atau belum padahal dana besar sekali," katanya.

Hari Otsus di Papua ke 17 diperingati pada 21 November 2018 lalu. Momentum ini mestinya untuk mengevaluasi puluhan triliun dana Otsus yang selama ini dikucurkan ke Papua, mengapa belum berhasil menyejahterakan masyarakat asli Papua? Termasuk pendidikan yang masij jauh tertinggal di banding daerah lain di Indonesia. Evaluasi dana Otsus ini penting agar kegagalan dana Otsus tidak menjadi pemicu bangkitnya generasi Papua tertentu yang kembali menuntuk merdeka dimasa-masa mendatang. (Yol/Ant) 
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment