Papua Surga Kecil Terusik Aksi KKSB

Bagikan Bagikan
Tajuk Salam Papua
AKSI penembakan brutal dan pembunuhan sadis yang dilakukan kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) di Papua hampir terjadi  dalam beberapa tahun terakhir ini sejumlah daerah di Papua. Salah satu aksi penembakan terlama yang diduga dilakukan KKSB terjadi di area tambang PT Freeport Indonesia (PTFI). Aksi ini menelan sejumlah korban jiwa, baik itu meninggal dan luka-luka. 

Dua aksi terakhir terjadi akhir Maret hingga awal April 2018, dimana KKSB menguasai Kampung Waa Banti Distrik Tembagapura dan membakar gedung SD Inpres, SMP Negeri, Rumah Sakit Waa Banti dan puluhan rumah penduduk. Sampai sekarang baru gedung SD dan SMP yang siap dibangun. Sementara gedung rumah sakit dan rumah penduduk direncanakan dibangun tahun 2019.  Peristiwa tersadis dan tidak berperikemanusian juga terjadi pada April 2018, dimana diduga KKSB melakukan penyanderaan terhadap sejumlah guru di Aroanop. Seorang guru perempuan bahkan  dilaporkan mengalami pelecehan seksual.

Aksi KKSB di Nduga diawali pada Juni lalu. KKSB menembaki pesawat Trigana Air jenis Twin Otter yang disewa Korps Brigade Mobil (Brimob) ketika sedang mendarat. Setelah itu, kelompok menyerang warga di Kenyam.  Tiga korban tewas yang ditembak KKSB adalah Margaretha Pali (28), Hendrik Sattu Kola (38), serta Zainal Abidin (20). Margaretha tewas ditembak di bagian kepala dan suaminya, Hendrik, tewas akibat tembakan di bagian perut. Arjuna Kola (6) putra dari Margaretha dan Hendrik juga mengalami luka-luka terkena sabetan parang di pelipis kiri nyaris ke hidung.

Pada Agustus 2018, lima anggota TNI yang mengawal tim survey ‘Papua Terang’ terluka dan tiga pucuk senjata api dirampas KKSB di Kampung Kinou, Distrik Wagemuka Kabupaten Paniai. Aksi penyanderaan warga sipil  juga dilakukan KKSB di Kabupaten Puncak Papua, pada November 2018. lalu. Aksi penyanderaan ini hanya berlangsung sehari, setelah Pemkab Puncak membayar uang tebusan kepada penyandera.

Pada Desember 2017, KKSB menggangu pembangunan Jalan Trans Papua yang berada di wilayah Kecamatan Mugi, Kabupaten Nduga. Satu orang operator excavator bernama Yovicko Sondak (34) tewas tertembak dan satu anggota Denzipur 10/KYD bernama Prada Didimus Abindodifu yang diperbantukan untuk membangun Jalan Trans Papua mengalami luka-luka.

Pada refleksi semester I tahun 2018 di Mapolda Papua di Jayapura, Kapolda Papua saat itu Irjen Pol Boy Rafli mengatakan, selama medio 2008-2018 tercatat 30 anggota polri dilingkungan Polda Papua meninggal akibat aksi penembakan KKSB.  Tak hanya menewaskan 30 anggota Polri, KKSB juga menciderai 57 anggota Polri. Sedangkan warga sipil yang tewas ditembak KKSB tercatat sebanyak 78 orang dan 117 orang mengalami luka luka.

"Anggota polri yang tewas akibat KKSB itu termasuk dua anggota Polres Puncak Jaya yang ditembak saat melaksanakan pengamanan pilkada gubernur di Distrik Torere," kata Irjen Pol Boy Rafli , Selasa (3/7/2018). Ia menambahkan, anggota polri yang meninggal akibat KKSB paling banyak terjadi di kawasan pegunungan seperti Puncak Jaya, Puncak dan Mimika.

Belum semua aksi kekerasan dan kebrutalan sadis KKSB disebut dalam tulisan ini. Namun aksi-aksi KKSB ini kini mengusik Tanah Papua yang dijuluki ‘surga kecil yang jatuh ke bumi.’ Sebagai surga kecil, sebenarnya tidak hanya menggambarkan soal kekayaan alam berlimpah yang dimiliki, termasuk ‘sungaimu mengalirkan emas.’ Tapi mestinya juga seluruh warga Papua hidup aman, nyaman, damai, bahagia dan sejahtera.

Papua juga dijuluki sebagai Zona Damai. Tapi aksi-aksi kekerasan ini membuat Papua kini tidak hanya ‘surga kecil’ tapi juga, maaf kalau kini disebut juga ‘neraka kecil’ akibat ulah KKSB. Tidak hanya ‘sungai-sungaimu mengalirkan emas’, tapi kalau benar ada pekerja yang ditembak mati oleh KKSB pada Sabtu (1/12) di kali Yigi dan kali Aurak Distrik Yall Kabupaten Nduga, maka kini juga didua kali tersebut ‘mengalirkan darah’ dari puluhan pekerja tersebut.

Selama ini selalu ada pertanyaan-pertanyaan seperti apa yang salah di Papua? Siapa yang salah? Mengapa rakyat Papua mayoritas masih miskin dan Papua menjadi juara satu termiskin di Indonesia? Mengapa sampai saat ini KKSB masih terus beraksi? Mengapa juga Papua menempati posisi pertama jumlah HIV-AIDS tertinggi di Indonesia? Mengapa semua ini terjadi? Dan siapa yang harus bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sudah lama didengungkan. Namun sampai saat ini gampang-gampang susah mendapatkan jawaban yang pasti. Kalau pun ada jawabannya, tetap saja masih menimbulkan pertanyaan lagi karena alasan dan dasarnya berbeda-beda satu sama lain. Karena itu, sampai kapan semua permasalahan di Papua akan berakhir, jawabannya tidak ada yang tahu. (Yulius Lopo)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment