Natal Tanpa Yesus

Bagikan Bagikan
Tajuk Salam Papua

KETIKA kita diundang menghadiri pesta ulang tahun, tentu focus kita pada sosok orang yang yang berulang tahun. Ia disalami, diberi hadiah, dipeluk, dicium, diajak ngobrol, difoto, dikerjai, pokoknya semuanya ditujukan terhadap orang tersebut. Alangkah lucu dan janggalnya bila yang berulang tahun itu absen pada hari itu. Selain undangan kecewa dan penuh tanda tanya, tentu saja suasananya tidak menyenangkan.

Perayaan Natal juga demikian, sering kita melihat bahwa karena kesibukan di dalam mempersiapkan acara maka Tuhan Yesus yang lahir  telah dikesampingkan. Pernah saya mendengar ada kelompok Panitia Natal mengatakan kalau di dalam acara Natal itu tidak perlu menyampaikan firman Tuhan, yang penting acaranya meriah, ada tari-tarian dan makan-makan. Nah kalau sudah demikian apa makna Natalnya lagi, apakah kita mengerti sungguh pengertian dari Natal itu?

Kata Christmas (Hari Natal) berasal dari kata Cristes maesse, frase dalam Bahasa Inggris yang berarti Mass of Christ (Misa Kristus). Sering kali kita perhatikan di dalam kartu natal kata Christmas disingkat menjadi Xmas. Tradisi ini diawali oleh Gereja Kristen kuno, yakni di dalam bahasa Yunani, X adalah kata pertama dalam nama Kristus (Yesus). Huruf ini sering digunakan sebagai simbol suci. Natal adalah hari raya umat Kristiani untuk memperingati hari kelahiran Yesus Kristus.

Tidak ada yang tahu tanggal berapa tepatnya hari lahir Kristus, namun kebanyakan orang Kristen memperingati Hari Natal pada tanggal 25 Desember. Nah, kalau di dalam memperingati hari kelahiran Kristus, tanpa Kristusnya kan aneh, namun kenyataannya banyak terjadi di mana-mana. Ketika Natal dirayakan yang ada hanya hura-hura, makan-makan, bahkan mabuk-mabuk, padahal sesungguhnya di dalam Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kelahiran Yesus merupakan kelahiran seorang raja yang membawa Damai Sejahtera di bumi.

Kelahiran Yesus merupakan kelahiran yang ajaib dan sudah dinubuat sejak dahulu kala oleh para nabi. Jadi Yesus yang lahir itu adalah Mesias yang diurapi dan juga disebut sebagai Imanuel atau Allah menyertai kita. Di dalam Mikha 5:1 juga sudah disebutkan bahwa Mesias itu akan lahir di Kota Betlehem. Para ahli Taurat dan imam-imam segera saja memberitahukan peristiwa ini kepada raja yang berkuasa pada waktu itu yakni Herodes perihal kelahiran Mesias ini. 

Apa bedanya perayaan Natal yang dilakukan oleh orang-orang di luar gereja dengan perayaan Natal orang-orang percaya? Satu-satunya perbedaan yang paling mencolok adalah Tuhan Yesus itu sendiri. Bagi orang di luar sana perayaan kelahiran Yeus boleh diartikan sebagai bisnis, politik atau hura-hura, namun bagi orang percaya perayaan Natal adalah suatu perayaan yang memproklamirkan ke dunia bahwa Yeus sudah lahir ke dunia ini dan Dia diutus untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa.

Allah itu seperti Bapa kita saja yang tidak rela mencelakakan anak-anaknya, bagaimanapun bejatnya manusia masih ada kesempatan yang terbuka bagi mereka untuk menyelamatkan diri. Itulah sebabnya maka kita tidak akan heran apabila di dalam kitab Injil Yohanes 3 : 16 menuliskan, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Natal yang dirayakan orang-orang percaya adalah berita suka-cita, kabar kelahiran Tuhan Yesus ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan dosa ini membutuhkan Yesus untuk menyelamatkan kita. Hidup manusia begitu terbatas di dunia ini, ia butuh suatu oknum yang mempunyai kuasa tidak terbatas untuk menyelamatkan mereka.

Berita Natal adalah berita suka-cita, sebab malaikat-malaikat pada waktu  itu memproklamirkan kabar kesukaan, sehingga mereka bernyanyi memuji-muji dan memuliakan Tuhan.  Sebagai orang-orang percaya juga demikian, bayi Yesus saat ini sudah tidak ada di kandang domba lagi, karena waktu dan keadaan serta proses yang berlalu, bayi Yesus telah bertumbuh menjadi dewasa dan mati di atas kayu salib serta bangkit kembali pada hari ke tiga. Karena itu, yang paling penting adalah tatkala peristiwa Natal kita rayakan, biarlah Yesus itu juga lahir di dalam hati kita masing-masing, sehingga memperbaharui hidup kita.

Natal tanpa Yesus yang lahir di dalam hidup kita hasilnya adalah sia-sia belaka, itu sama dengan merayakan ulang tahun kita; secara tidak langsung ingin mengingatkan kita bahwa umur kita di dunia ini berkurang satu tahun. Namun Natal yang menghadirkan Tuhan Yesus, walaupun satu tahun berlalu dan umur kita berkurang satu di dunia ini, namun kita memperolah hidup kekal bersama Tuhan Yesus di surga. Biarlah kita semua disadarkan bahwa ketika kita memperingati Natal, sungguh-sungguh kita memperingati Yesus yang lahir ke dunia ini yang menyelamatkan umat manusia dari dosa dan sampai saat ini Yesus tetap masih hidup. Dengan demikian  kita rela diubahkan oleh-Nya supaya menjadi lebih sempurna. (Saumiman Saud/Hamba Tuhan di Gereja Injili Indonesia San Jose, California, USA)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment