Sampai Kapan Pemkab Mimika Biarkan Warga Waa Banti Hidup Tanpa Rumah?

Bagikan Bagikan
Penyerahan dokumen Aspirasi.(Foto-Acik)

SEJAK puluhan rumah warga Waa Banti dan Kimbeli dibakar hingga rata tanah oleh Kelompok Kriminal Separatis Bersenjata (KKSB) pada 24 Maret hingga awal April 2018 lalu, terdapat ratusan warga yang terpaksa tinggal mengungsi di rumah kerabat atau keluarga dekatnya. Akibatnya dalam satu rumah atau honai bisa dihuni lebih dari tiga keluarga. Tentu ini tidak sehat dan tidak manusiawi.

Dan sudah lebih dari delapan bulan tokoh masyarakat dan warga terus menerus menyampaikan aspirasinya agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika segera membangun kembali rumah yang dibakar tersebut, tapi sampai awal Desember ini belum ada tanda-tanda bahwa kerinduan warga yang  sangat tersebut akan terjawab.

Sampai awal Desember ini baru ada tanda-tanda gedung SD Inpres dan SMP Negeri Banti yang juga dibakar KKSB, siap dibangun. Itu pun menggunakan dana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI. Sementara rumah sakit (RS) Waa Banti, juga senasib dengan rumah warga, belum jelas kapan akan dibangun kembali. Pada hal masyarakat Waa Banti dan sekitarnya selama ini sangat tertolong dengan kehadiran rumah sakit yang sebelumnya dibangun PT Freeport Indonesia (PTFI) itu dan dikelola oleh Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme Kamoro (LPMAK).

Pertanyaan saat ini adalah Sampai kapankah Pemkab Mimika membiarkan ratusan warga Waa Banti korban KKSB tersebut hidup tanpa rumah? Sampai kapankah mereka terus dibiarkan tinggal berhimpitan di rumah kerabat atau keluarga dekat?  Sampai kapankah permintaan tokoh masyarakat dan masyarakat agar rumah mereka, juga rumah sakit Waa Banti dibangun mendapat jawaban dari pemerintah?

Seperti pernah diberitaan media ini, melalui sejumlah tokoh masyarakat, warga bersuara meminta Pemkab Mimika memperhatikan kesusahan mereka selama ini.  Permintaan diantaranya datang dari tokoh masyarakat Banti yang juga tokoh agama, Pdt. Hengki Magal. Tokoh ini sudah sejak awal kejadian menyampaikan permintaan tersebut  kepada sejumlah pejabat negara yang berkunjung ke Banti untuk melihat langsung kerusakan rumah warga, rumah sakit Waa Banti dan gedung sekolah.

“Pembangunan perumahan masyarakat yang paling utama, baru yang kedua sekolah dan rumah sakit,” kata Hengki Magal kepada wartawan di Kampung Banti, Sabtu, 14 Juli 2018.

Pernyataan yang sama sebelumnya disampaikan Kepala Kampung Waa-Banti, Yohanes Jamang. Ia meminta pemerintah tidak hanya membangun gedung sekolah dan rumah sakit, tapi juga rumah warga yang dibakar KKSB.

Permintaan terbaru dari tokoh masyarakat Waa Banti dan Kimbeli disampaikan langsung dalam pertemuan bersama Asisten Bidang Pemerintahan, Setda Mimika Damianus Katiop di Lantai III Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Mimika, Kamis, 8 November 2018.

“Tuhan kasih waktu kepada kami untuk datang ke Kantor Puspem dan meminta perhatian langsung dari Pemkab. Kami sangat heran karena sampai saat ini Pemkab sama sekali tidak meninjau langsung untuk melihat perumahan warga, gedung sekolah dan rumah sakit  yang telah luluh lantak dibakar KKSB,” kata Tokoh Masyarakat Banti II, Joni Magal dalam pertemuan yang juga dihadiri Kapolsek Tembagapura, AKP Hermanto, SH,SIK, Perwakilan Danramil Tembagapura, S. Wutwensa, Vice President CD PT Freeport Indonesia (PTFI), Nathan Kum dan Kepala Distrik Tembagapura, Marthinus Nuboba.

Menurut Joni Magal, di daerah lain di Indonesia setiap ada kejadian bencana yang menimpa masyarakat,  Pemerintah setempat langsung merespon dan memberi bantuan sebagai solusi nyata untuk warga yang menjadi korban. Karena itu  ia meminta Pemkab Mimika segera membangun kembali rumah warga, sekolah dan rumah sakit  untuk warga Waa Banti, Kimbeli dan Opitawak.

“Pemkab itu tuan rumah di Mimika. Bukan PT Freeport Indonesia, karena PT Freeport itu  perusahaan.  Tapi kenapa malah PT Freeport yang lebih memperhatikan kami masyarakat?”  tanya Joni.

Sementara Tokoh Masyarakat Banti II, Tomy Jamang mengatakan pasca peristiwa nahas itu, semua kepala kampung telah melakukan pendataan seluruh harta benda yang menjadi korban atau kerugian. Hasil pendataan ini juga telah berkali-kali disampaikan secara lisan dan melalui media massa. Selain itu juga dibuatkan dalam bentuk dokumen khusus berisi aspirasi untuk diberikan ke Pemkab Mimika.

Tomy menegaskan, Pemkab merupakan orang tua dan Kantor Pusat Pemerintahan (Puspem) Mimika merupakan honai untuk menyampaikan keluhan dan menyelesaikan berbagai persoalan. Namun sangat disayangkan tidak adanya perhatian dari Pemkab Mimika selama ini.

“Saya  selaku tokoh masyarakat sudah melaporkan langsung kepada Kepala Distrik, Kapolsek dan Danramil untuk persoalan ini. Makanya kami sepakat untuk buatkan dokumen khusus aspirasi dan diserahkan langsung ke Pemkab Mimika, dengan harapan ada perhatian khusus kepada tiga kampung ini,”  kata Tomy.

Sedangkan Kepala Kampung Banti I, Yohanis Jamang  mengatakan pembakaran yang  dilakukan KKB telah melumpuhkan semua sektor. Saat ini banyak warga yang masih hidup satu atap karena rumah pribadi telah dihancurkan.

“Kami mempunyai pemerintah di Mimika, jadi kami mau mengharapkan kepada siapa kalau bukan pemerintah,” kata Yohanis.
Kepala Kampung Opitawak, Siprianus Omabak mengatakan masalah yang tercantum di dalam dokumen aspirasi yang disampaikan ke Pemkab Mimika tidak menggambarkan secara detail keadaan nyata di lapangan.

“Sebetulnya keadaan nyata di kampung  jauh lebih parah dari yang ada dalam dokumen itu. Jadi tolong ini diperhatikan oleh Pemkab Mimika,” kata Siprianus.

Kapolsek Tembagapura, AKP Hermanto, SH,SIK, mengatakan kedatangan kepala kampung dan tokoh masyarakat Tembagapura ini dikarenakan adanya janji dari Pemkab mengunjungi Kampung Waa Banti. Tapi hingga saat ini janji tersebut belum terpenuhi.

“Pada dasarnya Kepolisian hanya mengawal seluruh kepala kampung dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya kepada Pemkab Mimika. Kami datang bersama Pihak Govrel dan CLO PTFI supaya kita bisa memastikan apa kelanjutan dari Pemkab Mimika untuk masyarakat di Banti. Kami harapkan aspirasi masyarakat Banti ini segera ditindaklanjuti,” kata AKP Hermanto.

Sementara Kepala Distrik Tembagapura, Marthinus Nuboba mengatakan, setelah  gedung sekolah, rumah sakit dan rumah warga dibakar KKSB, para tokoh masyarakat telah melakukan pendataan yang dilengkapi dengan dokumentasi dan disampaikan ke pemerintah, tetapi hingga saat ini belum ada perhatian dari Pemkab.

“Kami harap aspirasi yang disampaikan kepala kampung dan tokoh masyarakat Banti  ini mendapat perhatian khusus Pemkab Mimika. Kami harap Pemkab Mimika memiliki hati untuk membangun kembali kampung masyarakat yang telah hancur itu,” kata Marthinus.

Menanggapi aspirasi  ini, Asisten Bidang Pemerintahan, Setda Mimika, Damianus Katiop mengatakan sewaktu Wakil Bupati Mimika Yohanes Bassang menjabat selaku Plt Bupati, telah menekankan agar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBDP) tahun 2018, semua difokuskan untuk pembenahan di Banti. Namun karena secara nasional ditetapkan tidak ada pembahasan APBDP, maka anggaran tersebut akan didorong ke APBD tahun 2019.

“Saya tahu perjuangan Kepala Distrik Tembagapura selama ini. Dan terakhir beliau datang membawa satu dokumen terkait dengan kondisi perumahan di kampung-kampung di Tembagapura. Dan kami sudah buatkan satu dokumen khusus semua laporan itu, karena semua telah terdata dengan baik,” kata Damianus.

“Kami akan rumuskan semua aspirasi yang disampaikan dan akan kami bahas bersama Sekda dan para asisten lainnya untuk disampaikan ke Bupati Mimika. Mudah-mudahan Bupati bisa mengunjungi Kampung Banti dan memberikan penanganan lebih lanjut,”  kata Damianus.
Sementara Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Mimika, Petrus Lewa Koten mengatakan Pemkab seharusnya meminta maaf karena kurang memperhatikan masyarakat Banti.

“Memang kami sudah berupaya melakukan pertemuan bersama, tetapi jujur kami tidak bisa memberikan keputusan, karena kami tahu yang diinginkan masyarakat adalah agar bupati yang langsung turun tangan. Keinginan dari bapak-bapak semua agar bupati segera ke Banti akan kami sampaikan,” kata Petrus. (Yol/Acik)
Bagikan ke Google Plus Bagikan ke WhatsApp

0 komentar:

Post a Comment